Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Kamis, 08 Juli 2021

POTRET KEMEWAHAN HATI PENEBAR INSPIRASI

 

POTRET KEMEWAHAN HATI PENEBAR INSPIRASI

Oleh: Irma Suzilawati

 

Semenjak aku lahir di dunia ini, sosok pertama dan yang utama aku kenal adalah sosok ibuku. Sosok yang senantiasa menemaniku dan mengurusiku dengan penuh ketelatenan tanpa mengenal lelah. Aku semakin meneladaninya saat seiring waktu aku berpsoses, aku kian menikmati seluruh curahan kasih sayang tulus yang dia berikan.

Sosok sederhana tanpa balutan kemewahan, melekat dalam sosok seorang ibu rumah tangga yang hanya melakukan pekerjaan di ranah domestik. Setiap waktu hanya dia baktikan untuk membantu memenuhi kebutuhan orang-orang yang dia cintai. Hanya dengan riasan sederhana dan pakaian yang apa adanya, dialah yang justru memantaskan kami semua untuk bisa tampil baik dan menarik di luar sana. Terlebih lagi perlakuan itu dipersembahkan special untuk ayahku.

Saat kami semua terbangun, seluruh isi rumah sudah terlihat rapi dan harumnya aroma masakan ibu pun sudah tercium dari arah meja makan. Semua keperluan kami sudah ibu siapkan. Senyum lebar penuh ketulusan selalu menghiasi raut wajah ibu yang nampak cantik alamiah. Pancaran kebaikannya selalu aku agungkan. Ibu adalah sosok yang selalu mebuatku merasa nyaman berada di dekatnya.

Seusai jam sekolah, rumah adalah tempat yang ingin segera aku tuju. Aku disambut dengan sapaan lembut dan pertanyaan – pertanyaan kecil tentang apa saja yang terjadi saat tadi aku disekolah. Ibu pun menemani aku makan dan selalu memastikan kalau aku makan dengan begitu lahap. Itulah ibuku yang selalu membuatku bangga karenanya.

Menemani seluruh proses tumbuh kembangku, adalah hal yang selalu membuatku semakin sadar kalau ibu adalah sosok yang luar biasa. Semua hal yang aku lakukan tak lepas dari pantauannya. Hal paling dasar ibu ajarkan adalah pondasi ilmu agama. Di sekolah madrasah yang aku ikuti, pembelajaran sangat dibatasi oleh waktu. Dan ibulah sosok yang setiap harinya mengajariku. Seusai mengaji biasanya aku di temani dan diajari belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ibu adalah orang yang selalu ada disampingku dan tak pernah meninggalkanku.

Ayahku seorang tentara yang juga senang sekali nyambi berbisnis. Sehingga separuh banyak waktunya dihabiskan diluar rumah. Ayahku termasuk orang yang kurang peka dan cuek pada kami. Tapi ibuku selalu membelanya. Saat aku mempertanyakan hal itu, ibu pasti bilang,

“ Ayahmu orang baik, hanya saja tempaan yang ayah lewati dalam pendidikan militer membuat sikapnya tegas dan terkesan cuek seperti itu, nak “

Aku berujung terdiam saja mendengar ibuku mengutarakan berbagai alasan agar aku menganggap ayah sosok yang baik.

            Ibu merupakan sosok yang tulus dan sangat setia mendampingi ayah. Keperluan ayah merupakan hal yang paling utama bagi ibu. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, takkan pernah luput dari peran ibu dalam mengurusinya. Dari mulai menyiapkan air mandi hangat, menyiapkan baju yang akan ayah pakai, bahkan terkadang ibu membantu ayah mengenakan pakaian tersebut. Sungguh tuntunan nilai yang luar biasa yang ibu coba ajarkan semenjak aku mampu memahami apa yang aku lihat dari cara ibu memperlakukan ayah.

Saat kecil, terlintas dibenakku rasa heran saat aku melihat ibuku sering kedapati menangis sambil bersembunyi di dalam kamarnya. Sampai akhirnya aku beranjak remaja dan mulai memahami semuanya. Beban yang ibuku pikul selama ini. Raut wajah yang senantiasa tersenyum itu, ternyata menyembunyikan kemelut yang begitu mendalam. Menahan kesedihan serta membungkam keluhan demi membuatku bahagia dan tak kehilangan sosok ayah, itulah harapannya.

Tabir itu terbuka disaat aku beranjak remaja. Kala itu adik perempuanku satu-satunya berumur sekitar dua tahun. Tiba-tiba ibu membawa seorang bayi kecil yang usianya terpaut kurang dari satu tahun dibawah adikku ke dalam rumah kami dan membelai-belainya dengan tatapan penuh iba. Rasanya kaget luarbiasa saat mengetahui kalau bayi itu adalah bayi wanita simpanan ayahku. Ibuku mengambilnya dari orang lain yang dititipi, karena ibunya meninggalkannya untuk pergi jauh. Hatiku bergumam dengan penuh rasa heran dan meneteskan air mata, tak sanggup melihat ketabahan ibuku. Dengan begitu tegarnya ibuku berkata,

 “ Adik bayi ini pun adikmu, jadi kamu harus menyayanginya dengan tulus. Dia bayi laki-laki kecil yang lucu. Jangan abaikan dia ya, karena dia tak punya salah apa-apa”

Aku hanya bisa memeluk ibuku yang begitu aku sayangi, tanpa sanggup membantahnya.

Sampai suatu hari, ibuku terpuruk karena adik kandungku meninggal dunia. Dan disaat yang sama ayahku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, dia hanya sanggup berpikir untuk dirinya sendiri dan lagi-lagi gak pernah fokus mengurusi kami semua termasuk anaknya dari perempuan itu. Bersyukur kondisi keterpurukan ibu tak berlangsung lama. Ibu segera bangkit dan berupaya fokus mengurusi adik tiriku yang masih bayi itu. Dengan begitu tegarnya ibu menjalani semua perjalanan ini. Lagi-lagi aku mendengarkan suara hati ibu yang begitu tulus dan sabar,

“Adik kandungmu memang telah pergi, kita harus sanggup mengikhlaskannya. Mungkin kehadiran bayi ini sudah Allah kirimkan pada kita untuk dapat menegarkan kita, biar tak merasa kesepian atas kepergiannya.”

Penggalan-penggalan kisah yang selalu memberikanku sebuah cara pandang yang unik atas dasar kebaikan hati.

Adik kecil itu kini kian besar dan terlihat bahagia dalam asuhan ibuku. Tak pernah terlihat perlakuan yang berbeda yang ibu perlihatkan pada kamj berdua. Tumbuh kembangnya pun nyaris tak pernah menyisakan sedih. Bahkan sepertinya ia tak pernah menyadari kalau ibu yang mengasuhnya kini bukanlah ibu kandungnya, karena ibu mengurisinya sama seperti mengurusiku saat aku kecil.

Belum usai sampai disini pengorbanan ibuku. Kisah hidupnya yang meyedihkan itu sepertinya belulang kembali. Tapi saat itu aku sudah beranjak dewasa sehingga ibu merasa sudah bisa berbagi keluh kesah denganku. Hingga berakhirlah kisah rumah tangga ibu dan ayahku di meja hijau, karena ibupun sudah tak sanggup mempertahankannya lagi.

Aku yang sedang duduk dibangku kuliah harus berjuang membiayai diriku sendiri dan juga memikirkan kehidupan ibuku. Fase dimana aku dituntut dewasa oleh keadaan. Masa sulit itu rasanya tak berat bagiku untuk melewatinya. Doa ibuku dan nasihatnya yang selalu membangkitkan semangatku, membuatku mampu menyelesaikan gelar sarjanaku. Sugesti yang luar biasa ibu tanamkan padaku untuk menunjukan pada semua orang bahwa aku takkan pernah terpuruk dalam kondisi, apalagi sampai harus menyerah. Aku harus berhasil sekalipun tanpa sosok ayah.

Ibu selalu menguatkanku dalam setiap kebimbangan dan kegelisahan hidupku. Mentalku kian kuat dalam menghadapi segala persoalan yang mesti aku lalui. Ibu mengajariku untuk  membiarkan saat ada orang lain yang mengeroposi keyakinanku untuk bangkit, dan mengabaikan perkataan yang tak semestinya aku dengarkan. Bersabar disertai doa dan menjadikannya pelecutku untuk aku berhasil. Hadapi semua persoalan dengan senyuman tanpa keluhan. Dan aku melewati hari-hari itu dengan semangat untuk membahagiakan ibu dan adikku.

Tahun demi tahun berlalu. Kehidupan kamipun telah banyak berubah. Aku yang telah melewati fase-fase dalam hidup. Berumah tangga, memiliki dua orang anak dan memiliki kehidupan yang cerah dari kacamata duniawi. Begitupun adikku yang sudah mulai menapaki karirnya di dunia kerja. Kesuksesan yang ibu harapkan dariku sudah aku wujudkan, tentunya berkat doa dari ibu. Terjawablah sudah, perjuangan sulitku dulu kini menuai hasilnya. Aku Bahagia melihat sang inspirasi hidupku bahagia. Dialah ibuku.

Nalarku kadangkala memaksaku memberontak untuk kembali menilik masa lalu. Imajinasi memanggilku dalam penggalan-penggalan kisah yang terpotret jelas dalam keseharian ibuku dulu. Ayahku yang dia perlakuakan bagaikan raja, yang senantiasa dilakoninya hanya untuk mengabdikan dirinya atas nama kewajiban. Ternyata adalah sosok yang justru sering kali membuat ibu menangis dibelakang kami saat itu.

Pembelajaran besar dari penggalan kisah hati kedua orangtuaku nampak hingga kini. Pusara ayah selalu ibu rawat dengan sangat baik, meskipun mereka bukan lagi pasangan suami istri.  Diakhir hidupnya ayah merupakan sosok yang baik, yang telah menyadari sangat menyesal menyia-nyiakan ibu. Kelembutan hati ibu mampu menyadarkan ayah akan semua kebaikan yang ibu lakukan selama ini. Saat meninggal dunia, ayah meninggalkan satu lagi anak laki-laki dari ibu yang berbeda ke pangkuan ibuku. Lagi-lagi ibu anak itupun pergi meninggalnya. Kini saatnya akulah yang  menggantikan posisi ibu untuk merawatnya, dan belajar memahami cara pandang ibu dalam memaknai proses hidup.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan bukan wanita karir seperti ibu-ibu diluar sana yang dinilai hebat karena prestasinya yang gemilang atau kedudukannya yang tinggi. Tapi dimataku ibu merupakan sosok inspiratif yang membuatku selalu bangga dengan apa adanya dia. Dia yang kuat, tulus, sabar, penyayang dan sanggup menjadikan orang-orang yang disekitarnya menjadi pribadi yang baik. Cara pandangnya mengajarkan banyak hal tentang arti kehidupan. Ibuku adalah pelita sejati yang kobarannya tak pernah padam, selanggeng kasih sayang tulusnya pada kami. Sebuah potret kemewahan hati yang menebar inspirasi bagi kami jiwa-jiwa yang tumbuh dalam asuhannya.  

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar