Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Rabu, 07 April 2021

Pahlawan Keluarga

Pahlawan Keluarga

Oleh: Irma Suzilawati

 

Sore hari menjelang akhir pekan, aku dan keluarga menikmati coklat hangat dan camilan di teras rumah kami. Kubuka laptop sembari santai memandangi kedua anak laki-lakiku yang sedang bersenda gurau. Tiba-tiba anak pertamaku berkata sambil tersenyum dan meraih tanganku menjauhkannya dari laptop, “Sudahlah mah jangan kerja terus, besokkan hari libur. Sudah saatnya mamah ga terlalu sibuk dan mulai menikmati hidup dengan sedikit bersantai “. Sejujurnya aku sedikit kaget dengan ucapan anakku yang mulai beranjak remaja. Aku hanya tersenyum sambil menutup kembali laptopku tanpa berkata apapun.

Mendengan ucapan anakku, membuat mataku refleks tertarik mengamati sekitar rumah.  Sebuah rumah idaman yang cukup luas dan nyaman, dilengkapi sebuah mobil mewah serta beberapa motor digarasi rumah. Taman yang menghiasi pekarangan dengan bunga-bunga yang bermekaran, kolam ikan hias, burung yang berkicau dan beberapa jenis kucing rumahan dalam kandang-kandang yang bersih dan terawat.

Puji syukur  ku panjatkan pada Allah SWT atas karunia yang berlimpah ini, hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata bahagia. Rasanya tak percaya melihat kondisiku kini, bila mengingat masa laluku yang begitu sulit dan menderita. Aku yang terlahir di keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dengan berbagai polemik di antara kedua orangtuaku, kian menyempitkan peluangku untuk bisa hidup seperti layaknya teman-teman sebayaku kala itu.

Tapi aku sosok yang tak mudah menyerah dengan keadaan. Masa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku lewati di sekolah negeri yang ada di daerah kelahiranku. Pada masa-masa “ingusan” itu, permasalah yang terlewati masih belum berasa begitu berat bagiku. Karena untuk bersekolah masih bisa ku tempuh dengan berjalan kaki dan uang saku pun belum berasa terlalu ku butuhkan karena aktifitasku masih relatif tidak terlalu jauh dari rumah. Ditambah lagi hobiku berorganisasi membawaku pada pergaulan pertemanan yang penuh dengan solidaritas dan selalu ada teman-teman baik disekitarku.

Prestasi yang ku raih, menggiringku untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) ke sekolah favorit yang jaraknya aga jauh dari rumah. Kutempuh sekitar lebih dari satu jam, bahkan bisa berjam-jam karena masih sulitnya kendaraan umum saat itu. Permasalah mulai bermunculan silih berganti menghampiri kehidupanku. Sementara orangtuaku sibuk dengan permasalahan mereka yang tak kunjung usai. Mereka tak menghiraukan betapa butuhnya aku akan keberadaan mereka.

Aktif di organisasi menjadi solusiku semenjak duduk di bangku SD, dan membawaku berkegiatan hingga tingkat nasional. Begitupun saat SMA, masih konsisten aku menjalani semuanya. Berbagai prestasi membuatku semakin percaya diri untuk memiliki cita-cita yang tinggi seperti teman-temanku. Aktif dalam kepengurusan organisasi yang tidak hanya di lingkungan sekolah, membawaku berkiprah di berbagai kegiatan dalam rangka meningkatan kompetensi diri serta belajar menivestasikan diri dengan harapan untuk mendapatkan berbagai peluang di masa yang akan datang.

Masa-masa di penghujung SMA pun tiba dan membuatku bingung. Saat teman-teman sibuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana kuliah mereka, sementara aku merasa tak demikian. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ke Perguaruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur prestasi tanpa tes tulis yaitu jalur PMDK (saat ini di sebut SNMPTN), tanpa meminta restu kedua orangtuaku pada awalnya. Hingga keluarlah pengumuman dan aku dinyatakan lolos di PTN yang aku inginkan. Karena aku bersikukuh, orangtuaku pun akhirnya tak punya pilihan, selain megizinkan aku menjalaninya.

Sungguh sulit rasanya dimana aku harus kuliah mandiri tanpa bisa bergantung pada orangtua, bahkan pada keluarga besarku sekalipun. Keluarga besar ayahku terpencar berjauhan, terlebih semenjak kakek nenek dari ayah meninggal, silaturahmi itu nyaris hilang terbatasi jarak. Dan kondisi ayah yang tak sesuai dengan harapan kakek nenek dari ibuku semenjak awal pernikahan orangtuaku, membuat kami berada dalam perlakuan berbeda. Sehingga aku selalu diajarkan untuk mandiri, tanpa harus bergantung pada oranglain. Beruntunglah aku mendapatkan Beasiswa, setidaknya beban pikiranku lumayan berkurang dalam memperjuangkan gelar sarjanaku.

Di pertengahan masa kuliahku, kedua orangtuaku bercerai. Kodisiku kian terpuruk dalam kesulitan dan aku terperosok dalam persoalan yang kian dalam. Aku tak hanya harus memikirkan kodisi diriku sendiri,  tetapi aku pun harus memikirkan kehidupan ibuku dan satu adikku yang masih bersekolah SMP. Tangisan dan doa senantiasa kupanjatkan, memohon petunjuk dan jalan keluar dari Allah SWT.

Senyuman senantaiasa ku ukir indah nyaris di semuan pandangan mata, termasuk dihadapan ibu dan adikku. Karena bagiku percuma saja kalau harus kuumbar, karena itu bukanlah sebuah solusi yang bijak. Aku hanya memiliki keyakinan diri untuk bisa melewati semuanya. Dan Allah pun mendengar doa-doaku, menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan jalan penghidupan bagi kami. Disela-sela kuliahku, aku berbisnis kecil-kecilan yang bisa mendapatkan penghasilan cukup untuk menghidupi kami bertiga.   

Semester penghujung kuliah pun tiba, rasa senang itu terbalut oleh himpitan beban yang begitu besar. Tugas-tugas yang bertumpuk, penelitian akhir yang sedang kujalani, persiapan ujian akhir, dan kebutuhan lainnya datang bersamaan tanpa mampu ku kendalikan. Aku yang sudah merasa “mentok” dengan kondisi, dengan terpaksa pernah mencoba memberanikan diri meminta bantuan pada saudaraku. Tapi bukan hasil atau rasa iba yang kudapat, malah sindiran tentang kondisi kedua orangtuaku yang hadir menampar hatiku dan  mencoba mengeroposi kegigihanku memperjuangkan gelar sarjanaku. Seolah tak pantas bagiku yang seorang anak dari keluarga yang berantakan, mendambakan sebuah kesuksesan. Bersyukur aku masih memiliki banyak orang-orang yang menyayangiku walau mereka bukan saudara sedarahku, tapi merekalah adalah saudara sejatiku.

Di akhir tahun 2003, berakhir sudah masa sulitku di kota penuh kenangan itu. Aku kembali menapaki daerah asal kelahiranku untuk mencari perutungan baru dengan gelar yang kumiliki. Tanpa sempat menganggur, aku langsung diterima bekerja di sebuah SMA Swasta dengan penghasilan yang walau belum besar, tetapi cukup untuk menghidupi keluargaku.

Di sela pekerjaanku, aku melanjutkan kembali hobi lamaku dalam berorganisasi. Dengan berbekal akses teman-teman lamaku, ternyata membawa banyak manfaat yang ku anggap sebagai bonus dari semangatku selama ini. Tak salah rupanya dulu aku mengganggap lelahku beraktifitas merupakan investasi masa depan yang pasti akan berguna. Silaturahmi menjadi jalan pembuka yang mengantarkanku pada berbagai akses kemudahan dalam mendapatkan peluang-peluang penghidupan.

Sepertinya dewi fortuna itu mulai menampakan keberpihakannya pada kehidupanku. Keyakinan diri  yang disertai doa tulus seorang  ibu, membuatku selalu mampu melewati rintangan yang selama ini bertubi-tubi mengujiku. Dan babak baru dalam kehidupanku, baru saja ku mulai dengan penuh semangat dan kesungguhan.

Di tahun 2008 aku mendapatkan peluang dan lolos mengikuti sertfikasi guru atau Tunjangan Profesi Guru (TPG), sebagai peserta termuda. Masih di  tahun yang sama,  ada seleksi PNS yang membuka satu formasi bidang yang sesuai dengan kompetensiku.  Sungguh anugerah yang luar biasa, kebahagiaan yang datang serasa tanpa jeda. Dari sekian banyak peserta aku dinyatakan lolos PNS mengisi satu-satunya peluang yang ada, dan di tempatkan sebagai guru di salah satu SMA Negeri.

Hikmah dari proses hidup yang terjal, membuatku banyak belajar tentang arti sebuah kematangan dalam menghadapi persoalan. Perjalanan karirku tidak banyak menemui hambatan, mungkin itu jawaban atas doa-doaku serta buah dari kesabaran perjuanganku selama ini dalam mengangkat harkat dan martabat keluargaku. Latar belakang hidupku yang keras, membuat pola pikir dan jiwa pejuangku sangat tertempa.

Di tahun 2014 aku kembali meraih sebuah mimpi yang mungkin dahulu rasanya itu hal yang mustahil bagiku. Aku bukan hanya sekedar bisa bekerja dan berpenghasilan sangat layak, tetapi aku menjadi seorang ketua yayasan sekaligus pemilik sebuah sekolah SMK Swasta di sebuah desa yang masih aga terbelakang. Yayasan itu pada awalnya didirikan untuk anak-anak yang tidak mampu sehingga bebas biaya pendidikan. Walaupun seiring waktu menyesuaikan dengan perkembangan, tanpa menghilangkan tujuan utama berdirinya. Limpahan rasa syukurku di usiaku yang masih muda, aku sudah bisa membuka peluang pekerjaan dan penghidupan bagi orang lain.

Hausnya akan peningkatan kompetensi diri senantiasa mebuatku tak lelah belajar. Sejak tahun 2016, aku mulai bergabung di tim Direktorat PSMA, Kementrian Pendidikan dan Kebudaayan  Republik Indonesia. Aktif mengikuti berbagai program-program kegiatannya secara kontinu. Bahkan aku juga selalu memanfaatkan peluang lain untuk belajar di berbagai kegiatan-kegiatan seperti di Direktorat GTK, LPMP Provinsi Jawa Barat, P4TK PPKN dan IPS dan lainnya.

Hingga akhirnya pandemi Covid 19 menyadarkanku akan nikmatnya menulis, walau aku merasa masih sangat banyak kekurangan, tapi justru itulah semangatku untuk selalu mau belajar. Membunuh kebekuan berpikir dan rasa malas yang menggerogoti diri, itu perjuangan yang luar biasa. Semangat harus mampu menundukkan nalar untuk senantiasa berpikir positif, dan alunan hati harus mampu menuangkannya dalam untaian kata indah, hingga aku merasakan kalau menulis itu mulai menjadi candu.

Menulis penggalan kisah ini, mebutuhkan keberanian untuk mau berbagi. Menebar kemanfaatan hidup adalah salah satu obsesi yang terinspirasi dari hikmah masa lalu. Perjalan ini membuatku kian tersadar. Bahwa aku hari ini adalah bentukan dari keterpurukanku di masa lalu. Kekuatan diri untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan membuatku banyak belajar dan selalu ingin menjadi insan yang jauh lebih baik. Khayalku di masa kecil yang selalu ingin menjadi super hero, dan kini sepertinya aku sudah merasakannya. Selalu menjadi pahlawan untuk keluargaku, itu adalah suatu kebahagiaan terbesar dalam hidupku.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar