Resume ke -1: Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Resume Pertemuan ke -1
Tanggal 12 Juli 2021 Jam 19.00 WIB sd Selesai
Tema:Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Nara Sumber: Dra Sri Sugiastuti, M.Pd
Moderator: Aam Nurhasanah
Gelombang: 19
Nama : Irma Suzilawati, S.Sos., M.M _SMAN I Cikembar
irmasuzilawati1.blogspot.com
Tulisan ini merupakan resume
pertemuan perdana saya di kelas Belajar
Menulis Gelombang 19 yang diselenggarakan melalui WA Group. Pertemuan kali ini
sangat mengesankan dengan balutan kemasan yang begitu apik dan sangat menarik,
membuat kami sangat nyaman dan tidak bosan untuk mengikutinya. Acara dibuka langsung oleh bapak
Wijaya Kusuma yang akrab dengan sapaan Om Jay. Narasumber malam ini adalah Ibu
Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau biasa
di panggil Bu Kanjeng. Beliau seorang Penulis, Editor dan Motivator handal. Bu
Kanjeng merupakan salah satu tokoh idola saya yang mendampingi saya mewujudkan beberapa
antologi. Yang menjadi moderatornya adalah salah satu sosok yang memotivasi
saya juga di beberapa antologi saya yaitu Bu Aam. Materi pada pertemuan pertama
ini adalah “Menjadikan Menulis Sebagai Passion”.
Setelah mencermati paparan Bu Kanjeng yang
begitu berbobot dan sistematis, saya menyimpulkan kalau sajian materi tersebut merupakan modal awal yang bisa
dijadikan pijakan bagi para penulis, khususnya penulis pemula, agar bisa
menumbuhkan rasa percaya diri dan trik- trik yang bisa dijadikan acuan untuk
menulis. Ada beberapa hal penting yang disampaikan dari paparannya Bu kanjeng,
yaitu
1. Alasan logis mengapa kita harus menulis
2. Kendala
dan hambatan menjadi penulis
3. Prosedur menulis hingga jadi buku
4. Mempublikasikan atau mempromosikan buku
Saya sangat sepakat dengan tema yang di angkat
oleh Bu kanjeng yaitu “Menjadikan Menulis Sebagai Passion” dengan asumsi
bahwa hingga hari ini profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati
dan dihargai secara sosial. Disamping itu kemampuan menulis dipandang sebagai indikator
intelektualitas dan kematangan berpikir. Dua hal tersebut cukup menjadi alasan
logis mengapa kita harus menulis.
Sesungguhnya banyak orang yang menginginkan
menjadi penulis tetapi tidak semua orang bisa mewujudkannya. Adapun kendala dan
hambatan menjadi penulis diantaranya:
1. Merasa tidak berbakat menulis
2. Tidak memiliki ide
3. Tidak suka menulis
4. Tidak berani menerima kritik
5. Tidak memiliki waktu
Hambatan janganlah dijadikan alasan untuk kita
lantas menyerah. Justru harus dijadikan tantangan agar kita mau belajar. Hambatan
yang dominan bagi para penulis pemula adalah faktor internal, yaitu faktor yang
berasal dari dirinya sendiri. Peran motivasi yang diimbangi oleh etos kerja yang
tinggi memiliki peran dalam mewujudnya suatu karya tulis. Mengikuti kelas
belajar menulis inipun merupakan salah satu cara kita menumbuhkan motivasi
diri, karena dengen bergabung di grup tersebut, semua pihak bisa saling bersinergi
dan saling memberikan motivasi. Motivasi yang sudah terbangun dalam diri dari
manapun itu sumbernya, dapat memunculkan etos kerja yang diharapkan untuk dapat
mewujudkan keinginan kita yaitu membuat karya berupa buku . Disamping itu juga menjadikan menulis sebagai passion.
Menurut Bu kanjeng memulai dari kata “Why”, mengapa
kita menulius?. Ada banyak alasan yang bisa
dijadikan jawaban atas hal tersebut, dan itu dikembalikan pada orientasi dari
diri masing-masing penulis. Kata “Why” itu lebih filosofis dan
berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia.
Beberapa alasan mengapa kita menulis itu
sangatlah beragam:
1. Orientasi Material: Tujuannya mengejar
uang, bisa dari royalti, fee pembicara dan semacamnya. Apalagi jika
berhasil menulis novel yang sampai
diangkat ke layar lebar.
2. Orientasi Eksistensi Tujuannya mengejar
popularitas dan pengakuan Dari masyarakat
3. Orientasi Personal Bersifat lebih pribadi
dengan tujuan untuk Mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, Pengalaman atau
kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.
4. Orientasi Sosial Tujuannya untuk
mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban.
5. Orientasi Spiritual Tujuannya untuk
beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan
baik.
Lalu kata “How” Bagaimana cara menulis?. Kata “How” ini lebih bersifat teknis dan
jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Dengan banyak
berlatih seseorang akan jauh lebih terampil dalam menguasai sesuatu, begitupun
dengan menulis.
Ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan
untuk menjadi seorang penulis yang baik:
1. Read: membaca merupakan salah satu modal utama
bagi penulis, baik buku yang bersifat general (umum) maupun yang spesifik
(misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi).
2. Discuss: mendiskusikan dan merenungkan isi
buku bisa memunculkan ide dan gagasan disaat terjadi dialektika bahan bacaan
yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri.
3. Look and feel: harus sering mengamati dan
merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita. Baik secara
langsung mau pun dari apa yang kita lihat dan baca di media (TV, radio, internet,
medsos dll)
4. Socialize : harus banyak menyerap pengetahuan
dan pengalaman dari kisah orang lain. Disamping itu juga harus memperluas pergaulan
dan area sosialisasi agar membuka cakrawala berpikir kita.
Selanjutnya Bu
kanjeng memaparkan tentang kegiatan-kegiatan
apa saja yang perlu dilakukan dalam proses menulis ini, antara lain:
1. Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide
Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian
gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap
kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk
mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah
melalui brainstorming.
2. Menentukan Tujuan,
Genre dan Segmen Pembaca
Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu
menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca.
Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna
tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan
akan marketable.
3. Menentukan Topik
Penentuan topik dilakukan setelah penulis
menetapkan untuk apa menulis, genre apa yang dipilih dan siapa sasaran
pembacanya. Misalnya, tujuan menulis untuk memberikan informasi yang benar
tentang kesehatan. Genrenya tulisan populer. Jika sasarannya adalah orang tua (manula), maka penulis bisa menentukan tulisan misalnya dengan topik “Hidup sehat di usia senja”.
4. Membuat Outline
Outline merupakan bentuk kerangka tulisan. Kerangka
tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup
dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan
yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.
5. Mengumpulkan Bahan Materi/Buku
Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk
memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau
gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan
bacaan yang dikumpulkan sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.
Setelah melakukan kelima kegiatan tersebut, lakukanlah kegiatan
selanjutnya yaitu menulis. Lantas bagaimana
cara kita menulis, Bu Kanjeng menegaskan “ya lakukan saja”. Menurut beliau, penulis
pemula harus memiliki ketekunan dan
kesabaran, jangan menginginkan langsung sempurna dan jangan terlalu idealis.
Dalam proses menulis juga ada baiknya memperhatikan: time target, discipline, comfortability, facilities, mood booster.
Menulis bisa menjadi hal yang luar biasa
manakala buku kita menjadi best seller. Kita bisa popular, diundang ke berbagai
acara, memiliki relasi yang luas, royalty dan perekonomian kita mapan. Menulis
juga bisa dimaknai sebagai amal shaleh yang tidak pernah terputus
sepanjang masih dibaca dan mendatangkan manfaat bagi orang lain, dengan
demikian kita telah menanamkan investasi besar untuk kehidupan akhirat.
Setelah menyelesaikan
naskah kasar dari buku yang kita tulis, tahapan selanjutnya yang harus dilewati
adalah: editing, revising dan publishing.
Penyuntingan (Editing) yaitu langkah perbaikan draf
naskah berdasarkan pedoman yang berlaku. Pada tahapan ini membahas tentang membaca ulang dan
menyempurnakan draf.
Kegiatan penyempurnaan
draf ini dapat dilakukan melalui:
1. Teknik penulisan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia).
Berdasarkan PUEBI
tahun 2016, teknik penyuntingan naskah dilakukan berdasarkan: Pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan.
2. Sistematika penulisan
3. Isi tulisan
Revisi (Revising) yaitu langkah memperbaiki naskah. Tahapan ini membahas
tentang : mengubah beberapa bagian naskah, melengkapi naskah dan
mengevaluasi Kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulisan. Dalam melengkapi
naskah yang dilakukan adalah: menambahi materi yang diperlukan tapi belum
terdapat di dalam naskah serta menghapus beberapa bagian tulisan yang dianggap
tidak perlu.
Publikasi (Publishing)
yaitu langkah mempublikasikan
karya/tulisan. Tahapan ini membahas tentang: pengiriman naskah, pracetak
(perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading), pencetakan serta promosi
dan distribusi.
Dalam mengirimkan
naskah, penulis perlu mengetahui alur penerbitan agar bisa memilih jalur
penerbitan yang sesuai dengan pilihannya. Dalam hal ini, ada dua jalur penerbitan yang bisa dipilih,yaitu:
1. Major Publishing (penerbit umum)
2. Self Publishing (penerbit indefenden)
Proses pracetak
dilakukan setelah naskah selesai dan sudah dilakukan proses penyuntingan.
Prosesi ini meliputi perwajahan buku (cover), tata letak (layout), pengurusan
ISBN (international standard book number). Proses ini melibatkan pihak lain. Penulis
bisa meminta bantuan desainer untuk membuat cover buku. Untuk
membantu desainer membuat sampul (cover), diperlukan sinopsis. Sinopsis ini
memuat judul buku, pengarang, ringkasan isi buku.
Proses cetak merupakan
proses akhir dalam penulisan buku. Ada beberapa alternatif pencetakan buku,
melalui penerbit mayor atau penerbit indie. Produknya juga bisa berbentuk cetak
maupun digital. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
Selanjutnya, buku yang tercetak memerlukan proses promosi serta distribusi. Promosi bisa dilakukan
melalui media social (Facebook, Instagram, WhatsApp,atau yang lainnya). Promosi
juga bisa dilakukan melalui resensi buku di media cetak seperti koran, majalah,
bulletin, selebaran, bedah buku, seminar, talk show atau lainnya.
Setelah semua terbahas tuntas, Bu Aam selaku
moderator memadu sesi tanya jawab. Sungguh sangat luar biasa antusiasme peserta
sampai akhirnya waktu pun melebihi sekitar satu jam dari waktu yang telah
ditentukan. Tentu saja hal tersebut dikarenakan para peserta merasa haus untuk belajar
dan menemukan narasumber yang pas untuk bisa menghilangkan dahaga mereka akan
balajar menulis.
Dipenghujung acara Bu Kanjeng melakukan closing
statement dengan seruan “Ayo Jadikan Menulis Sebagai Passion. Kumpulkan semua
ide yang gentayangan di sekitar kita. Tulisan yang sudah ada dan berserakan di
medsos, di laptop yang nganggur, segera di eksekusi dan diskusikan dengan
Narasumber”.
Apresiasi yang sangat positif dan luar biasa dari
kami semua atas terselenggaranya kelas belajar
menulis ini, sungguh sangat bermanfaat. Terimakasih kami haturkan untuk Tim Om
Jay dan kelas belajar menulis. Tuntas sudah kelas belajar di malam pertama ini
dengan ditutup kembali oleh Om Jay.


Terima kasih untuk info yg lengkap, Bu.
BalasHapusMakasih sudah berkunjung Bu 🙏
BalasHapusBagus, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi
BalasHapusTerimakasih supportnya🙏
HapusSetelah buku analogi, akan segera terbit bukubsolo. Semoga.Sukses selalu ibu...
BalasHapusAamiin yra... Terimakasih ibu Ros. Sukses jg bt ibu... 🤩🙏
BalasHapusResume tersaji dengan apik.Ayo ditunggu karya bukunya
BalasHapusIn Shaa Allah bunda, berada di samudera karya kawan-kawan yang luar biasa, menyadarkan diri tak bernama. Membakar motivasi untuk mengulir nama itu dalam karya, semoga bisa terwujud dalam riuh gelombang aktifitas yang menuntut hak nya ...
BalasHapusSemakin keren resumenya.. Semangat!
BalasHapusTerimakasih banyak bunda Aam. Masukan-masukan serta supportnya selalu dinanti.
BalasHapus