Tali Kasih Terpatri di
Rumah Singgah
Oleh
: Irma Suzilawati
Aku adalah seorang guru yang sangat senang belajar dan
bercengkrama bersama peserta didikku di manapun kami berkumpul dan nyaman,
tanpa harus dibatasi oleh dinding-dinding kelas yang kokoh dilingkungan sekolah
dan jam belajar yang terjadwal. Seragam coklat muda dan coklat tua adalah salah
satu seragam yang kubanggakan yang senantiasa membuatku tampil ceria disaat
menjadi pembina Pramuka bagi mereka. Pramuka adalah salah satu wahana yang membuatku
tak berjarak dalam mewarnai hari bersama mereka. Hari-hari ku lewati dengan
segenap kesungguhan untuk menjadi guru yang tak mengenal lelah dan tanpa celah
keraguan dalam diri untuk mengabdi.
Sebagai guru SMAN, peserta didikku adalah anak-anak
remaja atau akrab dengan panggilan "ABG" (Anak Baru Gede), yang diusianya
sangat rentan dengan berbagai kelakar serta ulah yang terkadang dinilai nakal
dalam rangka mencari jati dirinya. Kesabaran menjadi salah satu kunci
keberhasilan seorang guru dalam menjinakkan mereka agar mereka tak menjauh. Disamping
itu, kepiawaian seorang guru dalam menempatkan peran dirinya secara tepat, merupakan
salah satu jurus jitu dalam mendekati mereka untuk selalu nyaman berbagi cerita
pada kita. Kapan kita menjadi guru mereka, orangtua mereka, bahkan sahabat
mereka. Itulah yang sampai saat ini membuatku yakin, mereka tak sungkan untuk
berbagi suka dan duka padaku dalam berbagai penggalan cerita hidupnya.
Aku sosok yang tak biasa bernada tinggi dan berseloroh
memaki. Saatku masuk ke dlm ruang kelas yang riuh, aku diam sambil menatap
mereka dan sesekali sambil tersenyum kecil, hingga merekapun memahami dan
menyadari keadaannya. Mereka pun
seketika hening, dan barulah aku sapa hangat mereka dengan penuh senyuman
dan memulai pembelajaran. Senda gurau kami dalam proses pembelajaran, membuatku
selalu merasa bersemangat berada di tengah-tengah mereka, hingga sang waktu pun
berlalu tanpa terasa.
Selepas belajar atau di sela-sela hari belajar kami,
ekstrakulikuler Pramuka menjadi salah satu kegiatan yang paling dinanti untuk
bisa memfasilitasiku dalam membentuk karakter mereka agar bisa hidup dan
diterima dengan baik dalam kehidupan mereka di ruang yang jauh lebih luas dari
pada ruang kelas belajar mereka, yaitu di tengah - tengah masyarakat. Hal
tersebut selaras dengan latarbelakang pendidikanku sebagai guru sosiologi yang
mengenalkan pada mereka kehidupan bermasyarakat termasuk kepekaan sosial yang
harus mereka asah sebagai bekal hidup mereka kelak.
Aku yang semenjak kecil hobi dengan pramuka, terpatri
dalam diri hingga saat ini aku menjadi pembina, pengurus Kwartir Cabang dan
pelatih Mandala Wirabuana. Hal tersebut
membuatku larut dengan hati, saat berada di tengah-tengah peserta didikku tanpa
mengenal lelah. Justru kelelahan dan kepenatan rutinitasku, kulepaskan saat aku
bersama mereka berkegiatan. Katanya itu salah satu inspirasi bagi mereka untuk
mengenal sesuatu melalui hatinya. Totalitasku membuat mereka menganggapku tak hanya
sekedar guru, bahkan orangtua kedua bagi mereka. Ruang kelas, lingkungan
sekolah, alam terbuka dan tak terkecuali rumahku, merupakan tempat-tempat kami
saling berbagi ilmu dan pengalaman serta mengeratkan kekeluargaan. Tak bisa
kusembunyikan, rasa bangga yang luar biasa, saat rumahku menjadi tempat
berkumpulnya mereka setiap saat dan tak pernah ku batasi bagi mereka semua yang
pernah aku bina, tak terkecuali bagi mereka yang sudah lulus. Rumahku selalu
ramai oleh gelak tawa mereka untuk senantiasa berkunjung ke rumah singgah,
sebutan mereka pada rumahku.
Aku yang kian menua rasanya bahagia memiliki banyak
anak-anak didik seperti mereka. Aku mendidik mereka untuk menjadi seperti sebuah
keluarga. Suka duka mereka bagi bersama dan saling melengkapi. Berlimpah
penggalan cerita sedih dan bahagia terpotret nyata di rumah singgah. Banyak
momen yang tercipta, tatkala hati dengan tulus ingin membuat suasana penuh
makna. Diantaranya mewujudkan kasih sayang dalam bentuk perhatian. Disetiap
ulang tahunku, selalu terselip doa-doa dari kalian yang dikemas dalam sebuh
kejutan yang bermakna. Rasa haru dan bangga memiliki kalian yang selalu membuat
ibumu ini merasa berarti. Begitupun momen-momen mereka banyak tercipta di rumah
singgah. Tak jarang berdering suara telepon genggamku menerima telepon dari
orang tua mereka karena menanyakan anaknya, dan tak sedikit yang mengutarakan
rasa tidak enaknya kwatir anaknya merepotkan ku. "Tidak merepotkan sama
sekali", itu yang selalu aku jawab pada orangtua mereka. Hingga orangtua
merekapun menggapku saudara sehingga terjalin silaturahmi diantara kami semua.
Banyak anak-anak didikku yang memiliki latarbelakang
perekonomian orangtuanya yang pas-pasan dan bahkan sangat sulit walau hanya
untuk menyambungkan hidup sehari-hari. Dan tak sedikit diantara mereka pun yang
memiliki latar belang keluarga yang tidak harmonis sehingga sangat membutuhkan
ruang yang aman untuk membuat mereka nyaman agar tidak terbawa pergaulan yang
tidak baik diluar sana. Ada juga diantara mereka yang beruntung karena memiliki
kehidupan yang layak dan keluarga yang harmonis. Mereka semua, dengan
latarbelakang kondisi yang berbeda-beda, menyatu dalam sebuah ikatan tali
persaudaraan yang tercipta di rumah singgah ini. Mereka saling melengkapi,
saling berbagi dan saling menyayangi. Kepuasan tersendiri yang aku rasakan
sebagai seorang guru sekaligus pembina, saat memiliki anak-anak didik yang
seperti mereka. Dampak terselubung dari hal tersebut adalah, terminimalisirnya
kenakalan remaja yeng terjadi dikalangan remaja, saat waktu mereka tersalurkan
secara positif.
Anugerah yang luar biasa, saat aku diberikan insprasi
dari penggalan-penggalan kisah anak-anak
didikku tentang kenyamanan dan kebahagiaan
yang tercipta saat mereka berada di rumah singgah. Terbayangkan saat itu sebuah
impian, aku ingin membuat sebuah rumah singgah yang besar bagi mereka sebagai
tempat untuk belajar banyak hal, tidak hanya belajar ilmu pengetahuan tetapi
juga ilmu kehidupan. Aku ceritakan hal tersebut kepada mereka, dan merekapun
memberikan dukungan dan semangatnya dengan penuh rona kebahagiaan. Akhirnya dengan
keyakinan diri untuk mewujudkan niat baik, berdirilah yayasan pendidikan yaitu
sebuah sekolah yang semula merupakan sebuah rumah kedua bagi anak-anak yang tidak
mampu disebuah daerah yang secara terotorial belum produktif karena didominasi oleh kalangan menengah kebawah
secara perekonomiannya. Hingga akhirnya sekolah itu pun berkembang semakin
besar dengan siswa yang beragam status sosialnya.
Berawal dari tali kasih yang terjalin di rumah singgah
(rumahku), hingga menjadi inspirasi dan terwujudlah rumah singgah besar (sekolah
yayasanku) impian kami. Tak lupa kupersembahkan bagi mereka dan hobiku
berpramuka, sebuah sanggar kecil tempat anak-anak binaanku atau yang pernah
kubina, terlepas dari mana mereka bersekolah, untuk dapat saling berdiskusi,
belajar bersama, dan bercengkrama. Kekuatan kasih sayang terasa sangat luar
biasa, tersadari saat aku sanggup manyatukan anak-anak dari lembaga yang
berbeda bersatu di sebuah atap bangunan penuh kedamaian yaitu rumah singgah. Hikmah
yang tampak begitu nyata, saat maraknya tawuran yang sering terjadi di kalangan
remaja antar sekolah, tetapi diruang kecil ini, dilingkungan rumah singgah ini,
semuanya terbantahkan. Yang ada justru persahabatan, persaudaran dan tali kasih
yang terjalin diantara mereka.
Penggalan kisah lain yang tak kalah bermakna, dengan
ruh yang dikobarkan melalui jiwa kekeluargaan menyulut hati mereka untuk saling
membantu satu dan lainnya. Para kakak-kakak seniornya yang sudah mendapatkan
kesempatan bekerja, membantu adik-adiknya untuk mencarikan peluang pekerjaan.
Disamping itu, rumah singgah di sekolah yayasanku pun, mewadahi mereka yang tak
sanggup berkuliah karena orangtua mereka memiliki keterbatasan ekonomi. Beberapa
diantara mereka yang tidak beruntung itupun, bekerja di sekolah yayasanku
sambil berkuliah.
Ibarat seorang ibu yang melahirkan anaknya, rasa sakit
dan lelah itu hilang seketika tatkala
melihat bayi kecil mungil yang lucu itu lahir ke dunia dengan senyuman dan
tangisan yang menggemaskan. Begitupun bagiku yang seorang guru, rasanya
terbayar sudah lelah yang selama ini terlewati dengan mendapatkan manfaat dan
hikmah yang sangat banyak, terutama melihat anak-anak binaanku sukses dan
bahagia . Itulah gambaran dari indahnya kasih sayang.
Aku adalah seorang guru yang sangat bangga dengan
profesiku ini. Bukan tentang materi semata, tapi tentang ketulusan hati dalam
mengabdi. Menjunjung tinggi nilai-nilai karakter baik yang harus kutularkan
pada anak-anak didikku menjadi salahsatu tugas mulia. Semua itu perlu ditebus
dengan sebuah pengorbanan yang tidak mudah, dan mungkin tidak semua sosok guru
sanggup memenuhinya, karena tidak hanya sewaktu siswa berada di dalam kelas semata, tetapi guru
harus mampu mengisi ruang hati mereka dengan makna dari nilai-nilai luhur yang
akan membawa mereka menuju kesuksesan hidup dalam jalan kebaikan dan kebenaran.
Sosok guru bagiku adalah sosok pengabdian yang tidak terbatasi oleh ruang dan
waktu untuk senantiasa melimpahkan kasih sayangnya, serta secara tulus
mendampingi anak-anak didiknya berproses menggali jati diri dan potensinya.
Rumah singgah yang mensugesti mereka selalu rindu untuk kembali, mengisyaratkan tali kasih yang tercipta disana begitu mempesona. Limpahan kasih sayang yang kuberikan rasanya tak sia-sia, disaat tali kasih yang telah terinternalisasi dalam diri mereka, membuat mereka saling mau peduli dan berempati terhadap sesamanya menuju masa depan mereka dalam menciptakan kebahagiaan. Karena bagiku, kesuksesan itu sangatlah relatif, dan kebahagiaan itu tidak perlu dicari tetapi harus diciptakan. Yang lebih berharga adalah saat diri kita bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar