Resume ke-12: Menjadi
Penulis Buku Mayor
Resume
Pertemuan Ke-12
Hari/ Tanggal:
Jumat, 6 Agustus 2021
Tema: Menjadi Penulis Buku Mayor
Narasumber: Joko
Irawan Mumpuni
Moderator: Mr.
Bams
Gelombang: 19
Nama: Irma
Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar
irmasuzilawati.blogspot.com
Malam ini adalah pertemuan ke-12 di Kelas
Belajar Menulis. Malam hari ini masih seputar penerbit mayor. Tepatnya “Menjadi
Penulis Buku Mayor”. Wah materi yang sungguh mengiurkan, dambaan bagi para
penulis. Narasumber yang luar biasa yang membawakan materi malam hari ini
adalah Bapak Joko Irawan Mumpuni. Mr.Bams sang moderator kondang, membersamai
Narasumber pada malam hari ini dengan begitu piawainya. Kepiawaian beliau sudah
tidak bisa diragukan lagi melekat pada dedikasi beliau yang begitu luarbiasa di dunia literasi. Untuk lebih mengenal sosok
dari Narasumber kita malam hari ini mari kita simak bersama link dibawah ini:
https://www.instagram.com/p/CLMPqPZDQnK/?utm_medium=copy_link
Adapun Indentitas singkat beliau adalah:
Sudah hampir 20 tahun beliau menghidupi dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di Indonesia membuat saya selalu bersemngat jika diajak berdiskusi seputaran Peberbitan dan penulisan buku.
Apa syaratnya agar tulisan kita bisa diterbitkan
oleh penebit mayor?
Sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti sekarang ini; orang hanya mengenal penerbit Mayor dan penerbit Minor, masing-masing punya pendapat masing-masing apa yang membedakan penerbit mayor dan penerbit minor. Namun semua pendapat itu merujuk pada satu kesimpulan yang pasti yaitu Jumlah terbitan buku pertahun penerbit mayor jauh lebih banyak dibanding penerbit minor. berapa jumlahnya? masing-masing punya pendapat sendiri.
Mengapa penulis merasa lebih bangga jika
karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor? Tentunya naskah karyanya akan
dikelola lebih profesional, penerbit mayor biasanya punya fasilitas lebih
baik, modal, percetakan, Sumber Daya Manusia dan jaringan pemasaran yang lebih luas.
Agar karyanya bisa masuk diterima
diterbitkan oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan
yang sangat ketat. Contoh di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk
bisa sampai 300 sd 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sampai dengan 60 judul saja.
Sisanya dikembalikan ke penulis atau ditolak.
Karena begitu sulitnya menembus penerbit
profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis
ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang saat ini penerbit seperti ini kita sebut dengan Penerbit Indie.
Naskah buku seperti apa yang bisa diterima dan diterbitkan oleh Penerbit Profesional seperti penerbit ANDI?
Tentunya adalah semua naskah buku yang bisa dijadikan buku lalu laris dijual.
Berikut ini adalah pengelompokan buku yang bisa dijual dipasaran:
Kelompok besar buku dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks, Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahsiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah disebut buku pelajaran disingkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI.
Sedangkan buku non teks adalah
sebaaliknya dan cenderung disebuat sebagai buku-buku populer karena memang
kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Namun dalam prakteknya pemakaian buku
oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun
buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari-hari.
Penerbit adalah lembaga profitable yang
mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga karyawan
sejahtera, komsumen puas dalam jangka waktu yg tidak terbatas. oleh karena itu
Penerbit boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai
bahan baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk
yang bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham
cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.
Ini adalah gambaran industri penerbitan secara lengkap, namun jika disederhanakan akan menjadi seperti ini:
Nah sekarang terjawab sudah naskah yang bisa diterima penerbit adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual.
Ini pembobotan penilaiannya:
Hindari tema-tema yang telah mati karena
Corona..
Ini adalah bidang bidang baru karena Corona, nah thema thema yang membahas
seputaran bidang inilah yang kemungkinan laku.
Selanjutnya jika thema telah bagus,
penerbit akan mengecek reputasi penulisnya, salah satu dapat ditelusuri dari
Google Schoolar seperti ini, perhatikan angka-angkanya.
Lalu apa pertimbangan penerbit dalam
menentukan oplah atau jumlah cetak, inilah dasarnya:
Seorang penulis yg telah berhasil tidak hanya mendapatkan kebanggaan-kebanggaan saja, tidak hanya kepuasan batin yang didapat tetapi juga reputasi, karir yg semakin baik dan tentunya uang. Dan inilah rinciannya:
Sekarang tinggal kita lihat diri kita, termasuk dalam kategori PENULIS IDEALIS (tidak butuh uang) atau PENULIS INDUSTRIALIS (yang harus mendapatkan uang saat menulis).Masuk dalam kwadran manakah kita? yang disukai penerbit adalah kwadran kanan atas yaitu IDEALIS sekaligus
INDUSTRIALIS.
Sebagai penutup Narasumber membagikan slide-slide berikut
ini sebagai perenungan dan motivasi:
Bila kita termasuk orang orang pandai, sayang kalau tidak menulis.
Narasumber bercerita tentang masalalunya yang kiranya bisa memotivasi kita semua.
"Saya adalah mahasiswa yg tergolong bodoh tetapi punya mimpi yang yang tinggi. Salah satu mimpi saya yang kuat adalah saya kepingin jadi orang yang terkenal. Nah salah satu cara adalah dengan menjadi penulis. Maka saya bersahabat dengan penulis yg sudah mapan. Saya bersedia membantu menyempurnakan tulisan beliau. Selanjutnya saya nulis bareng sama beliau sampai 4 judul buku hehe, nah buku ke 5 dst sudah pakai nama sendiri dan bahkan saya sering diajak menulis para pemula.
Karena rata2 buku yg saya tulis menjadi best seller, maka saya sangat disukai penerbit termasuk Penerbit ANDI. Saat Penerbit ANDI butuh Wakil Direktur yang tahu pasar buku, saya dipanggil untu ditawari posisi itu. saya terima tawaran itu. Jabatan wakil direktur saya jabat hanya 2 tahun lalu menjadi direktur selama 17 tahun. Mulai tahun kemarin saya tidak lagi diopersional Direktur, tetapi sudah masuk di Dewan Direksi."
Wow... sungguh pengalaman yang luar biasa. Pastinya perjuangan yang penuh ketekunan membuahkan hasil yang luar biasa.
Beliau menambahkan,
"...kuncinya banyak teman, suka mengalah, rendah hati, selalu merasa kurang pengetahuan. Teman teman semua. Semua berasal dari mimpi. Kejarlah mimpi itu, dengan menjadi penulis kita akan mendapatan segala yang kita inginkan. Menulis tidak mengenal usia. Ada banyak penulis bukunya menjadi best seller setelah penulisnya meninggal. Tentunya kita semua pernah baca kamus tulisan hasan sadeli ya. Sampai saat ini anak cucunya masih menikmati warisan royaltynya."
Semoga kebaikan beliau untuk berbagi ilmu malam ini akan membuka kebaikan-kebaikan yang datang bertubi-tubi. Dan semoga kesuksesannya akan menular kepada kita semua. Resume inipun bisa bermanfaat bagi pembaca semua.




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar