Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Selasa, 20 April 2021

PATIDUSA - Genre puisi baru

PATIDUSA - Genre puisi baru

 "PATIDUSA" merupakan singkatan dari em- PAT TI-ga DU-a SA-tu. Puisi Patidusa ini genre terbaru di bidang literasi puisi yang baru ditemukan bentuknya oleh Agung wibowo dan diberi nama oleh Agus Supriyadi.

 Puisi Patidusa:

1. Berformat 4-3-2-1, 1-2-3-4 dan seterusnya.

2. Minimal bait adalah 2 (dua) membentuk piramida dobel. Juga bisa 3,4,5,6 bait dan seterusnya sesuai selera.

 3. Untuk pengambilan judul puisi bisa sesuka penulis menentukannya dari; kata pada kerucut, salah satu baris kalimat dalam bait, dan makna yang sesuai isi puisi. Sehingga pengambilan judul diserahkan kepada kreativitas penulisnya.

 Keistimewaan Puisi Patidusa

Membentuk makna kuat, padat, di tiap bait. Sehingga mengantarkan penulis pada penyampaian isi puisi.

 

 PUISI PATIDUSA ADA 4 FORMASI BENTUK


 1. Patidusa Asli

Format:

4-3-2-1, 1-2,3,4, dst.

 Contoh:

Arghh! Bolehkah Selamanya


Kau manis serupa madu

Rebutan para lebah

Senyummu itu

Arghhh!

 

Bolehkah

Yang hina

Amat sangat rendah

Sepertiku, miliki senyum itu?

 

Aku mengerti aku paham

Ratu inginkan raja

Tak berubah

Selamanya.

 

2. Patidusa Bias

Format:

1-2-3-4, 4-3-2-1, dst.

 Contoh:

 

Kamu Rindu Aku?

 

Kamu

Pemilik candu

Pengantar tidur jiwaku

Dalam lamunan masa lalu.

 

Kita anjing liat terkekang

Seperti tali layang

Terikat kuat

Rindu.

 

Aku?

Bukan raja

Hanya mahluk sederhana

Tanpa nama tanpa tahta.

 

3. Patidusa Cemara

Format:

1-2-3-4, 1-2-3-4, 1-2-3-4, dst.

 Contoh:

 

Kabar Burung-Burung Hitam

 

Kabar

Gagak berkata

Harimau datang berburu

Mencari darah penghuni hutan.

 

Burung

Kancil, gajah

Musang, tupai, kerbau

Berlari cepat diburu waktu.

 

Hitam

Dari kejauhan

Burung itu tersenyum

Tertawa mengumpat dalam bayang.

 

4. Patidusa Tangga

Format:

4-3-2-1, 4-3-2-1, dst.

 Contoh:

 

Jiwaku Bukan Milikmu

 

Tertunduk lesu bawah surya

Dendam amarah kebencian

Menyatu melebur

Jiwaku.

 

Aku ini siapa, bapakmu?

Ibumu, pacarmu, tetanggamu?

Nenek moyangmu?

Bukan!

 

Aku ya aku, paham?

Bukan bidak catur

Bukan anjing

Milikmu!

 

-------------------------------------

Tuntunlah Jalanku Menuju Titah-Mu

Jumat, 16 April 2021

Menyoal Kiprah MGMP Menghadapi Kemelut Pandemi Dalam Dunia Pendidikan

 

Menyoal Kiprah MGMP Menghadapi Kemelut Pandemi Dalam Dunia Pendidikan


 


 
Irma Suzilawati, S.Sos,M.M

(Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Sukabumi/ Guru SMAN I Cikembar)


Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu MGMP pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Merupakan wadah para guru sosiologi sekabupaten sukabumi bersilaturahmi, berdiskusi, meningkatkan kompetensi serta menampung aspirasi para anggotanya dalam hal mendukung terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Adapun tujuan pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, bahwa “Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab." 

Guru sosiologi sebagai salah satu sosok yang menjadi ujung tombak pelaksana pendidikan, dihadapkan pada persoalan besar guna membatu para peserta didiknya meyiapkan tidak hanya sekedar wawasan serta pengetahuan teoritis dan aplikatif, tetapi harus sanggup membentuk kesiapan mental yang matang dalam menghadapi tantangan zaman dari arus globalisasi yang kian menenyeruak ke hampir seluruh bidang kehidupan. Sikap kompetetif harus di asah guna menajamkan kesanggupan diri menghadapi persaingan yang kian tanpa sekat dan batas yang jelas.

Coronavirus disease 2019 (COVID 19) yang memulai wabahnya di Wuhan Cina, memasuki Indonesia awal maret 2020 dan semakin hari semakin merebak meminta banyak korban dengan sangat cepat. Kondisi tersebut termasuk kedalam bencana lingkungan yang dikategorikan pandemi, sehingga menuntut semua elemen masyarakat mewaspadai penyebaran dan pencegahan Covid 19 yang telah mewabah secara masif tersebut. Hal tersebut menjelma menjadi sebuah persoalan yang menggoyahkan hampir seluruh bidang kehidupan, tidak terkecuali bidang pendidikan. Salah satu dampak nyata yang diambil pemerintah dalam dunia pendidikan yaitu di tutupnya sekolah untuk kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan beralih pada pembelajaran jarak jauh (PJJ)/  Belajar Dari Rumah (BDR).

Solusi pendidikan yang dilakukan secara daring (dalam jaringan), melalui pemanfaatan teknologi  informatika dan internet pun tak dapat menjangkau sekolah-sekolah pinggiran yang syarat dengan banyak keterbatasan. Anak-anak miskin yang tidak memiliki akses serta sarana pendukung, kian jauh dari  jangkauan keadilan guna mendapatkan pendidikan.

Sementara disisi lain, muncul berbagai masalah laten yang menyertai kondisi tersebut. Tergantungnya pembelajaran terhadap ponsel pintar yang menggantikan peran-peran guru dalam mengajar hanya sanggup menyentuh ranah nalar secara konseptual. Ranah moral dan mental cenderung terabaikan. Peran orangtua yang minim dalam pengontrolan putra putrinya dalam penggunaan gawainya pun menjadi persoalan penyerta yang tak sedikit menimbulkan dampak negatif. 

Dunia pendidikan diselimuti cekam yang membutuhkan sinergitas dari berbagai pihak dalam mendapatkan alternatif solusi. Dalam menunjukan kiprahnya secara konsisten dan berkesinambungan, MGMP Sosiologi senantiasa menjaga potensi dan semangat mengabdi dari para guru-guru sosiologi sekabupaten sukabumi, untuk tetap saling mengisi dengan berbagai informasi, berdiskusi dan mencari solusi dalam menghadapi segala bentuk persoalan yang mereka hadapi dalam pembelajaran di era pandemi ini. Efektifitas dan efisiensi penggunaan media belajar yang menarik pun tak luput dari perhatian diskusi kami. Bedanya, dalam kondisi pandemi ini hanya sanggup memanfaatkan media seperti WhatsApp Grup (WAG), Zoom Meeting dan sejenisnya dalam kami berkomunikasi secara intensif.  

Berbagai upaya senantiasa para guru lakukan  untuk mengembangkan potensi peserta didik, walaupun dengan berbagai keterbatasan yang menyertainya. Peningkatan kompetensi guru melalui keterlibatan secara aktif di MGMP Sosiologi Kabupaten Sukabumi diharapkan mampu membawa sebuah dampak yang positif dalam meminimalisir masalah internal maupun eksternal. Adapun masalah internal berupa kendala pribadi, seperti kompetensi diri yang masih belum mumpuni, kemalasan ataupun hal lain yang bersumber dari diri guru itu sendiri. Sementara itu kendala-kendala eksternal merupakan berbagai kendala yang berasal dari luar dirinya, baik berkaitan dengan kendala teknis, kendala kebijakan dan lain sebagainya.

MGMP sebagai salah satu wadah bagi para guru ini, diharapkan menjadi salah satu sarana sumber pencerah dan menyambung lidah dalam menghadapi berbagai persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Bidang keilmuan sosiologi yang memfokuskan diri terhadap persoalan masyarakat, diharapkan mampu hadir solutif serta tanggap terhadap semua persoalan yang kian kompleks terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Rabu, 07 April 2021

IMPIAN ITU MILIK KAMI

 

IMPIAN ITU MILIK KAMI

Irma Suzilawati

 

 

”Totalitas tanpa batas”, kata-kata itu seolah terdengar luar biasa. Namun, terkadang melahirkan kekecewaan mendalam saat diri tak sanggup beradaptasi dengan risiko akan kejamnya realita hidup. Menjadi sosok yang hanya dimanfaatkan oleh tangan-tangan penguasa. Pada awalnya terasa menyakitkan berbalut kekecewaan. Namun, ternyata siapa sangka, Tuhan menyimpan banyak rahasia.

Tuhan memberi kesempatan umat-Nya untuk belajar. Bahkan belajar dari memaknai sebuah rasa sakit yang mendalam dan merasa diri berada di titik nadir. Dia yang terbungkam dalam cekam karena tekanan egoisme sang penguasa. Hingga tersadar akan pentingnya berkuasa guna menyelamatkan asa mereka yang penuh harap. Harapan akan sebuah kebijakan dan kebajikan.

Muram menyelimuti raut wajah seorang wanita muda dengan perawakan kecil proporsional, mengesankan pancaran jiwa yang energik. Kening mengerut, menggambarkan dia sedang berpikir sesuatu dengan keras, tetapi senyum manisnya tetap tak terlepas, menghiasi wajahnya yang manis. Dia adalah Keyla, sebut saja Key, seorang guru muda yang memiliki pola pikir yang tidak standar seperti teman-teman sebayanya. Bukan berniat ingin tampil berbeda, tetapi Key tipikal orang yang selalu merasa haus pengalaman, penuh keingintahuan, dan menyukai tantangan.

Key selalu menganggap masalah sebagai sebuah hal yang akan mendewasakan dirinya dan harus mampu dia lewati. Mungkin semua itu terjadi karena Key dibesarkan dalam kondisi keluarga yang kurang beruntung. Sulitnya meraih gelar sarjana di tengah himpitan kondisinya saat itu, membuatnya tampil menjadi sosok yang sangat menghargai peluang dalam mewujudkan obsesi diri, guna menjadi kebanggaan keluarga. Rupanya benar, bahwa hasil tak mengkhianati prosesnya. Dengan tekad dan keyakinan yang kuat, serta semangat yang tinggi, semua bisa Key lalui. Dengan begitu mulusnya, di tes perdananya, Key langsung lolos menjadi seorang guru PNS dan ditempatkan sebagai guru di salah satu SMAN.

Mentari pagi pun tiba, gedung sekolah mulai ramai dengan anak-anak sekolah. ”Selamat pagi,” sapa Key sembari melebarkan senyuman ramah kepada para muridnya.

Para murid pun menyapa balik sambil bersalaman dengan Key. Itulah cerminan Key, sang guru muda yang sejatinya membuat para siswa usia remaja itu memfavoritkan dirinya. Kepiawaiannya dalam berorganisasi menjadi salah satu kemasan yang menjadikannya sebagai guru yang senantiasa berada di tengah-tengah murid-murid yang aktif di sekolah. Pusat perhatian rekan-rekan kerjanya mulai tertuju padanya. Ada decak kagum, ada pula cibiran penuh keirian. Namun, itulah hidup, yang selalu ramai oleh para penghuninya.

Budaya senioritas di dunia kerja membatasi peluang bagi Key untuk berkreasi. Key yang tidak suka hanya berdiam diri dan hidup secara standar saja, menginginkan untuk menggali potensi dirinya dalam dunia pendidikan. Masih longgarnya aturan pemerintah saat itu, memberinya peluang untuk berkiprah di sebuah SMK swasta yang baru saja didirikan oleh beberapa pejabat saat itu. Sekolah yang baru ada namanya saja itu, memberi ruang yang begitu lebar untuk Key belajar banyak hal. Jiwanya yang tertantang oleh aktualisasi dan eksistensi, membuat Key mengorbankan nyaris separuh waktu, pikiran, bahkan terkadang materi dalam membesarkan lembaga tersebut.

Setip hari di hari kerja, pagi hingga siang Key habiskan untuk menunaikan kewajibannya sebagai guru PNS. Selepas itu, dia beranjak pergi ke tempat tugas keduanya, sebagai orang yang diberi amanah mendampingi seseorang. Seorang pria dengan sosok tinggi besar dan memiliki raut wajah yang kurang ramah dan sulit tersenyum. Pria itu seorang dosen di sebuah universitas yang cukup ternama, cerdas, berkharisma, dan sangat tegas dalam bersikap. Dialah Prama, partner kerja Key, sekaligus merupakan salah seorang pemilik atau pengurus yayasan.

Rasa segan pada awalnya menyelimuti hati Key, melihat sosok Prama yang dingin dan kaku. Akan tetapi, ternyata tak seperti kelihatannya, Prama adalah orang yang sangat baik dan bijaksana. Pekerjaan melarutkan mereka dalam sebuah persahabatan yang unik karena mereka memiliki banyak perbedaan sifat dan tampilan. Ternyata, perbedaan tersebut justru membuat mereka saling melengkapi dalam membesarkan sekolah itu.

Mereka berdua berjuang keras, bahkan tak terperhitungkan waktu yang menenggelamkan mereka dalam totalitas tanpa batas. Hingga kesuksesan pun membuat mereka melupakan rasa lelah yang sudah terlewati. Namun, semua tak berjalan mulus seperti perkiraan mereka semula. Kesuksesan ini justru merupakan awal dari bibit permasalahan baru yang Key hadapi dalam pekerjaannya.

Para penguasa itu, mereka adalah orang-orang yayasan yang sebagian besar berlatar belakang pejabat. Pada awalnya, mereka enggan mengakui di ranah publik bahwa mereka adalah pemilik karena banyak hal yang mereka pertimbangkan, termasuk masalah prestise. Akan tetapi, pada saat sekolah itu berkembang pesat, mereka justru banyak mengintervensi dan mulai menampakkan kepentingan pribadinya masing-masing. Sayangnya, berbagai kebijakan banyak yang tidak berpihak pada kepentingan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Persoalan di internal lembaga yayasan tersebut semakin menajam. Terutama saat satu per satu dari para pejabat tersebut menghadapi masa pensiun. Posh power syndrome melanda mereka. Mereka mencoba mengalihkan energi berkuasanya ke yayasan yang mereka miliki.

Akhir-akhir ini, sekolah selalu dibuat ramai oleh orang-orang yayasan yang selalu ngantor di sekolah. Berbagai kebijakan mulai menampakkan ketidakberpihakan pada jajaran struktural sekolah yang selama ini berjuang mati-matian membesarkan sekolah. Alih-alih untuk memantau intensif, mereka mulai membuat tidak nyaman para personil pejuang sekolah karena dianggap terlalu banyak tahu ranah-ranah penting dalam lembaga. Ujung-ujungnya bermuara pada keleluasaan mereka mengatur seluruh kebijakan sekolah. Terutama dalam hal pengelolaan anggaran serta peruntukannya. Pemangkasan seluruh anggaran operasional, sulitnya melakukan kegiatan siswa, bahkan anggaran untuk kegiatan penunjang pembelajaran pun semakin tidak jelas.

Hanya Prama, orang yayasan yang berada di pihak Key dan rekan-rekan kerjanya. Hal tersebut membuat Prama dalam posisi yang semakin terjepit. Dia berdiri di dua kaki, satu kaki sebagai kepala sekolah, satu kakinya lagi sebagai pengurus yayasan. Hari itu, saat Prama dalam kondisi sakit, tiba-tiba dia mendapat telepon dari rekan pengurus yayasan yang secara struktural memiliki posisi di atasnya.

”Maaf  Pak Prama, kami segenap pengurus sedang mengadakan rapat luar biasa, dan kami memutuskan mencabut SK Bapak sebagai kepala sekolah, guna penyelamatan lembaga yayasan.”

Hati Prama terpukul mendengarnya. Rasa kecewa pun menyelimuti seluruh relung batinnya. Seketika seluruh badannya lemas. Wajahnya yang jauh dari kepantasan untuk meneteskan air mata pun tiba-tiba menangis dengan tatapan kosong penuh kehancuran. Merasa dijatuhkan pada titik terendah, bahkan pemberhentian pun dilakukan lewat telepon.

Prama berteriak, meluapkan rasa hatinya yang sakit teriris. ”Apa salahku? Apa salah kalau aku berada di pihak teman-teman seperjuangan yang selama ini banyak berkorban?  Apa kalian tidak sadar, peran orang-orang yang membuat investasi yayasan berlipat-lipat? Tanpa aku, pasti kalian akan mudah berbuat semena-mena pada mereka.”

Hari pun berlalu. Senyap, melewati hari-hari tanpa sosok Prama, yang seiring waktu bersama mulai berubah menjadi sosok yang riang dan ramah. Key adalah orang yang paling merasa kehilangan, dan Key merupakan target selanjutnya. Manajemen konflik para penguasa mulai melunturkan keharmonisan yang dengan susah payah dibangun oleh Key dan Prama.

Ketidaknyamanan yang kian mengusik hati Key, membuatnya berontak dan memilih pergi dengan kekecewaan yang begitu dalam. Padahal, ada beberapa aset pribadi Key yang masih berada di sana. Key sudah sangat muak, bahkan untuk mempermasalahkannya. Key hanya bergumam, ”Allah Maha Tahu, dan tak ada gunanya aku melayani kezoliman mereka.” Berat yang paling dirasakan Key saat harus meninggalkan rekan-rekan seperjuangannya. Namun, hidup adalah pilihan dan risiko pun pasti akan menyertainya.

Sang waktu sepertinya tak rela melihat Key berduka terlalu lama. Key mencoba bangkit dari keterpurukan dan menyugesti dirinya. Menjernihkan pikirannya untuk melupakan semua kondisi yang hanya akan mengeroposi akal sehatnya. Doa-doa yang senantiasa terpanjatkan dalam suasana hati yang mencekam, dalam balut luka yang mendalam, akhirnya mulai menjelma dalam sebuah jawaban. Dewi fortuna pun datang menghampiri jiwa yang letih, membangkitkan gelora yang dulu nyata.

Sosok tinggi dengan perawakan kurus, dikenal Key sebagai sahabat lamanya yang baik hati, cerdas, dan berani, itulah Yuslan. Semangat Key mulai kembali, melalui sugesti teman lamanya itu, yang kini telah menjadi pejabat di dinas pendidikan. Referensi yang Yuslan ketahui tentang Key, menjadi motivasi yang menggerakkan hatinya untuk membantu Key.

”Konyol banget, kamu harus terpuruk dan lemah dalam kesakithatian seperti ini. Rasanya hanya sia-sia dan membuang energi saja. Ngapain ngurusin sekolah orang lain yang sebesar apa pun dan semaju apa pun nantinya tetap akan menjadi milik orang lain. Selamanya kamu akan tetap jadi pekerja di sana. Sudah saatnya kamu bangkit dan berpikir bagaimana caranya kamu bikin sekolah sendiri yang bisa menjadi laboratorium obsesi yang kamu miliki. Sekolah yang sesuai dengan apa yang kamu harapkan.” Itulah ucapan Yuslan yang menjadi mood booster, membakar gelora gila kerjanya yang sesaat sempat lenyap, terhempas larut dalam duka.

Key tak perlu waktu untuk berpikir. Dia langsung menghampiri Prama yang masih terpuruk dalam kesedihan. Dia menjelaskan dan membangkitkan semangat Prama untuk mewujudkan sebuah impian dengan mendirikan sebuah yayasan dan membangun sebuah sekolah. Sekolah yang nantinya hanya mereka dan keluarga mereka saja yang ikut andil di dalamnya. Ternyata, itulah rahasia yang Tuhan miliki, untuk membuat hambanya belajar.

Angin berhembus begitu kencang di sebuah perbukitan yang dikelilingi hamparan rumah-rumah penduduk di bawahnya. Pohon-pohon rindang dan kebun-kebun yang subur turut menghiasi pemandangan dua sosok insan dengan kobaran semangat yang luar biasa. Mereka hendak membangun sebuah sekolah di lokasi tersebut. Ternyata Key dan Prama telah berhasil mewujudkan impian mereka. Halangan dan rintangan yang menghambat tujuan, dapat mereka lalui dengan berbekal pengalaman yang mereka punya dari sekolah lama.

Key berujar, sambil tersenyum memandangi bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya, ”Semua ini membuatku semakin yakin, bahwa Allah tidak tidur. Hikmah dari buah kesabaran dan niat baik, membawa kita dalam posisi seperti saat ini. Terima kasih, ya Rabb, jagalah hati dan sikap kami untuk senantiasa amanah dalam menjalankan skenario-Mu ini.”

Aamiin ya rabbal alamin,” sahut Prama dengan sigap, sambil menengadahkan kedua telapak tangan, lalu mengusapkan ke wajahnya. Berbalut bahagia dan syukur atas nikmat Tuhan yang telah memberikan segalanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pahlawan Keluarga

Pahlawan Keluarga

Oleh: Irma Suzilawati

 

Sore hari menjelang akhir pekan, aku dan keluarga menikmati coklat hangat dan camilan di teras rumah kami. Kubuka laptop sembari santai memandangi kedua anak laki-lakiku yang sedang bersenda gurau. Tiba-tiba anak pertamaku berkata sambil tersenyum dan meraih tanganku menjauhkannya dari laptop, “Sudahlah mah jangan kerja terus, besokkan hari libur. Sudah saatnya mamah ga terlalu sibuk dan mulai menikmati hidup dengan sedikit bersantai “. Sejujurnya aku sedikit kaget dengan ucapan anakku yang mulai beranjak remaja. Aku hanya tersenyum sambil menutup kembali laptopku tanpa berkata apapun.

Mendengan ucapan anakku, membuat mataku refleks tertarik mengamati sekitar rumah.  Sebuah rumah idaman yang cukup luas dan nyaman, dilengkapi sebuah mobil mewah serta beberapa motor digarasi rumah. Taman yang menghiasi pekarangan dengan bunga-bunga yang bermekaran, kolam ikan hias, burung yang berkicau dan beberapa jenis kucing rumahan dalam kandang-kandang yang bersih dan terawat.

Puji syukur  ku panjatkan pada Allah SWT atas karunia yang berlimpah ini, hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata bahagia. Rasanya tak percaya melihat kondisiku kini, bila mengingat masa laluku yang begitu sulit dan menderita. Aku yang terlahir di keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dengan berbagai polemik di antara kedua orangtuaku, kian menyempitkan peluangku untuk bisa hidup seperti layaknya teman-teman sebayaku kala itu.

Tapi aku sosok yang tak mudah menyerah dengan keadaan. Masa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku lewati di sekolah negeri yang ada di daerah kelahiranku. Pada masa-masa “ingusan” itu, permasalah yang terlewati masih belum berasa begitu berat bagiku. Karena untuk bersekolah masih bisa ku tempuh dengan berjalan kaki dan uang saku pun belum berasa terlalu ku butuhkan karena aktifitasku masih relatif tidak terlalu jauh dari rumah. Ditambah lagi hobiku berorganisasi membawaku pada pergaulan pertemanan yang penuh dengan solidaritas dan selalu ada teman-teman baik disekitarku.

Prestasi yang ku raih, menggiringku untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) ke sekolah favorit yang jaraknya aga jauh dari rumah. Kutempuh sekitar lebih dari satu jam, bahkan bisa berjam-jam karena masih sulitnya kendaraan umum saat itu. Permasalah mulai bermunculan silih berganti menghampiri kehidupanku. Sementara orangtuaku sibuk dengan permasalahan mereka yang tak kunjung usai. Mereka tak menghiraukan betapa butuhnya aku akan keberadaan mereka.

Aktif di organisasi menjadi solusiku semenjak duduk di bangku SD, dan membawaku berkegiatan hingga tingkat nasional. Begitupun saat SMA, masih konsisten aku menjalani semuanya. Berbagai prestasi membuatku semakin percaya diri untuk memiliki cita-cita yang tinggi seperti teman-temanku. Aktif dalam kepengurusan organisasi yang tidak hanya di lingkungan sekolah, membawaku berkiprah di berbagai kegiatan dalam rangka meningkatan kompetensi diri serta belajar menivestasikan diri dengan harapan untuk mendapatkan berbagai peluang di masa yang akan datang.

Masa-masa di penghujung SMA pun tiba dan membuatku bingung. Saat teman-teman sibuk berdiskusi dengan orangtuanya tentang rencana kuliah mereka, sementara aku merasa tak demikian. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ke Perguaruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur prestasi tanpa tes tulis yaitu jalur PMDK (saat ini di sebut SNMPTN), tanpa meminta restu kedua orangtuaku pada awalnya. Hingga keluarlah pengumuman dan aku dinyatakan lolos di PTN yang aku inginkan. Karena aku bersikukuh, orangtuaku pun akhirnya tak punya pilihan, selain megizinkan aku menjalaninya.

Sungguh sulit rasanya dimana aku harus kuliah mandiri tanpa bisa bergantung pada orangtua, bahkan pada keluarga besarku sekalipun. Keluarga besar ayahku terpencar berjauhan, terlebih semenjak kakek nenek dari ayah meninggal, silaturahmi itu nyaris hilang terbatasi jarak. Dan kondisi ayah yang tak sesuai dengan harapan kakek nenek dari ibuku semenjak awal pernikahan orangtuaku, membuat kami berada dalam perlakuan berbeda. Sehingga aku selalu diajarkan untuk mandiri, tanpa harus bergantung pada oranglain. Beruntunglah aku mendapatkan Beasiswa, setidaknya beban pikiranku lumayan berkurang dalam memperjuangkan gelar sarjanaku.

Di pertengahan masa kuliahku, kedua orangtuaku bercerai. Kodisiku kian terpuruk dalam kesulitan dan aku terperosok dalam persoalan yang kian dalam. Aku tak hanya harus memikirkan kodisi diriku sendiri,  tetapi aku pun harus memikirkan kehidupan ibuku dan satu adikku yang masih bersekolah SMP. Tangisan dan doa senantiasa kupanjatkan, memohon petunjuk dan jalan keluar dari Allah SWT.

Senyuman senantaiasa ku ukir indah nyaris di semuan pandangan mata, termasuk dihadapan ibu dan adikku. Karena bagiku percuma saja kalau harus kuumbar, karena itu bukanlah sebuah solusi yang bijak. Aku hanya memiliki keyakinan diri untuk bisa melewati semuanya. Dan Allah pun mendengar doa-doaku, menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan jalan penghidupan bagi kami. Disela-sela kuliahku, aku berbisnis kecil-kecilan yang bisa mendapatkan penghasilan cukup untuk menghidupi kami bertiga.   

Semester penghujung kuliah pun tiba, rasa senang itu terbalut oleh himpitan beban yang begitu besar. Tugas-tugas yang bertumpuk, penelitian akhir yang sedang kujalani, persiapan ujian akhir, dan kebutuhan lainnya datang bersamaan tanpa mampu ku kendalikan. Aku yang sudah merasa “mentok” dengan kondisi, dengan terpaksa pernah mencoba memberanikan diri meminta bantuan pada saudaraku. Tapi bukan hasil atau rasa iba yang kudapat, malah sindiran tentang kondisi kedua orangtuaku yang hadir menampar hatiku dan  mencoba mengeroposi kegigihanku memperjuangkan gelar sarjanaku. Seolah tak pantas bagiku yang seorang anak dari keluarga yang berantakan, mendambakan sebuah kesuksesan. Bersyukur aku masih memiliki banyak orang-orang yang menyayangiku walau mereka bukan saudara sedarahku, tapi merekalah adalah saudara sejatiku.

Di akhir tahun 2003, berakhir sudah masa sulitku di kota penuh kenangan itu. Aku kembali menapaki daerah asal kelahiranku untuk mencari perutungan baru dengan gelar yang kumiliki. Tanpa sempat menganggur, aku langsung diterima bekerja di sebuah SMA Swasta dengan penghasilan yang walau belum besar, tetapi cukup untuk menghidupi keluargaku.

Di sela pekerjaanku, aku melanjutkan kembali hobi lamaku dalam berorganisasi. Dengan berbekal akses teman-teman lamaku, ternyata membawa banyak manfaat yang ku anggap sebagai bonus dari semangatku selama ini. Tak salah rupanya dulu aku mengganggap lelahku beraktifitas merupakan investasi masa depan yang pasti akan berguna. Silaturahmi menjadi jalan pembuka yang mengantarkanku pada berbagai akses kemudahan dalam mendapatkan peluang-peluang penghidupan.

Sepertinya dewi fortuna itu mulai menampakan keberpihakannya pada kehidupanku. Keyakinan diri  yang disertai doa tulus seorang  ibu, membuatku selalu mampu melewati rintangan yang selama ini bertubi-tubi mengujiku. Dan babak baru dalam kehidupanku, baru saja ku mulai dengan penuh semangat dan kesungguhan.

Di tahun 2008 aku mendapatkan peluang dan lolos mengikuti sertfikasi guru atau Tunjangan Profesi Guru (TPG), sebagai peserta termuda. Masih di  tahun yang sama,  ada seleksi PNS yang membuka satu formasi bidang yang sesuai dengan kompetensiku.  Sungguh anugerah yang luar biasa, kebahagiaan yang datang serasa tanpa jeda. Dari sekian banyak peserta aku dinyatakan lolos PNS mengisi satu-satunya peluang yang ada, dan di tempatkan sebagai guru di salah satu SMA Negeri.

Hikmah dari proses hidup yang terjal, membuatku banyak belajar tentang arti sebuah kematangan dalam menghadapi persoalan. Perjalanan karirku tidak banyak menemui hambatan, mungkin itu jawaban atas doa-doaku serta buah dari kesabaran perjuanganku selama ini dalam mengangkat harkat dan martabat keluargaku. Latar belakang hidupku yang keras, membuat pola pikir dan jiwa pejuangku sangat tertempa.

Di tahun 2014 aku kembali meraih sebuah mimpi yang mungkin dahulu rasanya itu hal yang mustahil bagiku. Aku bukan hanya sekedar bisa bekerja dan berpenghasilan sangat layak, tetapi aku menjadi seorang ketua yayasan sekaligus pemilik sebuah sekolah SMK Swasta di sebuah desa yang masih aga terbelakang. Yayasan itu pada awalnya didirikan untuk anak-anak yang tidak mampu sehingga bebas biaya pendidikan. Walaupun seiring waktu menyesuaikan dengan perkembangan, tanpa menghilangkan tujuan utama berdirinya. Limpahan rasa syukurku di usiaku yang masih muda, aku sudah bisa membuka peluang pekerjaan dan penghidupan bagi orang lain.

Hausnya akan peningkatan kompetensi diri senantiasa mebuatku tak lelah belajar. Sejak tahun 2016, aku mulai bergabung di tim Direktorat PSMA, Kementrian Pendidikan dan Kebudaayan  Republik Indonesia. Aktif mengikuti berbagai program-program kegiatannya secara kontinu. Bahkan aku juga selalu memanfaatkan peluang lain untuk belajar di berbagai kegiatan-kegiatan seperti di Direktorat GTK, LPMP Provinsi Jawa Barat, P4TK PPKN dan IPS dan lainnya.

Hingga akhirnya pandemi Covid 19 menyadarkanku akan nikmatnya menulis, walau aku merasa masih sangat banyak kekurangan, tapi justru itulah semangatku untuk selalu mau belajar. Membunuh kebekuan berpikir dan rasa malas yang menggerogoti diri, itu perjuangan yang luar biasa. Semangat harus mampu menundukkan nalar untuk senantiasa berpikir positif, dan alunan hati harus mampu menuangkannya dalam untaian kata indah, hingga aku merasakan kalau menulis itu mulai menjadi candu.

Menulis penggalan kisah ini, mebutuhkan keberanian untuk mau berbagi. Menebar kemanfaatan hidup adalah salah satu obsesi yang terinspirasi dari hikmah masa lalu. Perjalan ini membuatku kian tersadar. Bahwa aku hari ini adalah bentukan dari keterpurukanku di masa lalu. Kekuatan diri untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan membuatku banyak belajar dan selalu ingin menjadi insan yang jauh lebih baik. Khayalku di masa kecil yang selalu ingin menjadi super hero, dan kini sepertinya aku sudah merasakannya. Selalu menjadi pahlawan untuk keluargaku, itu adalah suatu kebahagiaan terbesar dalam hidupku.

 

 

PUISI HARI KARTINI

 

Kartini Masa Kini

Oleh: Irma Suzilawati

 

Setiap pagi tak luput dari sentuhannya

Menyiapkan seluruh kebutuhan seisi rumah

Bersama-sama Membangun sinergitas

Mencipta keluarga bahagia

 

Kemasan gaun berbalut kewibawaan

Sosok gesit menandai profesionalisme pekerjaan

Ranah ekternal menapaki karir kesuksesan

Meraih prestasi mencipta karya.

 

Kepiawaian nya tak perlu disangsikan

Manajemen waktu begitu apik terkondisikan

Konsistensi mengurusi dua ranah yang berimbang

Kaulah Kartini masa kini.

 

Sukabumi, 07 Februari 2021

 

 

 

Ibuku Kartiniku

Oleh: Irma Suzilawati

 

Perempuan itu

Tanpa seragam kantoran

Tanpa struk gaji bulanan

Tanpa pula kebaya dan riasan.

 

Menyambut setiap pagi penuh semangat

Menuntaskan pekerjaan domestik tanpa lelah

Menghabiskan pagi hingga petang tanpa tanda jasa

Memanggil kerinduan kami untuk kembali ke rumah.

 

Sosok yang luar biasa

Mendukung ayah bekerja prima

Kasihnya mencipta pribadi anak tumbuh sempurna

Menjelma menjadi sumber kekuatan penunjang kesuksesan.

 

Dia yang berbalut kesederhanaan

Tanpa polesan kepura-puraan

Peranmu tak kan ada yang bisa menggantikan

Ibuku kaulah Kartiniku.

 

Sukabumi, 07 Februari 2021




Jasamu Kartini

Oleh: Irma Suzilawati

 

Dahulu kaum kami termarjinalisasi

Minoritas dalam semua sisi

Menyandang stigma kaku ranah domestik

Tanpa ruang kreasi dan prestasi di ranah publik

 

Karnamu Kartini

Eksistensi kami kini diakui

Prestasi kami mampu mensejajarkan posisi

Prestise setara memuliakan kami

 

Sukabumi, 07 Februari 2021

  

 

Sosok Kartini Masa Kini

Oleh : Irma Suzilawati

 

Kebayamu yang anggun kini tak digemari

Sanggulmu yang indah kini ditinggalkan

Sosok lemah lembut mu berubah jadi kegesitan

Alunan khas suaramu kini menjadi tegas berwibawa.

 

Dunia memang berubah

Zaman memang berkembang

Semua menyesuaikan

Yang penting jiwa Kartinimu tetap dilanggengkan.

 

Semangatmu kala itu membara dalam keterbatasan

Terperangkap dalam jeruji larangan

Tugas kami kini mengisi dengan kreasi dan prestasi

Membangun citra mengokohkan eksistensi diri.

 

Sukabumi, 07 Februari 2021

 

 

 


Tali Kasih Terpatri di Rumah Singgah

 

Tali Kasih Terpatri di Rumah Singgah

Oleh : Irma Suzilawati

 

Aku adalah seorang guru yang sangat senang belajar dan bercengkrama bersama peserta didikku di manapun kami berkumpul dan nyaman, tanpa harus dibatasi oleh dinding-dinding kelas yang kokoh dilingkungan sekolah dan jam belajar yang terjadwal. Seragam coklat muda dan coklat tua adalah salah satu seragam yang kubanggakan yang senantiasa membuatku tampil ceria disaat menjadi pembina Pramuka bagi mereka. Pramuka adalah salah satu wahana yang membuatku tak berjarak dalam mewarnai hari bersama mereka. Hari-hari ku lewati dengan segenap kesungguhan untuk menjadi guru yang tak mengenal lelah dan tanpa celah keraguan dalam diri untuk mengabdi.

Sebagai guru SMAN, peserta didikku adalah anak-anak remaja atau akrab dengan panggilan "ABG" (Anak Baru Gede), yang diusianya sangat rentan dengan berbagai kelakar serta ulah yang terkadang dinilai nakal dalam rangka mencari jati dirinya. Kesabaran menjadi salah satu kunci keberhasilan seorang guru dalam menjinakkan mereka agar mereka tak menjauh. Disamping itu, kepiawaian seorang guru dalam menempatkan peran dirinya secara tepat, merupakan salah satu jurus jitu dalam mendekati mereka untuk selalu nyaman berbagi cerita pada kita. Kapan kita menjadi guru mereka, orangtua mereka, bahkan sahabat mereka. Itulah yang sampai saat ini membuatku yakin, mereka tak sungkan untuk berbagi suka dan duka padaku dalam berbagai penggalan cerita hidupnya.

Aku sosok yang tak biasa bernada tinggi dan berseloroh memaki. Saatku masuk ke dlm ruang kelas yang riuh, aku diam sambil menatap mereka dan sesekali sambil tersenyum kecil, hingga merekapun memahami dan menyadari keadaannya. Mereka pun  seketika hening, dan barulah aku sapa hangat mereka dengan penuh senyuman dan memulai pembelajaran. Senda gurau kami dalam proses pembelajaran, membuatku selalu merasa bersemangat berada di tengah-tengah mereka, hingga sang waktu pun berlalu tanpa terasa.

Selepas belajar atau di sela-sela hari belajar kami, ekstrakulikuler Pramuka menjadi salah satu kegiatan yang paling dinanti untuk bisa memfasilitasiku dalam membentuk karakter mereka agar bisa hidup dan diterima dengan baik dalam kehidupan mereka di ruang yang jauh lebih luas dari pada ruang kelas belajar mereka, yaitu di tengah - tengah masyarakat. Hal tersebut selaras dengan latarbelakang pendidikanku sebagai guru sosiologi yang mengenalkan pada mereka kehidupan bermasyarakat termasuk kepekaan sosial yang harus mereka asah sebagai bekal hidup mereka kelak.

Aku yang semenjak kecil hobi dengan pramuka, terpatri dalam diri hingga saat ini aku menjadi pembina, pengurus Kwartir Cabang dan pelatih  Mandala Wirabuana. Hal tersebut membuatku larut dengan hati, saat berada di tengah-tengah peserta didikku tanpa mengenal lelah. Justru kelelahan dan kepenatan rutinitasku, kulepaskan saat aku bersama mereka berkegiatan. Katanya itu salah satu inspirasi bagi mereka untuk mengenal sesuatu melalui hatinya. Totalitasku membuat mereka menganggapku tak hanya sekedar guru, bahkan orangtua kedua bagi mereka. Ruang kelas, lingkungan sekolah, alam terbuka dan tak terkecuali rumahku, merupakan tempat-tempat kami saling berbagi ilmu dan pengalaman serta mengeratkan kekeluargaan. Tak bisa kusembunyikan, rasa bangga yang luar biasa, saat rumahku menjadi tempat berkumpulnya mereka setiap saat dan tak pernah ku batasi bagi mereka semua yang pernah aku bina, tak terkecuali bagi mereka yang sudah lulus. Rumahku selalu ramai oleh gelak tawa mereka untuk senantiasa berkunjung ke rumah singgah, sebutan mereka pada rumahku.

Aku yang kian menua rasanya bahagia memiliki banyak anak-anak didik seperti mereka. Aku mendidik mereka untuk menjadi seperti sebuah keluarga. Suka duka mereka bagi bersama dan saling melengkapi. Berlimpah penggalan cerita sedih dan bahagia terpotret nyata di rumah singgah. Banyak momen yang tercipta, tatkala hati dengan tulus ingin membuat suasana penuh makna. Diantaranya mewujudkan kasih sayang dalam bentuk perhatian. Disetiap ulang tahunku, selalu terselip doa-doa dari kalian yang dikemas dalam sebuh kejutan yang bermakna. Rasa haru dan bangga memiliki kalian yang selalu membuat ibumu ini merasa berarti. Begitupun momen-momen mereka banyak tercipta di rumah singgah. Tak jarang berdering suara telepon genggamku menerima telepon dari orang tua mereka karena menanyakan anaknya, dan tak sedikit yang mengutarakan rasa tidak enaknya kwatir anaknya merepotkan ku. "Tidak merepotkan sama sekali", itu yang selalu aku jawab pada orangtua mereka. Hingga orangtua merekapun menggapku saudara sehingga terjalin silaturahmi diantara kami semua.

Banyak anak-anak didikku yang memiliki latarbelakang perekonomian orangtuanya yang pas-pasan dan bahkan sangat sulit walau hanya untuk menyambungkan hidup sehari-hari. Dan tak sedikit diantara mereka pun yang memiliki latar belang keluarga yang tidak harmonis sehingga sangat membutuhkan ruang yang aman untuk membuat mereka nyaman agar tidak terbawa pergaulan yang tidak baik diluar sana. Ada juga diantara mereka yang beruntung karena memiliki kehidupan yang layak dan keluarga yang harmonis. Mereka semua, dengan latarbelakang kondisi yang berbeda-beda, menyatu dalam sebuah ikatan tali persaudaraan yang tercipta di rumah singgah ini. Mereka saling melengkapi, saling berbagi dan saling menyayangi. Kepuasan tersendiri yang aku rasakan sebagai seorang guru sekaligus pembina, saat memiliki anak-anak didik yang seperti mereka. Dampak terselubung dari hal tersebut adalah, terminimalisirnya kenakalan remaja yeng terjadi dikalangan remaja, saat waktu mereka tersalurkan secara positif.

Anugerah yang luar biasa, saat aku diberikan insprasi dari penggalan-penggalan kisah  anak-anak didikku tentang  kenyamanan dan kebahagiaan yang tercipta saat mereka berada di rumah singgah. Terbayangkan saat itu sebuah impian, aku ingin membuat sebuah rumah singgah yang besar bagi mereka sebagai tempat untuk belajar banyak hal, tidak hanya belajar ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu kehidupan. Aku ceritakan hal tersebut kepada mereka, dan merekapun memberikan dukungan dan semangatnya dengan penuh rona kebahagiaan. Akhirnya dengan keyakinan diri untuk mewujudkan niat baik, berdirilah yayasan pendidikan yaitu sebuah sekolah yang semula merupakan sebuah rumah kedua bagi anak-anak yang tidak mampu disebuah daerah yang secara terotorial belum produktif  karena didominasi oleh kalangan menengah kebawah secara perekonomiannya. Hingga akhirnya sekolah itu pun berkembang semakin besar dengan siswa yang beragam status sosialnya.

Berawal dari tali kasih yang terjalin di rumah singgah (rumahku), hingga menjadi inspirasi dan terwujudlah rumah singgah besar (sekolah yayasanku) impian kami. Tak lupa kupersembahkan bagi mereka dan hobiku berpramuka, sebuah sanggar kecil tempat anak-anak binaanku atau yang pernah kubina, terlepas dari mana mereka bersekolah, untuk dapat saling berdiskusi, belajar bersama, dan bercengkrama. Kekuatan kasih sayang terasa sangat luar biasa, tersadari saat aku sanggup manyatukan anak-anak dari lembaga yang berbeda bersatu di sebuah atap bangunan penuh kedamaian yaitu rumah singgah. Hikmah yang tampak begitu nyata, saat maraknya tawuran yang sering terjadi di kalangan remaja antar sekolah, tetapi diruang kecil ini, dilingkungan rumah singgah ini, semuanya terbantahkan. Yang ada justru persahabatan, persaudaran dan tali kasih yang terjalin diantara mereka.

Penggalan kisah lain yang tak kalah bermakna, dengan ruh yang dikobarkan melalui jiwa kekeluargaan menyulut hati mereka untuk saling membantu satu dan lainnya. Para kakak-kakak seniornya yang sudah mendapatkan kesempatan bekerja, membantu adik-adiknya untuk mencarikan peluang pekerjaan. Disamping itu, rumah singgah di sekolah yayasanku pun, mewadahi mereka yang tak sanggup berkuliah karena orangtua mereka memiliki keterbatasan ekonomi. Beberapa diantara mereka yang tidak beruntung itupun, bekerja di sekolah yayasanku sambil berkuliah.

Ibarat seorang ibu yang melahirkan anaknya, rasa sakit dan lelah  itu hilang seketika tatkala melihat bayi kecil mungil yang lucu itu lahir ke dunia dengan senyuman dan tangisan yang menggemaskan. Begitupun bagiku yang seorang guru, rasanya terbayar sudah lelah yang selama ini terlewati dengan mendapatkan manfaat dan hikmah yang sangat banyak, terutama melihat anak-anak binaanku sukses dan bahagia . Itulah gambaran dari indahnya kasih sayang.

Aku adalah seorang guru yang sangat bangga dengan profesiku ini. Bukan tentang materi semata, tapi tentang ketulusan hati dalam mengabdi. Menjunjung tinggi nilai-nilai karakter baik yang harus kutularkan pada anak-anak didikku menjadi salahsatu tugas mulia. Semua itu perlu ditebus dengan sebuah pengorbanan yang tidak mudah, dan mungkin tidak semua sosok guru sanggup memenuhinya, karena tidak hanya sewaktu siswa  berada di dalam kelas semata, tetapi guru harus mampu mengisi ruang hati mereka dengan makna dari nilai-nilai luhur yang akan membawa mereka menuju kesuksesan hidup dalam jalan kebaikan dan kebenaran. Sosok guru bagiku adalah sosok pengabdian yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu untuk senantiasa melimpahkan kasih sayangnya, serta secara tulus mendampingi anak-anak didiknya berproses menggali jati diri dan potensinya.

Rumah singgah yang mensugesti mereka selalu rindu untuk kembali, mengisyaratkan tali kasih yang tercipta disana begitu mempesona. Limpahan kasih sayang yang kuberikan rasanya tak sia-sia, disaat tali kasih yang telah terinternalisasi dalam diri mereka, membuat mereka saling mau peduli dan berempati terhadap sesamanya menuju masa depan mereka dalam menciptakan kebahagiaan. Karena bagiku, kesuksesan itu sangatlah relatif, dan kebahagiaan itu tidak perlu dicari tetapi harus diciptakan. Yang lebih berharga adalah saat diri kita bisa bermanfaat untuk orang banyak.