Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Rabu, 07 April 2021

Tali Kasih Terpatri di Rumah Singgah

 

Tali Kasih Terpatri di Rumah Singgah

Oleh : Irma Suzilawati

 

Aku adalah seorang guru yang sangat senang belajar dan bercengkrama bersama peserta didikku di manapun kami berkumpul dan nyaman, tanpa harus dibatasi oleh dinding-dinding kelas yang kokoh dilingkungan sekolah dan jam belajar yang terjadwal. Seragam coklat muda dan coklat tua adalah salah satu seragam yang kubanggakan yang senantiasa membuatku tampil ceria disaat menjadi pembina Pramuka bagi mereka. Pramuka adalah salah satu wahana yang membuatku tak berjarak dalam mewarnai hari bersama mereka. Hari-hari ku lewati dengan segenap kesungguhan untuk menjadi guru yang tak mengenal lelah dan tanpa celah keraguan dalam diri untuk mengabdi.

Sebagai guru SMAN, peserta didikku adalah anak-anak remaja atau akrab dengan panggilan "ABG" (Anak Baru Gede), yang diusianya sangat rentan dengan berbagai kelakar serta ulah yang terkadang dinilai nakal dalam rangka mencari jati dirinya. Kesabaran menjadi salah satu kunci keberhasilan seorang guru dalam menjinakkan mereka agar mereka tak menjauh. Disamping itu, kepiawaian seorang guru dalam menempatkan peran dirinya secara tepat, merupakan salah satu jurus jitu dalam mendekati mereka untuk selalu nyaman berbagi cerita pada kita. Kapan kita menjadi guru mereka, orangtua mereka, bahkan sahabat mereka. Itulah yang sampai saat ini membuatku yakin, mereka tak sungkan untuk berbagi suka dan duka padaku dalam berbagai penggalan cerita hidupnya.

Aku sosok yang tak biasa bernada tinggi dan berseloroh memaki. Saatku masuk ke dlm ruang kelas yang riuh, aku diam sambil menatap mereka dan sesekali sambil tersenyum kecil, hingga merekapun memahami dan menyadari keadaannya. Mereka pun  seketika hening, dan barulah aku sapa hangat mereka dengan penuh senyuman dan memulai pembelajaran. Senda gurau kami dalam proses pembelajaran, membuatku selalu merasa bersemangat berada di tengah-tengah mereka, hingga sang waktu pun berlalu tanpa terasa.

Selepas belajar atau di sela-sela hari belajar kami, ekstrakulikuler Pramuka menjadi salah satu kegiatan yang paling dinanti untuk bisa memfasilitasiku dalam membentuk karakter mereka agar bisa hidup dan diterima dengan baik dalam kehidupan mereka di ruang yang jauh lebih luas dari pada ruang kelas belajar mereka, yaitu di tengah - tengah masyarakat. Hal tersebut selaras dengan latarbelakang pendidikanku sebagai guru sosiologi yang mengenalkan pada mereka kehidupan bermasyarakat termasuk kepekaan sosial yang harus mereka asah sebagai bekal hidup mereka kelak.

Aku yang semenjak kecil hobi dengan pramuka, terpatri dalam diri hingga saat ini aku menjadi pembina, pengurus Kwartir Cabang dan pelatih  Mandala Wirabuana. Hal tersebut membuatku larut dengan hati, saat berada di tengah-tengah peserta didikku tanpa mengenal lelah. Justru kelelahan dan kepenatan rutinitasku, kulepaskan saat aku bersama mereka berkegiatan. Katanya itu salah satu inspirasi bagi mereka untuk mengenal sesuatu melalui hatinya. Totalitasku membuat mereka menganggapku tak hanya sekedar guru, bahkan orangtua kedua bagi mereka. Ruang kelas, lingkungan sekolah, alam terbuka dan tak terkecuali rumahku, merupakan tempat-tempat kami saling berbagi ilmu dan pengalaman serta mengeratkan kekeluargaan. Tak bisa kusembunyikan, rasa bangga yang luar biasa, saat rumahku menjadi tempat berkumpulnya mereka setiap saat dan tak pernah ku batasi bagi mereka semua yang pernah aku bina, tak terkecuali bagi mereka yang sudah lulus. Rumahku selalu ramai oleh gelak tawa mereka untuk senantiasa berkunjung ke rumah singgah, sebutan mereka pada rumahku.

Aku yang kian menua rasanya bahagia memiliki banyak anak-anak didik seperti mereka. Aku mendidik mereka untuk menjadi seperti sebuah keluarga. Suka duka mereka bagi bersama dan saling melengkapi. Berlimpah penggalan cerita sedih dan bahagia terpotret nyata di rumah singgah. Banyak momen yang tercipta, tatkala hati dengan tulus ingin membuat suasana penuh makna. Diantaranya mewujudkan kasih sayang dalam bentuk perhatian. Disetiap ulang tahunku, selalu terselip doa-doa dari kalian yang dikemas dalam sebuh kejutan yang bermakna. Rasa haru dan bangga memiliki kalian yang selalu membuat ibumu ini merasa berarti. Begitupun momen-momen mereka banyak tercipta di rumah singgah. Tak jarang berdering suara telepon genggamku menerima telepon dari orang tua mereka karena menanyakan anaknya, dan tak sedikit yang mengutarakan rasa tidak enaknya kwatir anaknya merepotkan ku. "Tidak merepotkan sama sekali", itu yang selalu aku jawab pada orangtua mereka. Hingga orangtua merekapun menggapku saudara sehingga terjalin silaturahmi diantara kami semua.

Banyak anak-anak didikku yang memiliki latarbelakang perekonomian orangtuanya yang pas-pasan dan bahkan sangat sulit walau hanya untuk menyambungkan hidup sehari-hari. Dan tak sedikit diantara mereka pun yang memiliki latar belang keluarga yang tidak harmonis sehingga sangat membutuhkan ruang yang aman untuk membuat mereka nyaman agar tidak terbawa pergaulan yang tidak baik diluar sana. Ada juga diantara mereka yang beruntung karena memiliki kehidupan yang layak dan keluarga yang harmonis. Mereka semua, dengan latarbelakang kondisi yang berbeda-beda, menyatu dalam sebuah ikatan tali persaudaraan yang tercipta di rumah singgah ini. Mereka saling melengkapi, saling berbagi dan saling menyayangi. Kepuasan tersendiri yang aku rasakan sebagai seorang guru sekaligus pembina, saat memiliki anak-anak didik yang seperti mereka. Dampak terselubung dari hal tersebut adalah, terminimalisirnya kenakalan remaja yeng terjadi dikalangan remaja, saat waktu mereka tersalurkan secara positif.

Anugerah yang luar biasa, saat aku diberikan insprasi dari penggalan-penggalan kisah  anak-anak didikku tentang  kenyamanan dan kebahagiaan yang tercipta saat mereka berada di rumah singgah. Terbayangkan saat itu sebuah impian, aku ingin membuat sebuah rumah singgah yang besar bagi mereka sebagai tempat untuk belajar banyak hal, tidak hanya belajar ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu kehidupan. Aku ceritakan hal tersebut kepada mereka, dan merekapun memberikan dukungan dan semangatnya dengan penuh rona kebahagiaan. Akhirnya dengan keyakinan diri untuk mewujudkan niat baik, berdirilah yayasan pendidikan yaitu sebuah sekolah yang semula merupakan sebuah rumah kedua bagi anak-anak yang tidak mampu disebuah daerah yang secara terotorial belum produktif  karena didominasi oleh kalangan menengah kebawah secara perekonomiannya. Hingga akhirnya sekolah itu pun berkembang semakin besar dengan siswa yang beragam status sosialnya.

Berawal dari tali kasih yang terjalin di rumah singgah (rumahku), hingga menjadi inspirasi dan terwujudlah rumah singgah besar (sekolah yayasanku) impian kami. Tak lupa kupersembahkan bagi mereka dan hobiku berpramuka, sebuah sanggar kecil tempat anak-anak binaanku atau yang pernah kubina, terlepas dari mana mereka bersekolah, untuk dapat saling berdiskusi, belajar bersama, dan bercengkrama. Kekuatan kasih sayang terasa sangat luar biasa, tersadari saat aku sanggup manyatukan anak-anak dari lembaga yang berbeda bersatu di sebuah atap bangunan penuh kedamaian yaitu rumah singgah. Hikmah yang tampak begitu nyata, saat maraknya tawuran yang sering terjadi di kalangan remaja antar sekolah, tetapi diruang kecil ini, dilingkungan rumah singgah ini, semuanya terbantahkan. Yang ada justru persahabatan, persaudaran dan tali kasih yang terjalin diantara mereka.

Penggalan kisah lain yang tak kalah bermakna, dengan ruh yang dikobarkan melalui jiwa kekeluargaan menyulut hati mereka untuk saling membantu satu dan lainnya. Para kakak-kakak seniornya yang sudah mendapatkan kesempatan bekerja, membantu adik-adiknya untuk mencarikan peluang pekerjaan. Disamping itu, rumah singgah di sekolah yayasanku pun, mewadahi mereka yang tak sanggup berkuliah karena orangtua mereka memiliki keterbatasan ekonomi. Beberapa diantara mereka yang tidak beruntung itupun, bekerja di sekolah yayasanku sambil berkuliah.

Ibarat seorang ibu yang melahirkan anaknya, rasa sakit dan lelah  itu hilang seketika tatkala melihat bayi kecil mungil yang lucu itu lahir ke dunia dengan senyuman dan tangisan yang menggemaskan. Begitupun bagiku yang seorang guru, rasanya terbayar sudah lelah yang selama ini terlewati dengan mendapatkan manfaat dan hikmah yang sangat banyak, terutama melihat anak-anak binaanku sukses dan bahagia . Itulah gambaran dari indahnya kasih sayang.

Aku adalah seorang guru yang sangat bangga dengan profesiku ini. Bukan tentang materi semata, tapi tentang ketulusan hati dalam mengabdi. Menjunjung tinggi nilai-nilai karakter baik yang harus kutularkan pada anak-anak didikku menjadi salahsatu tugas mulia. Semua itu perlu ditebus dengan sebuah pengorbanan yang tidak mudah, dan mungkin tidak semua sosok guru sanggup memenuhinya, karena tidak hanya sewaktu siswa  berada di dalam kelas semata, tetapi guru harus mampu mengisi ruang hati mereka dengan makna dari nilai-nilai luhur yang akan membawa mereka menuju kesuksesan hidup dalam jalan kebaikan dan kebenaran. Sosok guru bagiku adalah sosok pengabdian yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu untuk senantiasa melimpahkan kasih sayangnya, serta secara tulus mendampingi anak-anak didiknya berproses menggali jati diri dan potensinya.

Rumah singgah yang mensugesti mereka selalu rindu untuk kembali, mengisyaratkan tali kasih yang tercipta disana begitu mempesona. Limpahan kasih sayang yang kuberikan rasanya tak sia-sia, disaat tali kasih yang telah terinternalisasi dalam diri mereka, membuat mereka saling mau peduli dan berempati terhadap sesamanya menuju masa depan mereka dalam menciptakan kebahagiaan. Karena bagiku, kesuksesan itu sangatlah relatif, dan kebahagiaan itu tidak perlu dicari tetapi harus diciptakan. Yang lebih berharga adalah saat diri kita bisa bermanfaat untuk orang banyak.


 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar