Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Jumat, 17 September 2021

Menulis Semudah Ceplok Telur

 


Judul: Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke: 30

Gelombang: 19

Hari/ Tanggal: Rabu, 17 September 2021

Tema: Menulis Semudah Ceplok Telur

Narasumber: Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H.

Moderator: Ms. Phia

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com


Rasanya baru kemarin kami bergabung di Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang ke-19 ini, dan nyatanya malam ini merupakan malam terakhir pertemuan kami. Sungguh tak terasa sang waktu mengiringi, pertanda hati begitu menikmati.  Polesan kompetensi dan tempaan latihan menulis memecut motivasi. Mencipta percaya diri, memberi ruang bagi kami melahirkan karya dengan semangat membara. Kenyamanan mengantarkan kami ke dalam balutan harmonisasi kekeluargaan di komunitas ini.

Kelas Belajar Menulis malam hari ini seperti biasa dibuka oleh sang Bloger Indonesia Omjay. Beliau mengatakan,

“Ada pertemuan dan ada perpisahan. Namun bukan berarti kita tak saling tegur sapa di dunia Maya. Jangan lupa blognya terus di-update sehingga kelak menjadi buku yg bermutu. Dari kumpulan tulisan di blog akan menjadi buku yang enak dibaca bila anda tahu caranya. Sebab menulis itu semudah ceplok telor.”

Senada dengan sapaan pembuka Omjay pada malam hari ini, tema yang akan dibawakan Narasumber adalah “Menulis Semudah Telur Ceplok”. Omjay menyerahkan acara pada moderator muda dan cantik yaitu Ms. Phia yang selanjutnya memandu membersamai Narasumber hebat di ruang kelas WAG malam ini.

Narasumber hebat tersebut adalah Dra. Lilis Ika Herpiana Sutikno, S.H. dari wilayah Indonesia timur. Orangnya memang tidak muda lagi. Tapi semangatnya selalu tinggi dan mengalahkan anak muda negeri ini. Terbukti dari soasial medianya yang selalu ter-update setiap hari. Sebab baginya menulis itu semudah ceplok telor.

Dari kelas Belajar Menulis PGRI ini nama beliau menjadi besar dan dikenal banyak guru-guru se-Indonesia. Kelas ini telah memberikan beliau inspirasi memberikan tongkat estafet kepada penulis muda berbakat dalam kelas mini di Nusa Tenggara Timur. Dengan nama KELAS WAG MBI (kelas belajar menulis pasti menjadi buku ber-ISBN).

Beliau mengajak kami berselancar maya tentang tayangan cerita singkat beliau hingga pada titik sukses saat ini melalui :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4208663415867356&id=100001712161927

http://www.guruinspirasintt.com/2021/07/wit-2020-buku-yang-membawa-keberkahan.html

http://www.guruinspirasintt.com/2021/07/tiga-profesor-dalam-satu-buku.html

Bu Lilis mengakui kalua beliau tidak terlalu aktif di blog, ternyata ada alasan tersendiri yang membuat beliau seperti itu,

“Ada sedikit trauma dalam diri saya, jika tulisan saya di curi orang dan di klaim menjadi karyanya. Seorang sahabat dalam kelas kita juga. Salah satu karyanya bahan untuk meraih gelar Doktor nya di bajak sahabat kita tanpa permisi dan mencantumkan sumbernya. Jelas saja teman saya shok. Saya mendengar bagaimana tangisannya dalam WA saya. sejak saat itu saya tak seaktif dulu lagi menulis di blog. Pada karya yang sudah saya bukukan barulah saya share di blog. "


Mengapa Menulis Semudah Ceplok Telur

Mari kita simak video dibawah ini: https://web.facebook.com/lilis.sutikno/posts/41312385

Dari video tersebut dapat disimak alasan-alasan menulis melalui pepatah “Pensil”:

1. Pensil Digerakkan Oleh Tangan Manusia

Mulailah dengan berdoa sebelum menulis, sebab ada tangan Tuhan yang selalu membimbing kita ketika kita menulis. Tulisan yang diawali dengan doa, akan menghasilkan ilmu yang bersumber dari hati nurani yang bersih. Tulisan yang keluar hati akan diterima oleh hati pula oleh pembacanya serta bermanfaat banyak kepada semua umat.

2. Ketika Pensil Tumpul Kita Perlu Meruncingkannya

Dalam menulis kita akan menemui banyak kesulitan, berjumpa pada penderitaan, dan kesusahan (khususnya yang baru pertama kali menulis). Kita perlu menajamkan pikiran kita. Ketika tumpul pensil harus kita raut dahulu, jika pikiran kita buntu tak ada ide maka beristirahatlah dan tutup buku/laptop kita. Pertajam pikiran dan bacalah buku (khususnya yang berhubungan dengan tulisan kita).

3. Penghapus

Ada penghapus untuk menghapus tulisan kita, ketika kita salah menulis.

Dalam hidup selalu ada kesempatan, jika kita melakukan kesalahan ada kesempatan untuk kita bertaubat. Begitu pula dalam menulis, kalau salah bisa di tipo dulu, lalu perbaiki agar menjadi baik dan sempurna. Tapi bukan berarti nulis hapus, nulis hapus, nulis hapus. Nanti ga akan selesai. Jika mengalami kebuntuan ide, matikanlah laptop kita, kita rileks dulu saja,  Lalu buka ke-esokan harinya untuk di revisi ulang.

4. Pensil Yang Digunakan Untuk Menulis Bagian Dalamnya

Manusia dilihat dari bagian dalam hatinya (Begitupun dengan pensil, yang tajam untuk menulis adalah bagian dalamnya). Dalam menulis gunakan hati untuk menggerakkan tangan kita, sebab menulis dari hati itu akan menghasilkan karya yang luar biasa. Selain itu, menulis dari hati akan diterima oleh pembacanya dari hati pula.

5. Setiap Tulisan Kita Akan Berdampak

Belajar dari pensil akan selalu meninggalkan goresan (selalu ada bekas tulisan pensil untuk itu tinggalkan dampak positif dalam hidup kita). Tinggalkan jejak dalam setiap tulisan kita dengan yang baik dan memberikan inspirasi kepada setiap pembacanya.


Langkah-langkah Menulis Versi Bu Lilis

1. Quote “Menulis Semudah Ceplok Telur”

Quote Narasumber dalam memberikan motivasi menulis kepada siapa saja yang memiliki cita-cita untuk menjadi penulis hebat. Yang intinya:

  • Bahwa menulis itu tidak sulit
  • Menulis itu sangat mudah
  • Semudah membuat ceplok telur
  • Pecahkan, telur yang tadinya bulat, bisa langsung dihidangkan di meja makan. Tanpa harus ribet membuatnya/ memasaknya.

2. Bergabung dalam komunitas menulis.

 

Mengapa Harus Menulis

1. Menulis Untuk Mengikat Ilmu

Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.”

Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)

Disini, ilmu di ibaratkan seperti hewan buruan (kijang) apabila tidak di ikat akan terlepas, begitu pula ilmu apabila tidak ditulis maka akan hilang atau tidak ingat dikarenakan daya ingat manusia terbatas.

2. Menulis Merupakan Sunnah Rasulullah SAW

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ

Qoyyidul ‘ilma bilkitabi  (Jagalah ilmu dengan menulis)

(Shahih Al-Jami’, No.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat.

Sebagai umat Islam perlunya kita membiasakan diri untuk belajar menulis, karena sahabat Rasulullah SAW juga menulis Al-Qur’an dan Hadits kemudian dibukukan.

3. Menulis Itu Sesuai Firman Allah SWT

Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka, dan Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanū iżā tadāyantum bidainin ilā ajalim musamman faktubụh,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Sumber:

https://tafsirweb.com/1048-quran-surat-al-baqarah-ayat-282.html

https://rumaysho.com/13457-beliau-pun-menyimak-dan-mencatat-ikatlah-ilmu-dengan-menulis.html

4. Dalam Permendikbud No. 23 tahun 2015.

Ditegaskan penumbuhan budi pekerti melalui gerakan literasi.

Lalu apa yang kita tuliskan agar semudah ceplok telur. Jangan kebanyakan berpikir apa yang akan di tuliskan, nanti malah pusing sendiri. Yang benar adalah tuliskanlah apa yang ada dipikiramu, tentang apa pun itu.

                                           

Bu Lilis mencoba meyakinkan kita bahwa “Benar-benar menulis itu semudah ceplok telur !!!”

Beliau menunjukkan contoh tentang Guru kita semua yaitu Bapak Wijaya Kusumah (Blogger Ternama Indonesia) atau Om Jay, yang tak bosan-bosan memberikan tauladan kepada kita. Salah satu tulisan Om Jay yang selalu menjadi rujukan saat beliau menjadi Narasumber dan menginspirasi beliau adalah:

“Maaf Saya Lupa Menulis”, dalam blog di bawah ini :

https://www.gurupenggerakindonesia.com/maaf-saya-lupa-menulis/

 

Narasumber mengintruksikan moderator untuk membuka sejenak setelan grup agar peserta dapat berinteraksi secara langsung dan beliau menanyakan,

“Apakah yang membuat Bapak/Ibu sulit menulis?”

Jawaban peserta: 

  • Kadang masih suka ada rasa kurang percaya diri dg tulisan sendiri. 
  • Takut salah.
  • dll

Narasumber memaparkan jawabannya dengan menceritakan pengalamannya dulu yang dapat memotivasi  para peserta. Beliau bercerita kalau beliau juga dulu kurang percaya diri, suka merasa takut salah. Meskipun demikian tetap saja beliau menulis. Beliau kumpulkan sampai akhirnya menjadi buku yang Best Seller.


Akhirnya Narasumber memberikan closing statement nya :

“Setiap kita pasti bisa menjadi penulis hebat, setiap kita akan matang berbeda, ikuti prosesnya dan tetap berkomitmen dalam menulis”. Beliau mengakhiri pertemuan malam hari ini dengan sebuah tayangan video yang inspiratif.

Materi yang luar biasa pada malam hari ini berakhir. Semoga resume ini bermanfaat bagi kita yang membacanya. Terimaksih.

Rabu, 15 September 2021

Kiat Menulis Cerita Fiksi

 



Judul: Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke: 13

Gelombang: 19

Hari/ Tanggal: Senin, 9 Agustus 2021

Tema: Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber: Sudomo, S.Pt

Moderator: Aam Nurhasanah, S.Pd.

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com

Malam ini kita akan mendapatkan materi tambahan di pertemuan ke-13 dengan tema “Kiat Menulis Cerita Fiksi” Bersama seorang narasumber hebat, beliau adalah Bapak Sudomo, S.Pt. Nama panggilannya adalah Pak Momo DM. Beliau adalah salah satu alumni jebolan gelombang 16 yang telah sukses menulis buku resume dengan gaya cerpen atau  gaya fiksi.

Saat ini beliau mengajar IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat. Beliau mengatakan dirinya seorang pencinta formula fisika, gejala alam semesta, dan rangkaian kata. Itu karena beliau seorang sarjana peternakan yang mengajar IPA, tetapi juga mencintai dunia menulis fiksi.

Moderator handal yang akan membersamai beliau pada malam hari ini adalah ibu Aam Nurhasanah, S.Pd. Sang moderator ramah, baik hati dan dikenal sebagai salah seorang sosok motivator bagi para penulis pemula.

Untuk lebih mengenal sang Narasumber, mari kita lihat sejenak link blog beliau dibawah ini:

https://bianglalakata.wordpress.com/2020/11/18/pahlawan-literasi-harapan-besar-dari-hal-kecil/

Karya-karya fiksi Narasumber, baik yang solo maupun antologi di penerbit indie maupun mayor bisa Bapak/Ibu di tautan berikut, ya linktr.ee/sudomo

Dibawah ini adalah materi malam ini, yaitu Kiat Menulis Cerita Fiksi yang dipaparkan berupa Power Point:



























Dari materi tersebut saya akan mengupas beberapa materi saja. Hal ini karena pada dasarnya materi lain sudah sangat sering kita baca dan bahkan pahami.

Pertama, yaitu mengapa kita harus menulis fiksi? Ini penting karena menjadi dasar bagi kita untuk belajar menulis fiksi. Alasan utama adalah salah satu materi dalam tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)  adalah Teks Literasi Fiksi. Artinya saat ini kita sebagai guru harus bisa menulis fiksi. Tujuannya agar mudah menyediakan soal latihan bagi murid kita.

Alasan berikutnya adalah dengan menulis fiksi akan bermanfaat dalam pengembangan profesi kita sebagai guru. Kumpulan cerita fiksi bisa dibukukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Novel termasuk kategori karya seni kompleks. Kumpulan cerpen bisa termasuk kategori karya seni sederhana.

Kedua, syarat menulis fiksi,  yaitu komitmen, riset, membaca karya fiksi, mempelajari KBBI dan PUEBI, memahami dasar menulis fiksi, dan menjaga konsistensi menulis fiksi.

Ketiga, bentuk-bentuk cerita fiksi, yaitu fiksimini, flash fiction, pentigraf, cerpen, prosa, novela, dan novel. Perbedaan terletak pada kompleksitas konflik cerita. Selain itu ada juga batasan kata dan ada juga yang menggunakan batasan paragraf.

Apa itu premis? Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi.

Keempat, unsur-unsur pembentuk cerita fiksi, yaitu tema, premis, alur/plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Dari sekian unsur ada premis yang mungkin baru bagi Bapak/Ibu.

Contoh premis: Seorang anak memiliki kemampuan sihir bersekolah di sekolah sihir yang harus melawan penyihir jahat demi kedamaian bumi.

Dari contoh jika dijabarkan adalah sebagai berikut:

  • karakter: anak
  • tujuan tokoh: kedamaian bumi
  • rintangan: melawan penyihir jahat
  • resolusi: belajar sihir

Kelima, kiat menulis fiksi.

  • Niat, terkait motivasi diri memulai dan menyelesaikan tulisan;
  • Baca karya orang lain, bahan referensi, gaya bercerita, menambah diksi
  • Ide dan Genre, terkait mencatat ide dan pilihan genre yang disukai dan dikuasai
  • Outline, terkait kerangka tulisan berdasarkan unsur-unsur pembentuk cerita fiksi
  • Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.
  • Menulis, terkait membuka  cerita, mengenalkan tokoh, menguatkan konflik, menggunakan pertimbangan logika cerita, susunan kalimat pendek dan jelas, pilihan kata, teknik show don't tell, dan ending yang baik.

Sebelum dibuka sesi tanya jawab, sang moderator meminta izin mendahului memberikan pertanyaan pada Narasumber yaitu:  

Bagaimana mengasah teknik show don't tell (menunjukan tapi tidak memberitahu)? Agak kesulitan untuk yang newbie saat ingin menulis cerpen.

Narasumber menjawab bahwa teknik melatihnya ya dengan terus mencoba menulisnya. Tentu pertama harus memahami teknik show don't tell terlebih dahulu. Sebagai contoh mudah bisa mulai berlatih dari kata sifat, misalnya sedih. Dengan teknik ini kita akan membangun suasana sedih tokoh tanpa harus menuliskan kata sedih.

Sebagai contoh:

Tehnik tellMira sangat sedih melihat jenazah ibunya.

Tehnik showDadanya terasa sesak, napas terasa tersekat di tenggorokan, terdengar isakan dibarengi dengan derai air mata yang tak kunjung usai sembari menatap tubuh wanita yang melahirkannya terbujur kaku di ranjang.

Dan dilanjutkan dengan sesi tanya yang lain. demikianlah materi luar biasa pada malam hari ini, semoga resum ini memberikan manfaat bagi para pembaca semuanya.








Blog Sebagai Sarana Pembelajaran

 


Judul: Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke: 29

Gelombang: 19

Hari/ Tanggal: Rabu, 15 September 2021

Tema: Blog Sebagai Sarana Pembelajaran

Narasumber: Nani

Moderator: Aam Nurhasanah, S.Pd.

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com

 

“Tak kenal maka tak sayang” itu ungkapan yang pas. Karena pada malam hari ini seorang Narasumber yang super keren menyapa pertama kali dengan meminta kami para peserta untuk membaca CV nya agar lebih mengenal beliau walau hanya melalui media sosial. Kesan pertama terpancar membuat diri terpana melihat foto-foto beliau, yang begitu gagah mengesankan wibawa. Beliau adalah Mayor Nani Kusmiyati, S.Pd. M.M., CTMP. Seorang Mayor TNI AL. Mari kita mengenal beliau lebih dekat melalui:

https://terbitkanbukugratis.id/nani-kusmiyati/09/2021/curriculum-vitae-nani-kusmiyati/

Membersamai beliau, seorang moderator kondang di Kelas Belajar Menulis PGRI. Sosok yang baik hati, ramah dan menyenangkan. Beliau adalah Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd.

Pada malam hari ini tepatnya kami berada di pertemuan yang hampir pamungkas, yaitu pertemuan ke-29, artinya satu pertemuan lagi, kelas ini akan berakhir. Narasumber membawakan materi “Blog Sebagai Sarana Pembelajaran”.

Mayor Nani merupakan alumni gelombang 8 di Kelas Belajar Menulis PGRI yang telah melahirkan karya 32 antologi dan 2 buku solo. Luar biasa bukan? Ternyata di Kelas Belajar Menulis PGRI ini  tidak hanya guru atau dosen saja yang menggemarinya, tetapi ada juga bidang-bidang lain diluar dunia Pendidikan.

Mayor Nani mengambil topik ini untuk mengingatkan bahwa menulis di blog seperti menulis dibuku catatan. Berbeda namun memiliki manfaat yang sama yaitu mengabadikan buah pikiran kita sendiri maupun pelajaran yang kita dapatkan dari sumber lain. Sumber lain itu dapat berupa buku, digital book, pengalaman orang lain maupun ilmu yang kita dapatkan dari guru kita, ketika kita masih belajar di bangku sekolah maupun kuliah.

Saat ini blog bukanlah sesuatu yang baru karena hampir setiap orang mengenal tentang blog. Bahkan bertahun-tahun yang lalu para penulis juga kaum akademia menggunakan blog untuk mengekspresikan ide, pengalaman dan ilmu yang di dapatkannya.

Bagi Mayor Nani blog sangat membantu mengingat kejadian-kejadian yang menarik perhatian baik dimasa lampau atau saat ini. Masa lampau dengan dibantu dokumentasi berupa foto-foto akan mudah mengemasnya kembali menjadi sebuah cerita true story. Sedangkan kejadian dimasa kini akan lebih mudah dituliskan di blog karena ingatan kita masih fresh untuk mengingatnya. Maka jika kita melihat kejadian yang menarik perhatian, maka segera tulislah di blog. Ketika hendak menulis, tidak selalu menggunakan laptop atau komputer, namun HP dapat membantu kita untuk menuliskan poin-point singkat tentang kejadian atau pengalaman yang menarik untuk diceritakan. Setelah memiliki waktu luang barulah kita menuliskannya dengan sangat baik.

Bagaimana jika kita benar-benar sibuk dan tidak ada waktu menuliskan poin-poin tersebut menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati? Dan bagaimana pula jika tiba-tiba tidak ada mood untuk menuliskannya? Saya yakin kondisi ini pernah kita alami. Jika kendalanya demikian, berusahalah untuk meluangkan waktu menuliskannya bertahap satu persatu poin beserta penjelasannya.

Blog dapat menjadi sarana belajar, terutama belajar menulis. Bagaimana menyusun kalimat yang benar dan menarik hingga menjadi paragraf per paragraf yang memiliki makna. Sebagai guru, blog dapat menjadi salah satu alternatif di dalam mengajar. Beberapa guru dapat menggunakan google form, whatsApp atau media lain namun jika media tersebut dapat saling melengkapi akan lebih bagus. Blog dapat menjadi suatu pilihan sebagai media pembelajaran. Bagi guru blog bisa sebagai media pembelajaran bagi dirinya sendiri dengan menuliskan inovasi di dalam mengajar baik berupa teknik mengajar maupun materi ajaran. Walau sebenarnya dapat di simpan di flash disk atau laptop. Kekurangannya jika laptop atau flasdisk terkena virus maka akan sangat riskan hilangnya materi ajaran.

Blog adalah salah satu media aman untuk menyimpan materi pelajaran kita karena tidak akan terkena virus. Yang terpenting tidak lupa nama blog dan password-nya. Jika lupa password masih bisa dipulihkan melalui email atau no Hp kita. Karena blog bersifat umum atau dapat dibaca orang lain, sebaiknya kita pandai memilih materi mana yang boleh dibaca orang lain. Jika guru memiliki soal-soal dan dianggap masih bersifat konfidensial atau rahasia, sebaiknya jangan disimpan di blog.

Ketika mengajar, Mayor Nani menggunakan blog untuk mengirimkan tugas-tugas ke siswa dan beliau meminta mereka menjawab di blog mereka dan mengirimkan linknya ke group. Beliau juga memberi tugas ke siswa lain untuk berkunjung ke blog teman-temannya minimal dua blog. Guru dapat memaksa siswanya untuk visit ke semua blog karena mereka juga mendapatkan banyak pekerjaan rumah dari guru berbeda. Hal ini terutama bisa dipraktekkan ketika pembelajaran via daring, selama pandemi ini. Jika di kelas sebenarnya dapat di praktekkan karena dapat menjadi mix method dalam mengajar.

Dalam bahasa Inggris, writing termasuk salah satu skill yang tersulit karena budaya menulis masih di dominasi kaum akademia atau pegiat literasi. Untuk siswa dengan level bahasa Inggris elementary, saya biasanya memberikan topik umum dan memberikan contoh cara mendeskripsikan topik tersebut. Saya juga menyarankan menggunakan google translate untuk membantu mengerti isi dari reading. Kemudian menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri.

Bagi yang benar-benar level begginer Mayor Nani meminta mereka membuat kalimat dalam bahasa Indonesia dengan berpedoman SPOK (Subyek, Predikat, Obyek dan Kata keterangan), baru mereka terjemahkan dengan google translate untuk mengetahui bahasa Inggrisnya. Mereka belajar menganalisa tulisan mereka sendiri juga memperhatikan kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya.

Bagaimana dengan siswa SD atau SMP? Menurut beliau mereka bisa memiliki blog namun dengan bantuan orang tua atau kakak-kakaknya yang mengerti blog dengan segala etika bersosial media. Jika perlu yang mengetahui passwordnya hanya orang tua atau kakak-kakaknya yang dapat diandalkan. Walau blog milik pribadi namun konten yang di tulis khusus untuk belajar atau menyampaikan pendapat yang tidak menyinggung siapapun.

Ibu Guru SD atau SMP yang pandai IT bisa membantu mereka dengan bertatap muka via daring atau bertemu langsung dengan para orang tua dan mengajarkannya cara membuat blog dengan etika bersosial media.

Guru bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat menggunakan blog untuk mengajarkan reading dan writing. Jika speaking dapat melalui zoom atau whatsApp call. Penggunaan blog sebagai sarana pembelajaran adalah salah satu alat untuk mengajar atau belajar. Silakan menggunakan media yang dianggap mudah untuk meningkatkan ilmu dengan berbagi kebaikan dengan murid-murid, sahabat atau orang lain.

Jika bapak ibu guru setiap saat menulis materi mengajarnya di blog, selama 1 bulan akan memiliki kumpulan materi yang kemudian dapat dibukukan. Maka jadilah sebuah buku pelajaran karya pribadi dengan tidak lupa mencantumkan referensinya.

Mayor Nani memberikan closing statement  ” Media yang sulit perlu dipelajari dan di takhlukkan jika memang media tersebut akan banyak memberikan manfaat. Jika dianggap tidak memiliki manfaat, sebaiknya ditinggalkan. Selamat mencoba dan have fun dengan blog.”

 

Semoga resume ini bermanfaat bagi para pembacanya.

 

 

Senin, 13 September 2021

Pengalaman Menang Penghargaan Buku dari Perpusnas


Judul: Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke: 28

Gelombang: 19

Hari/ Tanggal: Senin, 13 September 2021

Tema: Pengalaman Menang Penghargaan Buku dari Perpusnas

Narasumber: Mudafiatun Isriyah

Moderator: Ms. Phia

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com

 

Pengalaman merupakan guru yang paling baik. Pengalaman dalam meraih sebuah prestasi tentunya merupakan hal yang luar biasa bagi pada pelakunya. Sudah tergambar bahwa perjuangan yang luar biasa pulalah yang membawanya kedalam sebuah kondisi tersebut. Pada malam hari ini, Narasumber kita adalah seorang Pemenang penghargaan buku dari perpusnas. Beliau adalah Ibu Mudafiatun Isriyah yang biasa dipanggil Ibu Iis. Beliau adalah seorang dosen di Universitas PGRI Argopuro Jember. Beliau juga sedang menjalani S3 di Universitas Negeri Malang. Membersamai Narasumber pada malam hari ini adalah Ms. Phia sebagai moderatornya.

Sebuah prestasi yang luar biasa tersebut tidaklah lepas dari sebuah usaha yang gigih dan kiat-kiat yang tentunya menyertai prosesnya. Dan malam hari ini Narasumber membagikannya untuk kita semua.

Narasumber mengemas pertemuan kali ini dengan alur diskusi yang begitu hangat dan memicu semangat bagi para penyimaknya. Beliau menceritakan awal mula karir menulisnya dari kelas belajar menulis Omjay. Hingga akhirnya beliau menerima tantangan 7 hari menulis pada materi kuliah Bersama Prof. Eko Indrajit. Lahirlah sebuah buku dengan judul “Implementasi Social Presence dalam Bimbingan Online”.

Ide penulisan buku tersebut adalah bermula dari kebutuhan akan pembelajaran jarak jauh dengan memnfaatkan teknologi informatika. Karena beliau merupakan akademisi di bidang Bimbingan dan Konseling, maka materinya beliau kaitkan dengan bimbingan online dengan metode social presence. Dengan harapan terjadinya pembelajaran yang interaktif.

Menurut beliau langkah-langkah menulis hendaklah senantiasa menggunakan prinsip 5W dan 1H. Sebuah buku yang bermutu adalah yang memperhatikan konten yang baik, kekinian dan sebaiknya bersifat solutif bagi masyarakat.

Proses dalam membuat buku tersebut nyaris sempurna ternyata tidaklah mudah, Penerbit Andi melakukan tahapan-tahapan yang cukup panjang dalam mempercantik luar dalam dari buku tersebut. Sehingga tak aneh kiranya, buku tersebut menjadi buku yang sangat berkualitas sehingga layak jadi pemenang.

Langkah-langkah menulis dalam 7 hari:

Hari ke-1

Menerima tantangan dalam 3 detik dalam menentukan sebuah tema yang pas yaitu Bimbingan Online. Dibuatlah kerangka dalam satu malam. Mencakup diantaranya: Apa yang dimaksud bimbingan online; Apa yang melatarbelakagi perlunya bimbingan online; Peluang dan kesempatan yang dimanfaatkan; Persiapan yang harus dilakukan oleh praktisi Pendidikan; Keberadaab bimbingan online dalam dunia Pendidikan; alasan mendasar yang melatarbelakangi dunia Pendidikan memanfaatkan bimbingan online.

Hari ke-2

Bagaimana memanfaatkan e-learning dalam jaringan (daring) dalam pembelajaran jarak jauh yang bertumpu pada pembelajaran online.

Hari ke-3

Memperkenalkan aplikasi yang digunakan dalam bimbingan online. Yaitu dengan e-learning melalui website: youtube, whatsapp.

Hari ke-4

Bimbingan online melalui metoda social presence. Bagaimana social presence dapat memberikan manfaat bagi para penyimak dalam bimbingan online.

Hari ke-5

Teori dasar social presence: pengertian, hakikat, dumensi dan indicator, kerangka konsetual bombingan onlinedalam peningkatannya, tahapan-tahapan implementasi produk.

Hari ke-6

Hasil yang diperoleh adalah ketuntasan belajar

Hari ke- 7

Penyempurnaan: referensi, kelengkapan buku.

Setelah naskah selesai selanjutnya diajukan kepada Penerbit Andi. Penerbit Andi dengan begitu selektifnya membimbing, mengarahkan, mengedit dengan memakan waktu yang lumayan panjang sehingga menghasilkan buku yang kualitasnya tidak diragukan lagi.

Satu hal yang melekat dalam ingatan tentang pernyataan beliau, “ Kesibukan bukanlah halangan akan tetapi merupakan sebuah tantangan.” Semoga kata-kata tersebut senantiasa menjadi  pengingat bagi kita semua agar terus konsisten dalam menulis.

Semoga resume ini bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

 

Menjadi Penulis Buku Mayor

Resume ke-12: Menjadi Penulis Buku Mayor 

Resume Pertemuan Ke-12

Hari/ Tanggal: Jumat, 6 Agustus 2021

Tema: Menjadi Penulis Buku Mayor

Narasumber: Joko Irawan Mumpuni

Moderator: Mr. Bams

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com

Malam ini adalah pertemuan ke-12 di Kelas Belajar Menulis. Malam hari ini masih seputar penerbit mayor. Tepatnya “Menjadi Penulis Buku Mayor”. Wah materi yang sungguh mengiurkan, dambaan bagi para penulis. Narasumber yang luar biasa yang membawakan materi malam hari ini adalah Bapak Joko Irawan Mumpuni. Mr.Bams sang moderator kondang, membersamai Narasumber pada malam hari ini dengan begitu piawainya. Kepiawaian beliau sudah tidak bisa diragukan lagi melekat pada dedikasi beliau yang begitu luarbiasa  di dunia literasi. Untuk lebih mengenal sosok dari Narasumber kita malam hari ini mari kita simak bersama link dibawah ini:

https://www.instagram.com/p/CLMPqPZDQnK/?utm_medium=copy_link

Adapun Indentitas singkat beliau adalah:

Lihatlah judul dibawah! Judul yg bagus bukan? Sebuah judul yang menjadi impian bagi semua para penulis, apalagi bagi penulis pemula.

Sudah hampir 20 tahun beliau menghidupi dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di Indonesia membuat saya selalu bersemngat jika diajak berdiskusi seputaran Peberbitan dan penulisan buku.

Apa syaratnya agar tulisan kita bisa diterbitkan oleh penebit mayor?

Sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti sekarang ini; orang hanya mengenal penerbit Mayor dan penerbit Minor, masing-masing punya pendapat masing-masing apa yang membedakan penerbit mayor dan penerbit minor. Namun semua pendapat itu merujuk pada satu kesimpulan yang pasti yaitu Jumlah terbitan buku pertahun penerbit mayor jauh lebih banyak dibanding penerbit minor. berapa jumlahnya? masing-masing punya pendapat sendiri.

Mengapa penulis merasa lebih bangga jika karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor? Tentunya naskah karyanya akan dikelola lebih profesional, penerbit mayor biasanya punya fasilitas lebih baik, modal, percetakan, Sumber Daya Manusia dan jaringan pemasaran yang lebih luas.

Agar karyanya bisa masuk diterima diterbitkan oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan yang sangat ketat. Contoh di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa sampai 300 sd 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sampai dengan 60 judul saja. Sisanya dikembalikan ke penulis atau ditolak.

Karena begitu sulitnya menembus penerbit profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang saat ini penerbit seperti ini kita sebut dengan Penerbit Indie.

Naskah buku seperti apa yang bisa diterima dan diterbitkan oleh Penerbit Profesional seperti penerbit ANDI?

Tentunya adalah semua naskah buku yang bisa dijadikan buku lalu laris dijual. Berikut ini adalah pengelompokan buku yang bisa dijual dipasaran:

Kelompok besar buku dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks, Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahsiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah disebut buku pelajaran disingkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI.

Sedangkan buku non teks adalah sebaaliknya dan cenderung disebuat sebagai buku-buku populer karena memang kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Contoh buku teks

Contoh buku non teks.

Namun dalam prakteknya pemakaian buku oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari-hari.

Penerbit adalah lembaga profitable yang mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga karyawan sejahtera, komsumen puas dalam jangka waktu yg tidak terbatas. oleh karena itu Penerbit boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.

Ini adalah gambaran industri penerbitan secara lengkap, namun jika disederhanakan akan menjadi seperti ini:

Nah sekarang terjawab sudah naskah yang bisa diterima penerbit adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual. 

Ini pembobotan penilaiannya:


Ini alasannya mengapa diterima atau ditolak.

Ini datanya yang dapat kita lihat salah satunya dari Google Trend. dalam contoh grafik diatas kita mencoba uji apakah buku yang membahas tentang batu akik sedang dibutuhkan masyarakat saat ini tidak. nah ternyata tidak, buku batu akik laku sekitar tahun 2013 sd 2014. saat ini sudah tidak. Bisa kita cek sendiri tema-tema naskah yang telah ditulis.

Ini adalah contoh tema yang memiliki trend yang baik bisa dilihat dari grafiknya ; selalu tinggi, stabil dan tidak pernah menyentuh titik nol.

Hindari tema-tema yang telah mati karena Corona..

Ini adalah bidang bidang baru  karena Corona, nah thema thema yang membahas seputaran bidang inilah yang kemungkinan laku.

Selanjutnya jika thema telah bagus, penerbit akan mengecek reputasi penulisnya, salah satu dapat ditelusuri dari Google Schoolar seperti ini, perhatikan angka-angkanya. 

Lalu apa pertimbangan penerbit dalam menentukan oplah atau jumlah cetak, inilah dasarnya:

Penerbit akan menentukan oplah tinggi jika buku itu dinilai mempunyai market lebar dan lifesycle panjang. Life cycle panjang artinya buku itu akan tetap relevan dimasa yang akan datang dalam waktu yang panjang.

Seorang penulis yg telah berhasil tidak hanya mendapatkan kebanggaan-kebanggaan saja, tidak hanya kepuasan batin yang didapat tetapi juga reputasi, karir yg semakin baik dan tentunya uang. Dan inilah rinciannya:

Sekarang tinggal kita lihat diri kita, termasuk dalam kategori PENULIS IDEALIS (tidak butuh uang) atau PENULIS INDUSTRIALIS (yang harus mendapatkan uang saat menulis).

Masuk dalam kwadran manakah kita? yang disukai penerbit adalah kwadran kanan atas yaitu IDEALIS sekaligus INDUSTRIALIS.

Sebagai penutup Narasumber membagikan slide-slide berikut ini sebagai perenungan dan motivasi:

Bila kita termasuk orang orang pandai, sayang kalau tidak menulis.

Narasumber bercerita tentang masalalunya yang kiranya bisa memotivasi kita semua.

"Saya adalah mahasiswa yg tergolong bodoh tetapi punya mimpi yang yang tinggi. Salah satu mimpi saya yang kuat adalah saya kepingin jadi orang yang terkenal. Nah salah satu cara adalah dengan menjadi penulis. Maka saya bersahabat dengan penulis yg sudah mapan. Saya bersedia membantu menyempurnakan tulisan beliau. Selanjutnya saya nulis bareng sama beliau sampai 4 judul buku hehe, nah buku ke 5 dst sudah pakai nama sendiri dan bahkan saya sering diajak menulis para pemula.

Karena rata2 buku yg saya tulis menjadi best seller, maka saya sangat disukai penerbit termasuk Penerbit ANDI. Saat Penerbit ANDI butuh Wakil Direktur yang tahu pasar buku, saya dipanggil untu ditawari posisi itu. saya terima tawaran itu. Jabatan wakil direktur saya jabat hanya 2 tahun lalu menjadi direktur selama 17 tahun. Mulai tahun kemarin saya tidak lagi diopersional Direktur, tetapi sudah masuk di Dewan Direksi."

Wow... sungguh pengalaman yang luar biasa. Pastinya perjuangan yang penuh ketekunan membuahkan hasil yang luar biasa.

Beliau menambahkan, 

"...kuncinya banyak teman, suka mengalah, rendah hati, selalu merasa kurang pengetahuan. Teman teman semua. Semua berasal dari mimpi. Kejarlah mimpi itu, dengan  menjadi penulis kita akan mendapatan segala yang kita inginkan. Menulis tidak mengenal usia. Ada banyak penulis bukunya menjadi best seller setelah penulisnya meninggal. Tentunya kita semua pernah baca kamus tulisan hasan sadeli ya. Sampai saat ini anak cucunya masih menikmati warisan royaltynya."

Semoga kebaikan beliau untuk berbagi ilmu malam ini akan membuka kebaikan-kebaikan yang datang bertubi-tubi. Dan semoga kesuksesannya akan menular kepada kita semua. Resume inipun bisa bermanfaat bagi pembaca semua.