POTRET KEMEWAHAN HATI PENEBAR INSPIRASI
Oleh: Irma Suzilawati
Semenjak
aku lahir di dunia ini, sosok pertama dan yang utama aku kenal adalah sosok
ibuku. Sosok yang senantiasa menemaniku dan mengurusiku dengan penuh ketelatenan
tanpa mengenal lelah. Aku semakin meneladaninya saat seiring waktu aku
berpsoses, aku kian menikmati seluruh curahan kasih sayang tulus yang dia
berikan.
Sosok
sederhana tanpa balutan kemewahan, melekat dalam sosok seorang ibu rumah tangga
yang hanya melakukan pekerjaan di ranah domestik. Setiap waktu hanya dia
baktikan untuk membantu memenuhi kebutuhan orang-orang yang dia cintai. Hanya dengan
riasan sederhana dan pakaian yang apa adanya, dialah yang justru memantaskan
kami semua untuk bisa tampil baik dan menarik di luar sana. Terlebih lagi perlakuan
itu dipersembahkan special untuk ayahku.
Saat
kami semua terbangun, seluruh isi rumah sudah terlihat rapi dan harumnya aroma
masakan ibu pun sudah tercium dari arah meja makan. Semua keperluan kami sudah
ibu siapkan. Senyum lebar penuh ketulusan selalu menghiasi raut wajah ibu yang
nampak cantik alamiah. Pancaran kebaikannya selalu aku agungkan. Ibu adalah sosok
yang selalu mebuatku merasa nyaman berada di dekatnya.
Seusai
jam sekolah, rumah adalah tempat yang ingin segera aku tuju. Aku disambut dengan
sapaan lembut dan pertanyaan – pertanyaan kecil tentang apa saja yang terjadi
saat tadi aku disekolah. Ibu pun menemani aku makan dan selalu memastikan kalau
aku makan dengan begitu lahap. Itulah ibuku yang selalu membuatku bangga karenanya.
Menemani
seluruh proses tumbuh kembangku, adalah hal yang selalu membuatku semakin sadar
kalau ibu adalah sosok yang luar biasa. Semua hal yang aku lakukan tak lepas
dari pantauannya. Hal paling dasar ibu ajarkan adalah pondasi ilmu agama. Di
sekolah madrasah yang aku ikuti, pembelajaran sangat dibatasi oleh waktu. Dan ibulah
sosok yang setiap harinya mengajariku. Seusai mengaji biasanya aku di temani dan
diajari belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ibu adalah orang yang
selalu ada disampingku dan tak pernah meninggalkanku.
Ayahku
seorang tentara yang juga senang sekali nyambi berbisnis. Sehingga separuh
banyak waktunya dihabiskan diluar rumah. Ayahku termasuk orang yang kurang peka
dan cuek pada kami. Tapi ibuku selalu membelanya. Saat aku mempertanyakan hal itu,
ibu pasti bilang,
“
Ayahmu orang baik, hanya saja tempaan yang ayah lewati dalam pendidikan militer
membuat sikapnya tegas dan terkesan cuek seperti itu, nak “
Aku
berujung terdiam saja mendengar ibuku mengutarakan berbagai alasan agar aku
menganggap ayah sosok yang baik.
Ibu merupakan sosok yang tulus dan sangat
setia mendampingi ayah. Keperluan ayah merupakan hal yang paling utama bagi ibu.
Dari bangun tidur hingga tidur kembali, takkan pernah luput dari peran ibu
dalam mengurusinya. Dari mulai menyiapkan air mandi hangat, menyiapkan baju
yang akan ayah pakai, bahkan terkadang ibu membantu ayah mengenakan pakaian tersebut.
Sungguh tuntunan nilai yang luar biasa yang ibu coba ajarkan semenjak aku mampu
memahami apa yang aku lihat dari cara ibu memperlakukan ayah.
Saat kecil, terlintas dibenakku rasa heran
saat aku melihat ibuku sering kedapati menangis sambil bersembunyi di dalam
kamarnya. Sampai akhirnya aku beranjak remaja dan mulai memahami semuanya. Beban
yang ibuku pikul selama ini. Raut wajah yang senantiasa tersenyum itu, ternyata
menyembunyikan kemelut yang begitu mendalam. Menahan kesedihan serta membungkam
keluhan demi membuatku bahagia dan tak kehilangan sosok ayah, itulah harapannya.
Tabir itu terbuka disaat aku beranjak remaja.
Kala itu adik perempuanku satu-satunya berumur sekitar dua tahun. Tiba-tiba ibu
membawa seorang bayi kecil yang usianya terpaut kurang dari satu tahun dibawah
adikku ke dalam rumah kami dan membelai-belainya dengan tatapan penuh iba.
Rasanya kaget luarbiasa saat mengetahui kalau bayi itu adalah bayi wanita
simpanan ayahku. Ibuku mengambilnya dari orang lain yang dititipi, karena
ibunya meninggalkannya untuk pergi jauh. Hatiku bergumam dengan penuh rasa
heran dan meneteskan air mata, tak sanggup melihat ketabahan ibuku. Dengan
begitu tegarnya ibuku berkata,
“ Adik bayi ini pun adikmu, jadi kamu harus
menyayanginya dengan tulus. Dia bayi laki-laki kecil yang lucu. Jangan abaikan
dia ya, karena dia tak punya salah apa-apa”
Aku
hanya bisa memeluk ibuku yang begitu aku sayangi, tanpa sanggup membantahnya.
Sampai
suatu hari, ibuku terpuruk karena adik kandungku meninggal dunia. Dan disaat
yang sama ayahku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, dia hanya sanggup
berpikir untuk dirinya sendiri dan lagi-lagi gak pernah fokus mengurusi kami
semua termasuk anaknya dari perempuan itu. Bersyukur kondisi keterpurukan ibu
tak berlangsung lama. Ibu segera bangkit dan berupaya fokus mengurusi adik
tiriku yang masih bayi itu. Dengan begitu tegarnya ibu menjalani semua perjalanan
ini. Lagi-lagi aku mendengarkan suara hati ibu yang begitu tulus dan sabar,
“Adik
kandungmu memang telah pergi, kita harus sanggup mengikhlaskannya. Mungkin
kehadiran bayi ini sudah Allah kirimkan pada kita untuk dapat menegarkan kita, biar
tak merasa kesepian atas kepergiannya.”
Penggalan-penggalan
kisah yang selalu memberikanku sebuah cara pandang yang unik atas dasar
kebaikan hati.
Adik
kecil itu kini kian besar dan terlihat bahagia dalam asuhan ibuku. Tak pernah
terlihat perlakuan yang berbeda yang ibu perlihatkan pada kamj berdua. Tumbuh
kembangnya pun nyaris tak pernah menyisakan sedih. Bahkan sepertinya ia tak
pernah menyadari kalau ibu yang mengasuhnya kini bukanlah ibu kandungnya, karena
ibu mengurisinya sama seperti mengurusiku saat aku kecil.
Belum
usai sampai disini pengorbanan ibuku. Kisah hidupnya yang meyedihkan itu sepertinya
belulang kembali. Tapi saat itu aku sudah beranjak dewasa sehingga ibu merasa
sudah bisa berbagi keluh kesah denganku. Hingga berakhirlah kisah rumah tangga
ibu dan ayahku di meja hijau, karena ibupun sudah tak sanggup mempertahankannya
lagi.
Aku
yang sedang duduk dibangku kuliah harus berjuang membiayai diriku sendiri dan
juga memikirkan kehidupan ibuku. Fase dimana aku dituntut dewasa oleh keadaan. Masa
sulit itu rasanya tak berat bagiku untuk melewatinya. Doa ibuku dan nasihatnya yang
selalu membangkitkan semangatku, membuatku mampu menyelesaikan gelar sarjanaku.
Sugesti yang luar biasa ibu tanamkan padaku untuk menunjukan pada semua orang bahwa
aku takkan pernah terpuruk dalam kondisi, apalagi sampai harus menyerah. Aku
harus berhasil sekalipun tanpa sosok ayah.
Ibu
selalu menguatkanku dalam setiap kebimbangan dan kegelisahan hidupku. Mentalku kian
kuat dalam menghadapi segala persoalan yang mesti aku lalui. Ibu mengajariku
untuk membiarkan saat ada orang lain
yang mengeroposi keyakinanku untuk bangkit, dan mengabaikan perkataan yang tak
semestinya aku dengarkan. Bersabar disertai doa dan menjadikannya pelecutku
untuk aku berhasil. Hadapi semua persoalan dengan senyuman tanpa keluhan. Dan aku
melewati hari-hari itu dengan semangat untuk membahagiakan ibu dan adikku.
Tahun
demi tahun berlalu. Kehidupan kamipun telah banyak berubah. Aku yang telah
melewati fase-fase dalam hidup. Berumah tangga, memiliki dua orang anak dan memiliki
kehidupan yang cerah dari kacamata duniawi. Begitupun adikku yang sudah mulai
menapaki karirnya di dunia kerja. Kesuksesan yang ibu harapkan dariku sudah aku
wujudkan, tentunya berkat doa dari ibu. Terjawablah sudah, perjuangan sulitku dulu
kini menuai hasilnya. Aku Bahagia melihat sang inspirasi hidupku bahagia. Dialah
ibuku.
Nalarku
kadangkala memaksaku memberontak untuk kembali menilik masa lalu. Imajinasi
memanggilku dalam penggalan-penggalan kisah yang terpotret jelas dalam keseharian
ibuku dulu. Ayahku yang dia perlakuakan bagaikan raja, yang senantiasa dilakoninya
hanya untuk mengabdikan dirinya atas nama kewajiban. Ternyata adalah sosok yang
justru sering kali membuat ibu menangis dibelakang kami saat itu.
Pembelajaran
besar dari penggalan kisah hati kedua orangtuaku nampak hingga kini. Pusara
ayah selalu ibu rawat dengan sangat baik, meskipun mereka bukan lagi pasangan
suami istri. Diakhir hidupnya ayah merupakan
sosok yang baik, yang telah menyadari sangat menyesal menyia-nyiakan ibu. Kelembutan
hati ibu mampu menyadarkan ayah akan semua kebaikan yang ibu lakukan selama
ini. Saat meninggal dunia, ayah meninggalkan satu lagi anak laki-laki dari ibu
yang berbeda ke pangkuan ibuku. Lagi-lagi ibu anak itupun pergi meninggalnya. Kini
saatnya akulah yang menggantikan posisi
ibu untuk merawatnya, dan belajar memahami cara pandang ibu dalam memaknai
proses hidup.
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga
biasa, dan bukan wanita karir seperti ibu-ibu diluar sana yang dinilai hebat
karena prestasinya yang gemilang atau kedudukannya yang tinggi. Tapi dimataku
ibu merupakan sosok inspiratif yang membuatku selalu bangga dengan apa adanya
dia. Dia yang kuat, tulus, sabar, penyayang dan sanggup menjadikan orang-orang
yang disekitarnya menjadi pribadi yang baik. Cara pandangnya mengajarkan banyak
hal tentang arti kehidupan. Ibuku adalah pelita sejati yang kobarannya tak
pernah padam, selanggeng kasih sayang tulusnya pada kami. Sebuah potret
kemewahan hati yang menebar inspirasi bagi kami jiwa-jiwa yang tumbuh dalam
asuhannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar