Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Selasa, 20 April 2021

PATIDUSA - Genre puisi baru

PATIDUSA - Genre puisi baru

 "PATIDUSA" merupakan singkatan dari em- PAT TI-ga DU-a SA-tu. Puisi Patidusa ini genre terbaru di bidang literasi puisi yang baru ditemukan bentuknya oleh Agung wibowo dan diberi nama oleh Agus Supriyadi.

 Puisi Patidusa:

1. Berformat 4-3-2-1, 1-2-3-4 dan seterusnya.

2. Minimal bait adalah 2 (dua) membentuk piramida dobel. Juga bisa 3,4,5,6 bait dan seterusnya sesuai selera.

 3. Untuk pengambilan judul puisi bisa sesuka penulis menentukannya dari; kata pada kerucut, salah satu baris kalimat dalam bait, dan makna yang sesuai isi puisi. Sehingga pengambilan judul diserahkan kepada kreativitas penulisnya.

 Keistimewaan Puisi Patidusa

Membentuk makna kuat, padat, di tiap bait. Sehingga mengantarkan penulis pada penyampaian isi puisi.

 

 PUISI PATIDUSA ADA 4 FORMASI BENTUK


 1. Patidusa Asli

Format:

4-3-2-1, 1-2,3,4, dst.

 Contoh:

Arghh! Bolehkah Selamanya


Kau manis serupa madu

Rebutan para lebah

Senyummu itu

Arghhh!

 

Bolehkah

Yang hina

Amat sangat rendah

Sepertiku, miliki senyum itu?

 

Aku mengerti aku paham

Ratu inginkan raja

Tak berubah

Selamanya.

 

2. Patidusa Bias

Format:

1-2-3-4, 4-3-2-1, dst.

 Contoh:

 

Kamu Rindu Aku?

 

Kamu

Pemilik candu

Pengantar tidur jiwaku

Dalam lamunan masa lalu.

 

Kita anjing liat terkekang

Seperti tali layang

Terikat kuat

Rindu.

 

Aku?

Bukan raja

Hanya mahluk sederhana

Tanpa nama tanpa tahta.

 

3. Patidusa Cemara

Format:

1-2-3-4, 1-2-3-4, 1-2-3-4, dst.

 Contoh:

 

Kabar Burung-Burung Hitam

 

Kabar

Gagak berkata

Harimau datang berburu

Mencari darah penghuni hutan.

 

Burung

Kancil, gajah

Musang, tupai, kerbau

Berlari cepat diburu waktu.

 

Hitam

Dari kejauhan

Burung itu tersenyum

Tertawa mengumpat dalam bayang.

 

4. Patidusa Tangga

Format:

4-3-2-1, 4-3-2-1, dst.

 Contoh:

 

Jiwaku Bukan Milikmu

 

Tertunduk lesu bawah surya

Dendam amarah kebencian

Menyatu melebur

Jiwaku.

 

Aku ini siapa, bapakmu?

Ibumu, pacarmu, tetanggamu?

Nenek moyangmu?

Bukan!

 

Aku ya aku, paham?

Bukan bidak catur

Bukan anjing

Milikmu!

 

-------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar