Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Selasa, 13 Juli 2021

Menjadikan Menulis Sebagai Passion ( Resume Pertemuan Ke-1 Kelas Belajar menulis Gelombang 19)

Resume ke -1: Menjadikan Menulis Sebagai Passion


Resume Pertemuan ke -1

Tanggal 12 Juli 2021 Jam 19.00 WIB sd Selesai

Tema:Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Nara Sumber: Dra Sri Sugiastuti, M.Pd

Moderator: Aam Nurhasanah

Gelombang: 19

Nama : Irma Suzilawati, S.Sos., M.M _SMAN I Cikembar

irmasuzilawati1.blogspot.com



Tulisan ini merupakan resume pertemuan  perdana saya di kelas Belajar Menulis Gelombang 19 yang diselenggarakan melalui WA Group. Pertemuan kali ini sangat mengesankan dengan balutan kemasan yang begitu apik dan sangat menarik, membuat kami sangat nyaman dan tidak bosan untuk  mengikutinya. Acara dibuka langsung oleh bapak Wijaya Kusuma yang akrab dengan sapaan Om Jay. Narasumber malam ini adalah Ibu  Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau biasa di panggil Bu Kanjeng. Beliau seorang Penulis, Editor dan Motivator handal. Bu Kanjeng merupakan salah satu tokoh idola saya yang mendampingi saya mewujudkan beberapa antologi. Yang menjadi moderatornya adalah salah satu sosok yang memotivasi saya juga di beberapa antologi saya yaitu Bu Aam. Materi pada pertemuan pertama ini adalah “Menjadikan Menulis Sebagai Passion”.

 

Setelah mencermati paparan Bu Kanjeng yang begitu berbobot dan sistematis, saya menyimpulkan kalau sajian materi  tersebut merupakan modal awal yang bisa dijadikan pijakan bagi para penulis, khususnya penulis pemula, agar bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan trik- trik yang bisa dijadikan acuan untuk menulis. Ada beberapa hal penting yang disampaikan dari paparannya Bu kanjeng, yaitu

1.      Alasan logis mengapa kita harus menulis

2.      Kendala  dan hambatan menjadi penulis

3.      Prosedur menulis hingga jadi buku

4.      Mempublikasikan atau mempromosikan buku

 

Saya sangat sepakat dengan tema yang di angkat oleh Bu kanjeng  yaitu  “Menjadikan Menulis Sebagai Passion”  dengan  asumsi bahwa hingga hari ini profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial. Disamping itu kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Dua hal tersebut cukup menjadi alasan logis mengapa kita harus menulis.

 

Sesungguhnya banyak orang yang menginginkan menjadi penulis tetapi tidak semua orang bisa mewujudkannya. Adapun kendala dan hambatan menjadi penulis diantaranya:

1.      Merasa tidak berbakat menulis

2.      Tidak memiliki ide

3.      Tidak suka menulis

4.      Tidak berani menerima kritik

5.      Tidak memiliki waktu

 

Hambatan janganlah dijadikan alasan untuk kita lantas menyerah. Justru harus dijadikan tantangan agar kita mau belajar. Hambatan yang dominan bagi para penulis pemula adalah faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dirinya sendiri. Peran  motivasi yang diimbangi oleh etos kerja yang tinggi memiliki peran dalam mewujudnya suatu karya tulis. Mengikuti kelas belajar menulis inipun merupakan salah satu cara kita menumbuhkan motivasi diri, karena dengen bergabung di grup tersebut, semua pihak bisa saling bersinergi dan saling memberikan motivasi. Motivasi yang sudah terbangun dalam diri dari manapun itu sumbernya, dapat memunculkan etos kerja yang diharapkan untuk dapat mewujudkan keinginan kita yaitu membuat karya berupa buku . Disamping itu juga  menjadikan menulis sebagai passion.

 

Menurut Bu kanjeng memulai dari kata “Why”, mengapa kita menulius?. Ada banyak alasan yang  bisa dijadikan jawaban atas hal tersebut, dan itu dikembalikan pada orientasi dari diri masing-masing penulis. Kata “Why” itu lebih filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia.

Beberapa alasan mengapa kita menulis itu sangatlah beragam:

1. Orientasi Material: Tujuannya mengejar uang, bisa dari royalti, fee pembicara dan semacamnya. Apalagi jika berhasil  menulis novel yang sampai diangkat ke layar lebar.

2.   Orientasi Eksistensi Tujuannya mengejar popularitas dan pengakuan Dari masyarakat

3. Orientasi Personal Bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk Mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, Pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.

4.  Orientasi Sosial Tujuannya untuk mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban.

5.  Orientasi Spiritual Tujuannya untuk beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik.

 

Lalu kata How” Bagaimana cara menulis?. Kata “How” ini lebih bersifat teknis dan jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Dengan banyak berlatih seseorang akan jauh lebih terampil dalam menguasai sesuatu, begitupun dengan menulis.

Ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang penulis yang baik:

1.  Read: membaca merupakan salah satu modal utama bagi penulis, baik buku yang bersifat general (umum) maupun yang spesifik (misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi).

2.  Discuss: mendiskusikan dan merenungkan isi buku bisa memunculkan ide dan gagasan disaat terjadi dialektika bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri.

3. Look and feel: harus sering mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita. Baik secara langsung mau pun dari apa yang kita lihat dan baca di media (TV, radio, internet, medsos dll)

4.  Socialize : harus banyak menyerap pengetahuan dan pengalaman dari kisah orang lain. Disamping itu juga harus memperluas pergaulan dan area sosialisasi agar membuka cakrawala berpikir kita.

 

Selanjutnya Bu kanjeng  memaparkan tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang perlu dilakukan dalam proses menulis ini, antara lain:

1.   Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide

Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming.

2.   Menentukan Tujuan, Genre dan Segmen Pembaca

Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable.

3.   Menentukan Topik

Penentuan topik dilakukan setelah penulis menetapkan untuk apa menulis, genre apa yang dipilih dan siapa sasaran pembacanya. Misalnya, tujuan menulis untuk memberikan informasi yang benar tentang kesehatan. Genrenya tulisan populer. Jika sasarannya adalah orang tua (manula), maka penulis bisa menentukan tulisan misalnya dengan topik  “Hidup sehat di usia senja”.

4.   Membuat Outline

Outline merupakan bentuk kerangka tulisan. Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.

5.  Mengumpulkan Bahan Materi/Buku

Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.

 

Setelah melakukan kelima kegiatan tersebut, lakukanlah kegiatan selanjutnya yaitu menulis. Lantas bagaimana cara kita menulis, Bu Kanjeng menegaskan “ya lakukan saja”. Menurut beliau, penulis pemula harus memiliki ketekunan  dan kesabaran, jangan menginginkan langsung sempurna dan jangan terlalu idealis. Dalam proses menulis juga ada baiknya memperhatikan: time target, discipline, comfortability, facilities, mood booster.

 

Menulis bisa menjadi hal yang luar biasa manakala buku kita menjadi best seller. Kita bisa popular, diundang ke berbagai acara, memiliki relasi yang luas, royalty dan perekonomian kita mapan. Menulis juga bisa dimaknai sebagai amal shaleh yang tidak pernah terputus sepanjang masih dibaca dan mendatangkan manfaat bagi orang lain, dengan demikian kita telah menanamkan investasi besar untuk kehidupan akhirat.

 

Setelah menyelesaikan naskah kasar dari buku yang kita tulis, tahapan selanjutnya yang harus dilewati adalah: editing, revising dan publishing.

Penyuntingan (Editing) yaitu langkah perbaikan draf naskah berdasarkan pedoman yang berlaku. Pada tahapan ini membahas tentang membaca ulang dan menyempurnakan draf.

Kegiatan penyempurnaan draf ini dapat dilakukan melalui:

1.  Teknik penulisan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Berdasarkan PUEBI tahun 2016, teknik penyuntingan naskah dilakukan berdasarkan:   Pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan.

2.   Sistematika penulisan

3.   Isi tulisan

 

Revisi (Revising) yaitu langkah memperbaiki naskah. Tahapan ini membahas tentang : mengubah beberapa bagian naskah, melengkapi naskah dan mengevaluasi Kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulisan. Dalam melengkapi naskah yang dilakukan adalah: menambahi materi yang diperlukan tapi belum terdapat di dalam naskah serta menghapus beberapa bagian tulisan yang dianggap tidak perlu.

 

Publikasi (Publishing) yaitu langkah mempublikasikan karya/tulisan. Tahapan ini membahas tentang: pengiriman naskah, pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading), pencetakan serta promosi dan distribusi.

 

Dalam mengirimkan naskah, penulis perlu mengetahui alur penerbitan agar bisa memilih jalur penerbitan yang sesuai dengan pilihannya. Dalam hal ini, ada dua  jalur penerbitan yang bisa dipilih,yaitu:

1.      Major Publishing (penerbit umum)

2.      Self Publishing (penerbit indefenden)

 

Proses pracetak dilakukan setelah naskah selesai dan sudah dilakukan proses penyuntingan. Prosesi ini meliputi perwajahan buku (cover), tata letak (layout), pengurusan ISBN (international standard book number). Proses ini melibatkan pihak lain. Penulis bisa meminta bantuan desainer untuk membuat cover buku. Untuk membantu desainer membuat sampul (cover), diperlukan sinopsis. Sinopsis ini memuat judul buku, pengarang, ringkasan isi buku.

 

Proses cetak merupakan proses akhir dalam penulisan buku. Ada beberapa alternatif pencetakan buku, melalui penerbit mayor atau penerbit indie. Produknya juga bisa berbentuk cetak maupun digital. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

 

Selanjutnya, buku yang tercetak memerlukan proses promosi serta distribusi. Promosi bisa dilakukan melalui media social (Facebook, Instagram, WhatsApp,atau yang lainnya). Promosi juga bisa dilakukan melalui resensi buku di media cetak seperti koran, majalah, bulletin, selebaran, bedah buku, seminar, talk show atau lainnya.

 

Setelah semua terbahas tuntas, Bu Aam selaku moderator memadu sesi tanya jawab. Sungguh sangat luar biasa antusiasme peserta sampai akhirnya waktu pun melebihi sekitar satu jam dari waktu yang telah ditentukan. Tentu saja hal tersebut dikarenakan para peserta merasa haus untuk belajar dan menemukan narasumber yang pas untuk bisa menghilangkan dahaga mereka akan balajar menulis.

 

Dipenghujung acara Bu Kanjeng melakukan closing statement dengan seruan “Ayo Jadikan Menulis Sebagai Passion. Kumpulkan semua ide yang gentayangan di sekitar kita. Tulisan yang sudah ada dan berserakan di medsos, di laptop yang nganggur, segera di eksekusi dan diskusikan dengan Narasumber”.

 

Apresiasi yang sangat positif dan luar biasa dari kami semua atas terselenggaranya kelas  belajar menulis ini, sungguh sangat bermanfaat. Terimakasih kami haturkan untuk Tim Om Jay dan kelas belajar menulis. Tuntas sudah kelas belajar di malam pertama ini dengan ditutup kembali oleh Om Jay. 

10 komentar:

  1. Terima kasih untuk info yg lengkap, Bu.

    BalasHapus
  2. Makasih sudah berkunjung Bu 🙏

    BalasHapus
  3. Bagus, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi

    BalasHapus
  4. Setelah buku analogi, akan segera terbit bukubsolo. Semoga.Sukses selalu ibu...

    BalasHapus
  5. Aamiin yra... Terimakasih ibu Ros. Sukses jg bt ibu... 🤩🙏

    BalasHapus
  6. Resume tersaji dengan apik.Ayo ditunggu karya bukunya

    BalasHapus
  7. In Shaa Allah bunda, berada di samudera karya kawan-kawan yang luar biasa, menyadarkan diri tak bernama. Membakar motivasi untuk mengulir nama itu dalam karya, semoga bisa terwujud dalam riuh gelombang aktifitas yang menuntut hak nya ...

    BalasHapus
  8. Semakin keren resumenya.. Semangat!

    BalasHapus
  9. Terimakasih banyak bunda Aam. Masukan-masukan serta supportnya selalu dinanti.

    BalasHapus