Semangat itu kadang begitu bergelora. Tetapi terkadang menemui lelah. Setumpuk aktifitas yang menuntut haknya atas diri. Menggoyahkan hati untuk tenggelam dalam bimbang, atas nama kewajiban. Prahara batin memang tak bisa dibendung. Tersadar diri akan kegoyahan yang belum sanggup terbendung. Pasang surut masih leluasa mengoyak raga untuk berupaya.
Masih dalam rebahku, perlahan kubuka ponsel pintar dalam genggaman. Ragaku seketika terbagun. Ekspresi kaget disertai senyuman kecil menandakan luapan rasa senangku. Aku bergumam lagi-lagi sambil mengerungkan keningku
"Alhamdulillah. Padahal aku tak terlalu serius kala itu. Hanya terdorong sebuah intuksi yang ku lakoni nyaris dipenghujung waktu. Dalam waktu semalam juga kubuat. Ternyata bisa"
Syukurku atas petunjuk-Mu. Aku menemukan jawaban dengan tidak membutuhkan waktu lama. Kado kecil itu berisi penyemangat yang sanggup mengokohkan keyakinan diri untuk menjemput sebuah konsistensi. Semoga itulah yeng terjadi. Aku bergegas berdiri menghampiri komputer di meja kerjaku. Langsung ku tuliskan sesuatu disana.
Bukanlah apa-apa dan bukan pula sesuatu yang luar biasa adanya. Hanya merupakan catatan sejarah lunturnya rasa tidak percayadiriku. Tak terpikir untuk menilai nominal harga dari sebuah kado kecil ini. Dan tak peduli kalau bagi orang lain ini bukan merupakan apa-apa. Tetapi bagiku kado ini datang disaat yang tepat, dikala aku membutuhkan sebuah penguat. Teringat sebuah analogi disaat aku nasihati anak-anakku untuk peka sosial,
"Kasihlah pengemis itu uang seribu rupiah dari sisa uang jajanmu, pasti dia akan sangat bahagia karena rasa hausnya bisa hilang dengan uang itu. Tetapi saat kamu berikan uang itu pada temanmu yang berada, mungkin dia akan menerimanya tetapi nilainya tidaklah jadi berharga karena uang dikantongnya saja sangat banyak."
Kado kecil itu lahir dari sebuah karya yang terlahir dari ketergesaan-gesaan. Puisi yang bertema 76 Tahun Indonesia Merdeka "Pendidikan dan Kemerdekaan"
Sang
Pengendali Zaman
Oleh
: Irma Suzilawati
Pekik
merdeka menyeruak ke seluruh penjuru nusantara
Rona
bahagia terpancar nyata dari wajah-wajah lusuh yang terbelenggu siksa dan lara
Membunuh
cekam, bungkam, keniscayaan, dan belenggu rantai kebodohan
Nyalakan
obor menerangi muramnya dunia pendidikan
Tujuh
puluh enam tahun sudah Indonesia merdeka
Kini
selancar dunia maya mampu menerobos dinding-dinding belahan dunia tanpa sekat
Bahkan
kekuatan teknologi sanggup memporakporandakan tabu dan sakral
Nalar
merupakan jawaban hakiki atas intelektualitas
Sosok
sang guru masa kini bersaing pesona dengan zaman
Internet
yang bersarang di gawai-gawai generasi muda tampil terdepan
Melayani
mereka tanpa batasan dan kelelahan
Menjelma
hambar bagai guru tanpa aroma didikan mental dan moral
Wahai
guru sang pengendali zaman
Tempatkan
teknologi itu dalam genggaman mereka
Nilai-nilai
karakter sejatinya menjelma menjadi perisai jati diri bangsa
Jargon
Merdeka Belajar ciptakan tatanan keseimbangan semesta
Kabupaten
Sukabumi, 14 Juli 2021
Hingga hadirlah kado kecil penyemangat itu.


