Pahlawan
Keluarga
Oleh:
Irma Suzilawati
Sore hari menjelang akhir pekan, aku dan keluarga
menikmati coklat hangat dan camilan di teras rumah kami. Kubuka laptop sembari
santai memandangi kedua anak laki-lakiku yang sedang bersenda gurau. Tiba-tiba
anak pertamaku berkata sambil tersenyum dan meraih tanganku menjauhkannya dari
laptop, “Sudahlah mah jangan kerja terus, besokkan hari libur. Sudah saatnya
mamah ga terlalu sibuk dan mulai menikmati hidup dengan sedikit bersantai “.
Sejujurnya aku sedikit kaget dengan ucapan anakku yang mulai beranjak remaja.
Aku hanya tersenyum sambil menutup kembali laptopku tanpa berkata apapun.
Mendengan ucapan anakku, membuat mataku refleks tertarik
mengamati sekitar rumah. Sebuah rumah idaman
yang cukup luas dan nyaman, dilengkapi sebuah mobil mewah serta beberapa motor
digarasi rumah. Taman yang menghiasi pekarangan dengan bunga-bunga yang
bermekaran, kolam ikan hias, burung yang berkicau dan beberapa jenis kucing
rumahan dalam kandang-kandang yang bersih dan terawat.
Puji syukur ku panjatkan
pada Allah SWT atas karunia yang berlimpah ini, hingga tanpa sadar aku
meneteskan air mata bahagia. Rasanya tak percaya melihat kondisiku kini, bila
mengingat masa laluku yang begitu sulit dan menderita. Aku yang terlahir di
keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dengan berbagai polemik di antara
kedua orangtuaku, kian menyempitkan peluangku untuk bisa hidup seperti layaknya
teman-teman sebayaku kala itu.
Tapi aku sosok yang tak mudah menyerah dengan keadaan.
Masa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku lewati di sekolah
negeri yang ada di daerah kelahiranku. Pada masa-masa “ingusan” itu, permasalah
yang terlewati masih belum berasa begitu berat bagiku. Karena untuk bersekolah
masih bisa ku tempuh dengan berjalan kaki dan uang saku pun belum berasa
terlalu ku butuhkan karena aktifitasku masih relatif tidak terlalu jauh dari
rumah. Ditambah lagi hobiku berorganisasi membawaku pada pergaulan pertemanan
yang penuh dengan solidaritas dan selalu ada teman-teman baik disekitarku.
Prestasi yang ku raih, menggiringku untuk melanjutkan
Sekolah Menengah Atas (SMA) ke sekolah favorit yang jaraknya aga jauh dari
rumah. Kutempuh sekitar lebih dari satu jam, bahkan bisa berjam-jam karena
masih sulitnya kendaraan umum saat itu. Permasalah mulai bermunculan silih
berganti menghampiri kehidupanku. Sementara orangtuaku sibuk dengan permasalahan
mereka yang tak kunjung usai. Mereka tak menghiraukan betapa butuhnya aku akan
keberadaan mereka.
Aktif di organisasi menjadi solusiku semenjak duduk di
bangku SD, dan membawaku berkegiatan hingga tingkat nasional. Begitupun saat
SMA, masih konsisten aku menjalani semuanya. Berbagai prestasi membuatku
semakin percaya diri untuk memiliki cita-cita yang tinggi seperti
teman-temanku. Aktif dalam kepengurusan organisasi yang tidak hanya di
lingkungan sekolah, membawaku berkiprah di berbagai kegiatan dalam rangka
meningkatan kompetensi diri serta belajar menivestasikan diri dengan harapan untuk
mendapatkan berbagai peluang di masa yang akan datang.
Masa-masa di penghujung SMA pun tiba dan membuatku
bingung. Saat teman-teman sibuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana
kuliah mereka, sementara aku merasa tak demikian. Akhirnya aku memutuskan untuk
melanjutkan ke Perguaruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur prestasi tanpa tes
tulis yaitu jalur PMDK (saat ini di sebut SNMPTN), tanpa meminta restu kedua
orangtuaku pada awalnya. Hingga keluarlah pengumuman dan aku dinyatakan lolos
di PTN yang aku inginkan. Karena aku bersikukuh, orangtuaku pun akhirnya tak
punya pilihan, selain megizinkan aku menjalaninya.
Sungguh sulit rasanya dimana aku
harus kuliah mandiri tanpa bisa bergantung pada orangtua, bahkan pada keluarga
besarku sekalipun. Keluarga besar ayahku terpencar berjauhan, terlebih semenjak
kakek nenek dari ayah meninggal, silaturahmi itu nyaris hilang terbatasi jarak.
Dan kondisi ayah yang tak sesuai dengan harapan kakek nenek dari ibuku semenjak
awal pernikahan orangtuaku, membuat kami berada dalam perlakuan berbeda. Sehingga
aku selalu diajarkan untuk mandiri, tanpa harus bergantung pada oranglain. Beruntunglah
aku mendapatkan Beasiswa, setidaknya beban pikiranku lumayan berkurang dalam
memperjuangkan gelar sarjanaku.
Di pertengahan masa kuliahku, kedua
orangtuaku bercerai. Kodisiku kian terpuruk dalam kesulitan dan aku terperosok
dalam persoalan yang kian dalam. Aku tak hanya harus memikirkan kodisi diriku
sendiri, tetapi aku pun harus memikirkan
kehidupan ibuku dan satu adikku yang masih bersekolah SMP. Tangisan dan doa
senantiasa kupanjatkan, memohon petunjuk dan jalan keluar dari Allah SWT.
Senyuman senantaiasa ku ukir indah
nyaris di semuan pandangan mata, termasuk dihadapan ibu dan adikku. Karena
bagiku percuma saja kalau harus kuumbar, karena itu bukanlah sebuah solusi yang
bijak. Aku hanya memiliki keyakinan diri untuk bisa melewati semuanya. Dan
Allah pun mendengar doa-doaku, menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan jalan
penghidupan bagi kami. Disela-sela kuliahku, aku berbisnis kecil-kecilan yang
bisa mendapatkan penghasilan cukup untuk menghidupi kami bertiga.
Semester penghujung kuliah pun tiba,
rasa senang itu terbalut oleh himpitan beban yang begitu besar. Tugas-tugas
yang bertumpuk, penelitian akhir yang sedang kujalani, persiapan ujian akhir, dan
kebutuhan lainnya datang bersamaan tanpa mampu ku kendalikan. Aku yang sudah
merasa “mentok” dengan kondisi, dengan terpaksa pernah mencoba memberanikan
diri meminta bantuan pada saudaraku. Tapi bukan hasil atau rasa iba yang
kudapat, malah sindiran tentang kondisi kedua orangtuaku yang hadir menampar
hatiku dan mencoba mengeroposi
kegigihanku memperjuangkan gelar sarjanaku. Seolah tak pantas bagiku yang
seorang anak dari keluarga yang berantakan, mendambakan sebuah kesuksesan.
Bersyukur aku masih memiliki banyak orang-orang yang menyayangiku walau mereka
bukan saudara sedarahku, tapi merekalah adalah saudara sejatiku.
Di akhir tahun 2003, berakhir sudah
masa sulitku di kota penuh kenangan itu. Aku kembali menapaki daerah asal
kelahiranku untuk mencari perutungan baru dengan gelar yang kumiliki. Tanpa
sempat menganggur, aku langsung diterima bekerja di sebuah SMA Swasta dengan
penghasilan yang walau belum besar, tetapi cukup untuk menghidupi keluargaku.
Di sela pekerjaanku, aku melanjutkan
kembali hobi lamaku dalam berorganisasi. Dengan berbekal akses teman-teman
lamaku, ternyata membawa banyak manfaat yang ku anggap sebagai bonus dari
semangatku selama ini. Tak salah rupanya dulu aku mengganggap lelahku
beraktifitas merupakan investasi masa depan yang pasti akan berguna.
Silaturahmi menjadi jalan pembuka yang mengantarkanku pada berbagai akses
kemudahan dalam mendapatkan peluang-peluang penghidupan.
Sepertinya dewi fortuna itu mulai
menampakan keberpihakannya pada kehidupanku. Keyakinan diri yang disertai doa tulus seorang ibu, membuatku selalu mampu melewati
rintangan yang selama ini bertubi-tubi mengujiku. Dan babak baru dalam
kehidupanku, baru saja ku mulai dengan penuh semangat dan kesungguhan.
Di tahun 2008 aku mendapatkan peluang
dan lolos mengikuti sertfikasi guru atau Tunjangan Profesi Guru (TPG), sebagai
peserta termuda. Masih di tahun yang
sama, ada seleksi PNS yang membuka satu
formasi bidang yang sesuai dengan kompetensiku.
Sungguh anugerah yang luar biasa, kebahagiaan yang datang serasa tanpa
jeda. Dari sekian banyak peserta aku dinyatakan lolos PNS mengisi satu-satunya
peluang yang ada, dan di tempatkan sebagai guru di salah satu SMA Negeri.
Hikmah dari proses hidup yang terjal,
membuatku banyak belajar tentang arti sebuah kematangan dalam menghadapi
persoalan. Perjalanan karirku tidak banyak menemui hambatan, mungkin itu jawaban
atas doa-doaku serta buah dari kesabaran perjuanganku selama ini dalam mengangkat
harkat dan martabat keluargaku. Latar belakang hidupku yang keras, membuat pola
pikir dan jiwa pejuangku sangat tertempa.
Di tahun 2014 aku kembali meraih
sebuah mimpi yang mungkin dahulu rasanya itu hal yang mustahil bagiku. Aku
bukan hanya sekedar bisa bekerja dan berpenghasilan sangat layak, tetapi aku
menjadi seorang ketua yayasan sekaligus pemilik sebuah sekolah SMK Swasta di sebuah
desa yang masih aga terbelakang. Yayasan itu pada awalnya didirikan untuk
anak-anak yang tidak mampu sehingga bebas biaya pendidikan. Walaupun seiring waktu
menyesuaikan dengan perkembangan, tanpa menghilangkan tujuan utama berdirinya.
Limpahan rasa syukurku di usiaku yang masih muda, aku sudah bisa membuka
peluang pekerjaan dan penghidupan bagi orang lain.
Hausnya akan peningkatan kompetensi diri
senantiasa mebuatku tak lelah belajar. Sejak tahun 2016, aku mulai bergabung di
tim Direktorat PSMA, Kementrian Pendidikan dan Kebudaayan Republik Indonesia. Aktif mengikuti berbagai
program-program kegiatannya secara kontinu. Bahkan aku juga selalu memanfaatkan
peluang lain untuk belajar di berbagai kegiatan-kegiatan seperti di Direktorat
GTK, LPMP Provinsi Jawa Barat, P4TK PPKN dan IPS dan lainnya.
Hingga akhirnya pandemi Covid 19 menyadarkanku
akan nikmatnya menulis, walau aku merasa masih sangat banyak kekurangan, tapi
justru itulah semangatku untuk selalu mau belajar. Membunuh kebekuan berpikir
dan rasa malas yang menggerogoti diri, itu perjuangan yang luar biasa. Semangat
harus mampu menundukkan nalar untuk senantiasa berpikir positif, dan alunan hati
harus mampu menuangkannya dalam untaian kata indah, hingga aku merasakan kalau
menulis itu mulai menjadi candu.
Menulis penggalan kisah ini,
mebutuhkan keberanian untuk mau berbagi. Menebar kemanfaatan hidup adalah salah
satu obsesi yang terinspirasi dari hikmah masa lalu. Perjalan ini membuatku
kian tersadar. Bahwa aku hari ini adalah bentukan dari keterpurukanku di masa
lalu. Kekuatan diri untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan membuatku banyak
belajar dan selalu ingin menjadi insan yang jauh lebih baik. Khayalku di masa
kecil yang selalu ingin menjadi super
hero, dan kini sepertinya aku sudah merasakannya. Selalu menjadi pahlawan
untuk keluargaku, itu adalah suatu kebahagiaan terbesar dalam hidupku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar