IMPIAN
ITU MILIK KAMI
Irma
Suzilawati
”Totalitas tanpa batas”, kata-kata itu seolah
terdengar luar biasa. Namun, terkadang melahirkan kekecewaan mendalam saat diri
tak sanggup beradaptasi dengan risiko akan kejamnya realita hidup. Menjadi
sosok yang hanya dimanfaatkan oleh tangan-tangan penguasa. Pada awalnya terasa menyakitkan
berbalut kekecewaan. Namun, ternyata siapa sangka, Tuhan menyimpan banyak
rahasia.
Tuhan memberi kesempatan umat-Nya untuk belajar. Bahkan
belajar dari memaknai sebuah rasa sakit yang mendalam dan merasa diri berada di
titik nadir. Dia yang terbungkam dalam cekam karena tekanan egoisme sang
penguasa. Hingga tersadar akan pentingnya berkuasa guna menyelamatkan asa
mereka yang penuh harap. Harapan akan sebuah kebijakan dan kebajikan.
Muram menyelimuti raut wajah seorang wanita muda
dengan perawakan kecil proporsional, mengesankan pancaran jiwa yang energik.
Kening mengerut, menggambarkan dia sedang berpikir sesuatu dengan keras, tetapi
senyum manisnya tetap tak terlepas, menghiasi wajahnya yang manis. Dia adalah
Keyla, sebut saja Key, seorang guru muda yang memiliki pola pikir yang tidak
standar seperti teman-teman sebayanya. Bukan berniat ingin tampil berbeda,
tetapi Key tipikal orang yang selalu merasa haus pengalaman, penuh keingintahuan,
dan menyukai tantangan.
Key selalu menganggap masalah sebagai sebuah hal yang
akan mendewasakan dirinya dan harus mampu dia lewati. Mungkin semua itu terjadi
karena Key dibesarkan dalam kondisi keluarga yang kurang beruntung. Sulitnya
meraih gelar sarjana di tengah himpitan kondisinya saat itu, membuatnya tampil
menjadi sosok yang sangat menghargai peluang dalam mewujudkan obsesi diri, guna
menjadi kebanggaan keluarga. Rupanya benar, bahwa hasil tak mengkhianati prosesnya.
Dengan tekad dan keyakinan yang kuat, serta semangat yang tinggi, semua bisa
Key lalui. Dengan begitu mulusnya, di tes perdananya, Key langsung lolos
menjadi seorang guru PNS dan ditempatkan sebagai guru di salah satu SMAN.
Mentari pagi pun tiba, gedung sekolah mulai ramai
dengan anak-anak sekolah. ”Selamat pagi,” sapa Key sembari melebarkan senyuman
ramah kepada para muridnya.
Para murid pun menyapa balik sambil bersalaman dengan
Key. Itulah cerminan Key, sang guru muda yang sejatinya membuat para siswa usia
remaja itu memfavoritkan dirinya. Kepiawaiannya dalam berorganisasi menjadi
salah satu kemasan yang menjadikannya sebagai guru yang senantiasa berada di tengah-tengah
murid-murid yang aktif di sekolah. Pusat perhatian rekan-rekan kerjanya mulai
tertuju padanya. Ada decak kagum, ada pula cibiran penuh keirian. Namun, itulah
hidup, yang selalu ramai oleh para penghuninya.
Budaya senioritas di dunia kerja membatasi peluang
bagi Key untuk berkreasi. Key yang tidak suka hanya berdiam diri dan hidup
secara standar saja, menginginkan untuk menggali potensi dirinya dalam dunia
pendidikan. Masih longgarnya aturan pemerintah saat itu, memberinya peluang
untuk berkiprah di sebuah SMK swasta yang baru saja didirikan oleh beberapa
pejabat saat itu. Sekolah yang baru ada namanya saja itu, memberi ruang yang
begitu lebar untuk Key belajar banyak hal. Jiwanya yang tertantang oleh
aktualisasi dan eksistensi, membuat Key mengorbankan nyaris separuh waktu,
pikiran, bahkan terkadang materi dalam membesarkan lembaga tersebut.
Setip hari di hari kerja, pagi hingga siang Key
habiskan untuk menunaikan kewajibannya sebagai guru PNS. Selepas itu, dia
beranjak pergi ke tempat tugas keduanya, sebagai orang yang diberi amanah
mendampingi seseorang. Seorang pria dengan sosok tinggi besar dan memiliki raut
wajah yang kurang ramah dan sulit tersenyum. Pria itu seorang dosen di sebuah universitas
yang cukup ternama, cerdas, berkharisma, dan sangat tegas dalam bersikap.
Dialah Prama, partner kerja Key, sekaligus
merupakan salah seorang pemilik atau pengurus yayasan.
Rasa segan pada awalnya menyelimuti hati Key, melihat
sosok Prama yang dingin dan kaku. Akan tetapi, ternyata tak seperti
kelihatannya, Prama adalah orang yang sangat baik dan bijaksana. Pekerjaan
melarutkan mereka dalam sebuah persahabatan yang unik karena mereka memiliki
banyak perbedaan sifat dan tampilan. Ternyata, perbedaan tersebut justru membuat
mereka saling melengkapi dalam membesarkan sekolah itu.
Mereka berdua berjuang keras, bahkan tak
terperhitungkan waktu yang menenggelamkan mereka dalam totalitas tanpa batas. Hingga
kesuksesan pun membuat mereka melupakan rasa lelah yang sudah terlewati. Namun,
semua tak berjalan mulus seperti perkiraan mereka semula. Kesuksesan ini justru
merupakan awal dari bibit permasalahan baru yang Key hadapi dalam pekerjaannya.
Para penguasa itu, mereka adalah orang-orang yayasan
yang sebagian besar berlatar belakang pejabat. Pada awalnya, mereka enggan
mengakui di ranah publik bahwa mereka adalah pemilik karena banyak hal yang
mereka pertimbangkan, termasuk masalah prestise. Akan tetapi, pada saat sekolah
itu berkembang pesat, mereka justru banyak mengintervensi dan mulai menampakkan
kepentingan pribadinya masing-masing. Sayangnya, berbagai kebijakan banyak yang
tidak berpihak pada kepentingan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Persoalan di internal lembaga yayasan tersebut semakin
menajam. Terutama saat satu per satu dari para pejabat tersebut menghadapi masa
pensiun. Posh power syndrome melanda
mereka. Mereka mencoba mengalihkan energi berkuasanya ke yayasan yang mereka
miliki.
Akhir-akhir ini, sekolah selalu dibuat ramai oleh
orang-orang yayasan yang selalu ngantor
di sekolah. Berbagai kebijakan mulai menampakkan ketidakberpihakan pada jajaran
struktural sekolah yang selama ini berjuang mati-matian membesarkan sekolah.
Alih-alih untuk memantau intensif, mereka mulai membuat tidak nyaman para
personil pejuang sekolah karena dianggap terlalu banyak tahu ranah-ranah
penting dalam lembaga. Ujung-ujungnya bermuara pada keleluasaan mereka mengatur
seluruh kebijakan sekolah. Terutama dalam hal pengelolaan anggaran serta
peruntukannya. Pemangkasan seluruh anggaran operasional, sulitnya melakukan
kegiatan siswa, bahkan anggaran untuk kegiatan penunjang pembelajaran pun
semakin tidak jelas.
Hanya Prama, orang yayasan yang berada di pihak Key
dan rekan-rekan kerjanya. Hal tersebut membuat Prama dalam posisi yang semakin
terjepit. Dia berdiri di dua kaki, satu kaki sebagai kepala sekolah, satu
kakinya lagi sebagai pengurus yayasan. Hari itu, saat Prama dalam kondisi
sakit, tiba-tiba dia mendapat telepon dari rekan pengurus yayasan yang secara
struktural memiliki posisi di atasnya.
”Maaf Pak
Prama, kami segenap pengurus sedang mengadakan rapat luar biasa, dan kami
memutuskan mencabut SK Bapak sebagai kepala sekolah, guna penyelamatan lembaga
yayasan.”
Hati Prama terpukul mendengarnya. Rasa kecewa pun
menyelimuti seluruh relung batinnya. Seketika seluruh badannya lemas. Wajahnya
yang jauh dari kepantasan untuk meneteskan air mata pun tiba-tiba menangis
dengan tatapan kosong penuh kehancuran. Merasa dijatuhkan pada titik terendah,
bahkan pemberhentian pun dilakukan lewat telepon.
Prama berteriak, meluapkan rasa hatinya yang sakit
teriris. ”Apa salahku? Apa salah kalau aku berada di pihak teman-teman
seperjuangan yang selama ini banyak berkorban?
Apa kalian tidak sadar, peran orang-orang yang membuat investasi yayasan
berlipat-lipat? Tanpa aku, pasti kalian akan mudah berbuat semena-mena pada
mereka.”
Hari pun berlalu. Senyap, melewati hari-hari tanpa
sosok Prama, yang seiring waktu bersama mulai berubah menjadi sosok yang riang
dan ramah. Key adalah orang yang paling merasa kehilangan, dan Key merupakan
target selanjutnya. Manajemen konflik para penguasa mulai melunturkan
keharmonisan yang dengan susah payah dibangun oleh Key dan Prama.
Ketidaknyamanan yang kian mengusik hati Key,
membuatnya berontak dan memilih pergi dengan kekecewaan yang begitu dalam.
Padahal, ada beberapa aset pribadi Key yang masih berada di sana. Key sudah
sangat muak, bahkan untuk mempermasalahkannya. Key hanya bergumam, ”Allah Maha
Tahu, dan tak ada gunanya aku melayani kezoliman mereka.” Berat yang paling
dirasakan Key saat harus meninggalkan rekan-rekan seperjuangannya. Namun, hidup
adalah pilihan dan risiko pun pasti akan menyertainya.
Sang waktu sepertinya tak rela melihat Key berduka
terlalu lama. Key mencoba bangkit dari keterpurukan dan menyugesti dirinya. Menjernihkan
pikirannya untuk melupakan semua kondisi yang hanya akan mengeroposi akal
sehatnya. Doa-doa yang senantiasa terpanjatkan dalam suasana hati yang mencekam,
dalam balut luka yang mendalam, akhirnya mulai menjelma dalam sebuah jawaban. Dewi
fortuna pun datang menghampiri jiwa yang letih, membangkitkan gelora yang dulu
nyata.
Sosok tinggi dengan perawakan kurus, dikenal Key
sebagai sahabat lamanya yang baik hati, cerdas, dan berani, itulah Yuslan.
Semangat Key mulai kembali, melalui sugesti teman lamanya itu, yang kini telah
menjadi pejabat di dinas pendidikan. Referensi yang Yuslan ketahui tentang Key,
menjadi motivasi yang menggerakkan hatinya untuk membantu Key.
”Konyol banget, kamu harus terpuruk dan lemah dalam kesakithatian
seperti ini. Rasanya hanya sia-sia dan membuang energi saja. Ngapain ngurusin sekolah orang lain yang
sebesar apa pun dan semaju apa pun nantinya tetap akan menjadi milik orang lain.
Selamanya kamu akan tetap jadi pekerja di sana. Sudah saatnya kamu bangkit dan
berpikir bagaimana caranya kamu bikin sekolah sendiri yang bisa menjadi
laboratorium obsesi yang kamu miliki. Sekolah yang sesuai dengan apa yang kamu
harapkan.” Itulah ucapan Yuslan yang menjadi mood booster, membakar gelora gila kerjanya yang sesaat sempat
lenyap, terhempas larut dalam duka.
Key tak perlu waktu untuk berpikir. Dia langsung
menghampiri Prama yang masih terpuruk dalam kesedihan. Dia menjelaskan dan
membangkitkan semangat Prama untuk mewujudkan sebuah impian dengan mendirikan
sebuah yayasan dan membangun sebuah sekolah. Sekolah yang nantinya hanya mereka
dan keluarga mereka saja yang ikut andil di dalamnya. Ternyata, itulah rahasia
yang Tuhan miliki, untuk membuat hambanya belajar.
Angin berhembus begitu kencang di sebuah perbukitan
yang dikelilingi hamparan rumah-rumah penduduk di bawahnya. Pohon-pohon rindang
dan kebun-kebun yang subur turut menghiasi pemandangan dua sosok insan dengan
kobaran semangat yang luar biasa. Mereka hendak membangun sebuah sekolah di
lokasi tersebut. Ternyata Key dan Prama telah berhasil mewujudkan impian mereka.
Halangan dan rintangan yang menghambat tujuan, dapat mereka lalui dengan
berbekal pengalaman yang mereka punya dari sekolah lama.
Key berujar, sambil tersenyum memandangi bangunan yang
berdiri kokoh di hadapannya, ”Semua ini membuatku semakin yakin, bahwa Allah
tidak tidur. Hikmah dari buah kesabaran dan niat baik, membawa kita dalam
posisi seperti saat ini. Terima kasih, ya Rabb,
jagalah hati dan sikap kami untuk senantiasa amanah dalam menjalankan
skenario-Mu ini.”
”Aamiin
ya rabbal alamin,” sahut Prama dengan sigap, sambil menengadahkan kedua
telapak tangan, lalu mengusapkan ke wajahnya. Berbalut bahagia dan syukur atas
nikmat Tuhan yang telah memberikan segalanya.