Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Senin, 13 September 2021

Gerakan Literasi Sekolah dan Masyarakat

Resume ke-23: Gerakan Literasi Sekolah dan Masyarakat 


Resume Pertemuan Ke-23

Hari/ Tanggal: Jumat, 30 Juli 2021

Tema: Gerakan Literasi Sekolah dan Masyarakat

Narasumber: Bapak Bambang Purwanto, S.Kom (Mr. Bams)

Moderator: Ibu Maesaroh (Ibu Mae)

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com


Malam hari ini kami menikmati sajian menarik dari dua moderator kondang yang berkolaborasi memberikan suguhan materi yang bergizi. Ibu Mae sang bloger milenial, yang selalu menawan hati dalam menyajikan untaian kata yang mengalun indah. Beliau memposisikan diri sebagai moderator membersamai Narasumber keren yang juga moderator handal, yang sudah tak asing lagi bagi kami. Gayanya yang khas ketika memandu acara, membawa siluet pesona yang memukau. Di Tim Omjay, beliau dikenal pula dengan sapaan Bapak Mario Teduh, karena gaya menulisnya yang sarat dengan motivasi, membuat beliau begitu unik. Sepak Terjangnya di dunia literasi patut di acungi jempol, menebar motivasi lewat sebuah literasi adalah kekhasan dari Bapak Bambang Purwanto, S.Kom.

Meskipun kita sudah mengenal sang narasumber, namun tak lengkap rasanya jika kita tak mengenalnya lebih detail. Berikut paparan CV beliau.

https://penamrbams.id/cv-bambang-purwanto/

Disampaikan pula CV beliau dalam gambar berikut ini:



Ada dua hal yang disampaikan oleh Mr Bams pada bahasan malam hari ini, yaitu Gerakan Literasi Masyarakat dan Gerakan Literasi Sekolah. Narasumber kali ini memiliki ciri khas dalam penyajian materinya, yaitu gaya mendongeng diselingi nyanyiannya. Beliau seorang pendongeng yang menamakan dirinya Ayah Salwa.

Gerakan Literasi Masyarakat

Kita lihat jejak digitalnya...

Kata kuncinya: Pendongeng Ayah Salwa

Menjadi pendongeng membuat Mr.Bams harus sering membaca buku. Membaca buku membuat lebih banyak pengetahun dan kosa kata. Cita-cita membangun taman baca pun terwujud tanggal 5 Oktober 2011. Tahun ini akan genap 10 tahun.

Saksikan jejak digitalnya untuk TBM AS Lebakwangi


Taman baca yang dirikan, dibangun Mr.Bams dengan cinta. Memang tidak mudah saat awal berdirinya. Istri beliaupun Ibu Salwa awalnya kurang begitu respon dengan adanya taman baca ini. Modal buku yang dikumpulkan dari koleksi pribadi di tahun 2011 berjumlah 200 buku, kini jelang 10 tahun ada sekitar 6000 buku.

"TBM yang dibangun bersama di rumah pribadi menjadi tempat berkumpulnya anak-anak. Bila anak-anak datang ke rumah bisa sampai dapur penuh anak-anak yang membaca buku. Alhamdulillah baru satu tahun mendirikan TBM AS Lebakwangi, kami mendapat amanah dari Allah sebuah rumah yang hanya terhalang 3 rumah." Tutur Mr Bams

Dengan adanya TBM AS Lebakwangi,  Mr.Bams mampu mengajak masyarakat untuk gemar membaca. Tidak hanya itu kegiatan-kegiatan lain yang disenangi oleh masyarakat pun diselenggarakannya. Berbagai pelatihan mulai dari yang sederhana, menggambar, mewarnai, belajar membaca, belajar komputer, internet sehat, motivasi sampai kewirausahaan.

https://www.google.com/maps/place/TBM+AS+Lebakwangi/@-7.0407779,107.6063948,17z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e68ebbab961d753:0xcefcfae9e4958ed5!8m2!3d-7.0407779!4d107.6085835?hl=id

Raihan prestasi dari TBM adalah :

1. Juara 1 TBM Se Kab Bandung tahun 2013 dan 2014

2. Juara 2 TBM se Jawa Barat tahun 2013

3. Juara 1 TBM se Jawa Barat tahun 2014

4. Peraih Sabilulungan Award 2018 dari Bupati Kab Bandung, Bapak Dadang Naser

5. Juara 1 Keteladanan TBM SE Kab Bandung tahun 2019

Itulah Gerakan Literasi Masyarakat yang coba digambarkan MR.Bams. Baiklah selanjutnya kita simak pemaparan Gerakan Literasi Sekolahnya. 

Gerakan Literasi Sekolah

Mr Bams memberikan contoh GLS di salah satu sekolah yaitu SMP Taruna Bakti Kota Bandung. Kita lihat tayangan pada link di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ERfPc1VcRho

 


Dimulai 2015 saat mentrinya Bapak Anies Baswedan menggulirlan GLS, disambut baik oleh Kepala Sekolah SMP Taruna Bakti. Diantaranya menerima tantangan WJLRC Jawa Barat, yaitu tantangan membaca dan kiprah gemilang lainnya. Berbagai penghargaan menjadi saksi suksesnya perjalanan GLS di sekolah ini.






Jejak-jejak digital Mr. Bams yang lainnya:



TBM AS Lebakwangi, Ayah Salwa, Literasi SMP Taruna Bakti, Mr. Bams, semuanya menjadi bukti jejak-jejak digital kiprah beliau dalam dunia literasi yang luar biasa beliau tekuni. 

Mr. Bams mengajak seluruh peserta kelas menulis ini, agar tumbuh rasa cinta kepada gerakan literasi. Baik di sekolah, masyarakat dan keluarga. Di rumah beliau punya program literasi, yaitu: Jumat (Cek bacaan Al Quran); Sabtu (Berbagi kata) dan  Minggu (Berbagi kalimat).

Kalimat Bahagia Mr. Bams : Berkarya terus, cintai apa yang ada disekeliling kita dengan ilmu. Sumber ilmu salah satunya ada di buku. Hadirkanlah buku dimana saja. 

Bila setiap hari, bahkan setiap detik memberikan yang terbaik, semoga membuat kita selalu bahagia. Kekecewaan semoga tidaklah kita dapat bila waktu memang berakhir.

Sesungguhnya kehidupan ini abadi, hanya saja tempat yang berbeda yang akan kita singgahi. Dunia menjadi tempat seluas-luasnya untuk melakukan kebaikan apapun. Kelak kebaikan akan menjadi teman sejati yang membuat hidup akan indah ditempat berikutnya.

Mari bergerak. Mari berkarya. Ajak siapapun untuk gemar membaca. Literasi sudah begitu luas.

Luarbiasa, saya begitu terpana menyimak seluruh paparan Mr. Bams. Materi malam ini ditutup oleh pesan-pesan semangat:

  • Saat keyakinan semakin kuat bahwa kehidupan ini ada yang mengatur, semoga selalu ada harapan yang ada didalam hati dan pikiran. Harapan untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
  • Melakukan kebaikan dengan apa yang kita miliki akan menjadi bekal menjalani hidup ini dengan bahagia.
  • Menulis di blog sebagai bentuk latihan menulis itu sangat luar biasa, teruskan dan teruskan.
  •  Ambil peranlah di sekolah dan di masyarakat untuk memajukan gerakan literasi
  •  Tersenyumlah karena Tuhan masih memberikan kesempatan berkarya.
  • Bergeraklah untuk menyimpan jejak-jejak dengan indah agar tetap hadir sepanjang zaman.
  •  Kita bisa hilang karena waktu telah selesai, tapi jejak digital akan menjadi penyemangat untuk generasi selanjutnya, anak, murid, cucu dan seterusnya…
Semoga resume sederhana ini bisa menginspirasi kita semua. 🤩






Menulis Dalam Kesibukan

Resume ke-25: Menulis Dalam Kesibukan


Resume Pertemuan Ke-25

Hari/ Tanggal: Jumat, 30 Juli 2021

Tema: Menulis Dalam Kesibukan

Narasumber: Bapak Much. Khoiri

Moderator: Bapak Wijaya Kusumah (Omjay)

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com


Duet luar biasa yang disajikan pada kami para peserta belajar menulis pada malam hari ini. Sungguh aroma yang begitu memikat para pemirsanya dan mampu menyita seluruh fokus perhatian kami pada materi yang disajikan melalui Zoom dari para tokoh inspiratif ini. Narasumber hebat yaitu Bapak Much. Khoiri dan didampingi Omjay sang bloger Indonesia sebagai moderatornya mengemas materi dengan begitu apik dan begitu serasinya.

Paparan awal yang begitu mengena tersampaikan singkat padat dan berisi pada kami oleh Omjay,

"Kesibukan selalu menjadi alasan untuk tidak menulis . Setiap profesi mempunyai kesibukan masing-masing, namun dibalik kesibukan akan ada peluang dan kesempatan, sebagaimana kesulitan akan ada kemudahan.

Perspektif kesibukan bermacam-macam, bisa menjadi beban dan bersifat alamiah. Orang yang menikmati kesibukan dengan menulis, ia seperti menempati sebuah tingkatan maqom sebagaimana maqom tasawuf dari syariat, hakikat dan ma'rifat.

Ternyata... TUGAS justru diberikan pada yang suka SIBUK. bener !!!"

Paparan Narasumber sangat sitematis dengan dipandu oleh slide yang telah beliau siapkan, membuat para peserta semakin terkesima dan fokus menyimaknya.






Semua orang yang hidup memiliki kesibukannya masing-masing sesuai dengan aktifitas yang biasa dijalaninya, keperluannya, kondisinya, dan dain sebagainya. Jadi tidak ada yang tidak sibuk, tinggal bagaimana cara kita menikmati kesibukan tersebut dalam balutan pengelolaan manajemen kesibukan secara baik.





























Jawaban untuk slide terakhir, sejatinya adalah SIAP. 
Memang paparan yang sungguh luar biasa dengan gaya bahasa yang begitu menggugah sadar. Ketidaksanggupan dalam mengelola dan melawan kendala diri senantiasa menjadi alasan bagi kita untuk bersembunyi dan mencari pembenaran. Padahal semestinya bisa dilawan dengan sugesti yang begitu kuat akan keyakinan bahwa kita memiliki kesanggupan. Kepiawaian sang moderator membersamai Narasumber menjelaskan slide-slide diatas dengan begitu jelas dan membuat kami paham. Serta sukses menghadirkan motivasi diri bagi kami para penyimaknya. 
Semoga resume yang tersaji dengan didominasi visual ini juga bisa bermanfaat bagi para pembaca semuanya!















Menguak Dapur Penerbit Mayor

Resume ke-11: Menguak Dapur Penerbit Mayor 

Resume Pertemuan Ke-11

Hari/ Tanggal: Rabu, 4 Agustus 2021

Tema: Menguak Dapur Penerbit Mayor

Narasumber: Edi S. Mulyanta

Moderator: Sri Sugiastuti (Ibu Kanjeng)

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com

Malam ini adalah pertemuan ke-11 di Kelas Belajar Menulis. Malam hari ini masih seputar penerbit mayor. Tepatnya “Menguak Dapur Penerbit Mayor”. Narasumber yang luar biasa yang membawakan materi malam hari ini adalah Bapak Edi S. Mulyanta. Ibu Sri Sugiastuti atau yang ramah disapa dengan panggilan Ibu Kanjeng, membersamai Narasumber pada malam hari ini dengan begitu piawainya. Kepiawaian beliau sudah tidak bisa diragukan lagi melekat pada dedikasi beliau yang begitu luarbiasa  di dunia literasi. Untuk lebih mengenal sosok dari Narasumber kita malam hari ini mari kita simak bersama link dibawah ini:

https://omjaylabs.wordpress.com/2020/04/22/biodata-edi-s-mulyanta/

Pandemi Covid 19 membuat dunia penerbitan dan percetakan terguncang seperti halnya yang terjadi pada industri yang lain. Narasumber mengelola penerbitan dari tahun 2001 sehingga genap 20 tahun berkecimpung di dunia produksi buku. Sebelumnya beliau adalah penulis lepas yang hidup dari menulis buku, hal ini menjawab pertanyaan beberapa calon penulis, apakah bisa hidup dari menulis buku. Itu yang beliau gambarkan sebagai sebuah motivasi awal bagi para peserta.

Penulis dan penerbit telah dilindungi undang-undang secara penuh sejak terbitnya UU No. 3 Tahun 2017 yag diikuti oleh Peraturan Pemerintah 2 tahun kemudian yaitu PP No 75 tahun 2019. Dalam UU No.3 dijelaskan dengan detail bagaimana proses industri penerbitan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Diatur dengan detail dan kemudin disempurnakan dengan PP No 75 yang lebih detail mengatur proses membuat naskah hingga menyebarluaskannya.

Apabila kita ingin menjadi penulis, ada baiknya kita pelajari dengan seksama pada peraturan pemerintah no 75 tersebut, karena dengan PP ini proses penerbitan buku akan mejadi lebih cepat, karena ada aturan-aturan yang detail bagaimana sisi penulis mengajukan naskah hingga sisi penerbit dalam mengelola naskah menjadi buku.



Sesuai dengan tema yang akan dibahas, adalah bagaimana penerbit mayor dalam mengelola naskah untuk dapat disebarluaskan di outlet-outlet yang menjadi sumber pendapatannya. Pembagian penerbit mayor dan minor sebenarnya tidak ada dalam Undang-undang perbukuan no 3 tersebut. Jadi ini hanya pembagian yang secara alamiah terjadi, dimana penerbit mayor tentu mempunyai jumlah produksi yang lebih tinggi dibanding dengan penerbit minor. Perpustakaan nasional, kemudian digolongkan kedalam penerbit yang berproduksi ribuan dan ratusan yang terlihat dalam pembagian ISBN yang dikeluarkannya.

Dikotomi penerbit mayor dan minor, kemudian terjadi juga di sisi pemasaran bukunya, dimana ada penerbit yang mampu menjangkau secara nasional dan ada yang regional saja.

Hal ini diperuncing lagi dengan pembagian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia atau Kemendikbud DIKTI, yang menjyaratkan terbitan buku harus berskala nasional penyebarannya. Penerbit yang sudah terlanjur beroplah besar tentu tidak ada masalah dengan hal ini, karena memang skala produksi dan skala mesin produksinya memang sudah terlanjur besar, sehingga untuk memenuhi pasar nasional tidak terlalu sulit.

Outlet toko buku yang biasanya merupakan sarana pemasaran yang cukup efektif, di era pandemi ini ternyata mengubah pola distribusi buku dengan cukup signifikan. Saluran outlet yang dahulunya menjadi jalur utama, saat ini justru menjadi korban dari keganasan virus Covid 19, karena ditutupnya jaringan-jaringan toko buku atau dibatasinya aktivitas pusat perbelanjaan.

Di sisi penerbit, sebagai dapur pengolahan naskah dari penulis, sebenarnya tidak ada masalah yang cukup berarti dari sisi penerimaan naskah baru. Di era pandemi ini, naskah masih saja mengalir dengan cukup baik. Mungkin karena banyak calon penulis yang melakukan WFH sehingga banyak waktu untuk melakukan penulisan naskah buku.

Tuntutan untuk tetap produktif kepada para pengajar baik guru maupun dosen, menjadikan laju naskah baru masih tetap terjaga dengan baik. Yang menjadi kendala adalah justru dipengolahan naskah, mulai dari editorial, setting perwajahan dan kover hingga produksi buku cetak.

Outlet toku buku fisik banyak terkendala kebijakan pemerintah, sehingga secara otomatis proses penerbitan buku menjadi melambat menyesuaikan dengan kondisi output penjualan buku yang melambat.

Dengan berlakunya PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas hanya berkisar 80-90% penurunannya. Outlet yang tertutup menjadikan beberapa penerbit ikut terimbas, sehingga mereposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti bersemi di Toko Buku.

Sebelum hari raya 2021, perkembangan penjualan buku cukup baik, membuat banyak penerbit menaruh harapan yang cukup tinggi pada saat itu. Setelah hari raya, ternyata gelombang Covid mengembalikan penjualan buku ke titik terendah sejak 2020, sehingga kami sebagai penerbit akhirnya harus mencoba outlet-outlet baru.

Pengalaman kami, identifikasi tema buku menjadi sangat penting saat keadaan chaos seperti ini. Kami beruntung tema-tema yang upto date mengenai virus corona, telah kami tebar ke penulis-penulis kami sebelumnya, sehingga dengan cepat kami mendapatkan bahan-bahan buku-buku yang berkaitan dengan virus dengan cepat.

Kesiapan penulis, dalam menuliskan materi dalam sebuah buku menjadikan tantangan tersendiri, mengingat bahan-bahan sumber rujukan masih belum tersedia dengan mudah. Kami mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga dengan cepat kita mengidentifikasi siapa penulis yang berkompeten di bidang ini, Dan dengan cepat kita meramu materi, kemudian kita launch, dan beruntung mendapatkan sambutan yang baik.

Kesimpulannya adalah kesiapan penulis dalam updating materi tulisannya adalah menjadi mutlak diperlukan untuk dapat ditawarkan hasil tulisannya tersebut ke penerbit.

Saat ini kami mereposisi produksi buku fisik untuk tidak dilakukan pencetakan secara massal, akan tetapi menyesuaikan dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Hal ini tentunya memberikan kesempatan yang lebih lebar kepada calon penulis untuk mencoba memasuki era baru ini, dimana produksi buku akan mengikuti keinginan pasar secara lebih spesifik.

Produksi kami saat ini kami coba untuk dapat memenuhi permintaan cetak dari 10 eksemplar hingga 300 eksemplar. Range produksi ini kami sesuaikan dengan keadaan daya serap pasar yang cenderung mengikuti komunitas dari penulis bukunya sendiri.

Pak Edi sudah menyampaikan dengan lengkap materi pada malam ini membuat kami tercerahkan dan bisa lebih memahami cara kerja sebuah penerbit besar, seperti penerbit Andi. Disamping itu, penjualan online cukup membantu untuk tetap menjaga cash flow dan yang paling penting kita mencoba untuk memproduksi buku dalam bentuk digital atau e-book supaya kesempatan untuk terbit menjadi lebih luas.

Kita bisa mengunjungi di bukudigital.my.id untuk melihat2 buku-buku digital yang telah diproduksi Penerbit Andi.

Salah satu trik untuk mempercepat terbit adalah mengikuti arahan dari PP 75, yaitu melakukan editing mandiri dari sisi penulis, sehingga akan sangat membantu dalam proses editorial di sisi penerbit dan proses penerbita akan dapat dipersingkat.

Sungguh luar biasa berbobot materi malam hari ini. Narasumber memberikan closing statement dalam menutup materinya,

“Dalam menantukan naskah biasanya First In FIrst Out akan tetapi banyak faktor yang dapat mengganggunya, seperti adanya even penulis, adanya pembiayaan dari penulis, adanya kepentingan tertentu dari penulis misalnya untuk mengurus kepangkatan, Beban Kerja Guru atau dosen.

Penerbit buku, adalah hanya perantara saja. Semua tergantung penulis, sehingga posisi penulis sangat vital sekali dalam mengahasilkan sebuah buku. Sehingga sebagai penulis pemula pun, kepercayaan diri harus mulai diasah, dengan menghasilkan karya terbaik.”

Semoga resume ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

 

 





Jumat, 10 September 2021

Menulis Autobiografi

 Resume ke-27: Menulis Autobiografi


Resume Pertemuan Ke-27

Hari/ Tanggal: Jumat, 10 September 2021

Tema: Menulis Autobiografi

Narasumber: Suparno, S.Pd., M. Pd

Moderator: Ms. Phia

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati.blogspot.com


Saat berada di sebuah toko buku, terlihat deretan buku-buku yang tertata begitu rapihnya dengan kemasan-kemasan yang begitu apik. Pandangan ini tiba-tiba terhenti di sebuah buku biografi dan terbersit dalam benak keinginan untuk menulis autobiografi. Tapi itu hanya sepintas saja dan ku anggap sebagai hayalan sesaat yang rasanya tak mungkin ku wujudkan. Materi malam hari ini menggugah ingatanku tentang keinginan itu. Dan mengusik rasa penasaranku untuk menyimaknya dengan begitu cermat.

Ms.Phia salah satu rekan kami di kelas belajar menulis, malam ini menjadi moderator membersamai seorang Narasumber yang Hebat. Beliau adalah seorang Kepala Sekolah dari SMPN  2 Karangrejo Magetan. Yang juga merupakan seorang penggemar membaca,  penulis dan motivator Literasi. Kesukaan Beliau akan menulis dan membaca ini  sangat menginspirasi, hingga pernah menjabat sebagai Pemimpin  Redaksi majalah  Pena Mageti .  Beliau bernama Suparno, S.Pd., M. Pd

Untuk lebih mengenal siapa beliau, silahkan berselancar melalui link Blog berikut ini :

http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/06/cv-suparno.html?m=1

Blog yang lain milik beliau adalah:

http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/07/guru-pengajar-praktek_22.html?m=1

http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/09/siap-menyesuaikan-diri-untuk-perubahan.html?m=1

Manfaat Menulis Biografi

Tidah ada yang bisa tau seberapa lama umur kita hidup di dunia ini, maka menulislah  buku  biografi  agar  anak  cucu kita  tahu  sejarah perjalanan  kehidupan kita. Dari sejarah  perjalanan  kehidupan kita itu, mereka akan bisa belajar  betapa  untuk  mencapai  kesuksesan  itu  butuh  perjuangan  yang luar biasa. Mereka juga akan tau sejarah perjalan hidup nenek moyangnya.

Disamping itu juga bagi para ASN, dengan menulis biografi bertema Pendidikan maka akan menambah angka kredit kita. Bagi Calon Kepala Sekolah, dimasa penilaian maka tidak usah bercerita banyak tentang identitas diri, cukup menyerahkan biografi saja. Dan manfaat-manfaat yang lainnya.

Bagaimana  Menyusun  Buku  Biografi

Menulis buku Biografi adalah menulis apa yang dialami. Sehingga merupakan pekerjaan yang relatif mudah. Untuk memulainya, bisa dari belajar menulis biografi tokoh. Baiknya jangan  hanya satu buku  tetapi minimal  3 buku sehingga  Bapak Ibu bisa memiliki  pembanding yang baik. Atau mungkin jangan  hanya  orang-orang  ternama,  tetapi  juga  membaca  buku  biografi orang-orang  yang selevel  dengan kita. Sehingga  kita tidak  berkecil  hati  untuk  menuliskan  perjalanan  hidup  kita.

Langkahnya Bagaimana

  • Membuat outline atau kerangka  tulisan.

Misalnya :

Dimulai  dari Melahiran

Masa masa sekolah,  bekerja, menikah,  punya anak,  pergi  jauh, ke  luar kota, luar negeri, dll.

Masalah  masalah  yang pernah dihadapi,  kenangan pahit, kenangan manis/ indah, dsb.

  • Menyiapkan  data-data pendukung,  misalnya  foto,  buku diary  dsb
  • Membuat  jadwal  menulis,: taatilah  jadwal  yang telah   dibuat.
  • Menulis per outline/ per judul. 

Tulislah mengalir  saja  jangan  diedit  dulu ,walaupun  ada kesalahan  biarkan saja,  terus menulis  sampai selesai. 

Terima kasih untuk semua sahabat-sababatku tercinta atas dukungan dan doanya untuk kami semua.... Ibu memang hebat, saya hanya mendampingi keberhasilan beliau....

Ketika  Bapak Ibu  menulis kadang  muncul  ilham atau ingatan  sesuatu  yang pantas ditulis.  Tuliskan  saja   judulnya,  dibuku  yang berbeda.  Kemudiaan  segera  kembali  fokus  ke  outline.

  • Setelah  semua  judul  sudah terbahas  kemudian  sisipkan  judul  yang terjeda tadi  sesuai  dengan urutan  sejarah  perjalanan  kehidupan.
  • Agar tampilan  buku  tampak  menarik  dan menginspirasi,  jika dalam suatu judul  ada frase , atau kata-kata mutiara yang menginspirasi  bisa dituliskan  di atas  , sebelum  uraian  tulisan
  • Kemudian  lakukan editing  mulai  awal  hingga  akhir.

Misalnya:

Ini buku  autobiografi  saya berjudul  Perjuangan  Hidupku,  buku ini berisi  motivasi  agar anak muda  itu  semangat  kerja,  Semangat  belajar,  dan semangat  berdoa.

  • Setelah itu  mintalah  orang  lain  yang dipercaya  untuk  menjadi editor   yang berkaitan  dengan  ejaan,  tata  bahasa  dan lain-lain
  • Langkah terakhir  kirimkan pada penerbit yang dipercaya

·    Kemudian  buatlah  cover  buku  yang baik,  mintakan kata  pengantar  pada tokoh tokoh  terkenal semoga membawa  keberkahan

Dari sesi pertanyaan ada beberapa hal yang konten yang tersimak diantaranya:

  • Tentang  penulisan nama tokoh boleh aku/ saya, sesuaikan saja  dengan  redaksinya enulisan latar tempat harus ditulis jelas,   misalnya  saya pernah ke Makassar, acaranya apa, bagaimana,  mengapa,  kapan  , hal  hal apa yang berkesan di sana,  naik apa,  ketika naik  perawat  bagaimana  dan seterusnya  mengalir.
  • Jangan menggunakan  nama samaran, karena buku biografi  itu buku riwayat  hidup  seseorang.  Jadi harus jelas  siapa,  bagaimananya.
  • Perbedaan memoar, biografi dan autobiografi:

Memoar (juga biasa ditulis memoir) adalah kenang-kenangan yang menyerupai autobiografi dengan menekankan pendapat, kesan dan tanggapan pencerita atas peristiwa-peristiwa yang dialami serta tokoh-tokoh yang berhubungan dengannya.

Biografi  adalah riwayat  hidup  yang ditulis  orang lain,  misalnya  Biografi  Pak Dirman,  ditulis orang lain.

Autobiografi  adalah  buku  riwayat hidup  yang  ditulis  oleh dirinya  sendir

  • Hal apa yang sebaiknya dituliskan tentang tokoh tersebut dalam biografi:

Ijin pada  yang bersangkutan,  atau ke keluarganya  nanti malah diberi data  sebagai  sumber tulisan.

Klarifikasi  atas tulisan  itu  supaya  tidak terjadi masalah  dikemuadian hari,  tidak usah menulis sisi  buruknya,  kecuali  memang menginspirasi  dan diizinkan  yang bersangkutan  atau keluarganya.

Boleh  diselipi  kutipan percakapan  agar  lebih  terasa  nyata semacam dialog. Atau seperti artikel  juga boleh,  jadi  lebih terkesan ilmiah.

·       Banyak  orang suksespun  tidak menulis buku biografi,  walaupun  menurut  kita tidak sukses  ,tapi  ada cerita yang menginspirasi,  kenapa  tidak  ditulis. Kita bisa  cerita tentang  kesederhanaan,  kejujuran,  kesetiaan,  kegigihan membesarkan anak-anak,  menyekolahkan  anak-anak  dan sebagainya. Saya pikir  akan menjadi  sebuah karya  yang menarik

·       Penulis  itu seperti jarum jam dinding,  dilihat orang atau tidak tetap berputar , seperti matahari dipuji orang atau tidak tetap bersinar , seperti bintang  dilihat  orang atau tidak  tetap  bercahaya.

·       Memoar  hanya tulisan berkisar  kenangan  biasanya  yang indah indah saja.  Jadi tidak lengkap seperti  biografi. Autobiografi  yang baik  adalah yang ditulis  hingga selesai  jadi buku.

·       Menulis itu semestinya menjadi ibrah  bagi orang  lain, menginspirasi orang lain, tidak menghina  orang lain, tidak  mengandung sara

Akhirnya usai juga kami menyimak materi luar biasa pada malam hari ini, dan tibalah Narasumber memberikan closing statement nya.

“Bapak Ibu semua senyampang mata kita masih berkedip,  detak jantung kita masih berdenyut,  hayat masih  dikandung  badan,  menulislah buku  autobiografi  sebagai  bukti  bahwa  kita  pernah  hidup  di planet  bumi ini,  semoga  Bapak Ibu sehat semua  sehingga  bisa berkarya  menginspirasi  umat  manusia.”

Semoga resume ini bisa bermanfaat bagi kita semua.