Profil Saya

Foto saya
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Jumat, 16 Juli 2021

Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku

 Resume ke-3: Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku 


Resume Pertemuan Ke-3

Hari/ Tanggal: Jumat,16 Juli 2021

Tema: Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku

Narasumber: Rita Wati, S.Kom.

Moderator: Bambang Purwanto

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.,Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati1.blogspot.com


Tiga pertemuan sudah terlewati. Pada awalnya hanya samar-samar bersarang di benak ini. Tetapi seiring waktu, lentera-lentera kompetensi yang disuguhkan di kelas Belajar Menulis Gelombang 19 ini, sanggup membuat binar-binar pencerahan yang memerangi samar. Senyum mulai melebar dihadapan laptop kesayangan hingga meneguhkan percaya diri untuk bersemi.

7 antologi sudah berhasil terlahir dipangkuan. 6 antologinya di bawah bimbingan Bu Kanjeng dan tim solidnya Om Jay dan 1 nya lagi bersama tim literasi sekolah. Sebelumnya saya pernah masuk di WAG Belajar menulis Gelombang 12 tetapi gagal mengikuti karena sang waktu tak jua menjodohkan kami. Baru di gelombang ini bisa fokus mengikuti kegiatannya. Niatkan hati bisa  tuntas terlewati. Tak ada kata terlambat untuk belajar.

Ia yang dulu masih merasa bingung. Hanya dengan bermodalkan hobi dan keberanian saja melakukan semuanya. Hingga satu persoalan tak bisa dipungkiri selalu menghantui. Senyapnya rasa percaya diri untuk menampilkan karya sendiri. Karena merasa diri hanyalah seorang guru sosiologi yang miskin akan teori dalam hal menulis. Karya yang sudah tercetak, hanya sanggup menghiasi rak buku di kamar tanpa ada yang mengetahuinya, apalagi sampai mempromosikannya seperti rekan-rekan lain. Terkadang saya memberanikan diri bertanya ke Bu Kanjeng atau kuratornya, jawaban manis yang membangkitkan percayadiri perlahan muncul untuk menganggap karya diri itu layak untuk ditampilkan di muka umum. Kini saatnya ketika sang waktu bersahabat, berburu ilmu menggali potensi diri dilakukan di kelas Belajar Menulis ini.

Penggalan curahan hati diatas tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saat menyimak pemaparan Ibu Rita Wati, S.Kom. Seorang  guru mata pelajaran Informatika di SMPN 2 Mendoyo Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Beliau merupakan alumni Belajar Menulis Gelombang 10 yang malam ini menjadi Narasumber. Didampingi oleh pak Bambang Purwanto atau yang biasa di panggil Mr. Bams dari Kota bandung. Materi yang dibawakan adalah "Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku".

Menyimak sosok Ibu Rita Wati yang luar biasa, ternyata memiliki persoalan yang tak ku sangka di awal prosesnya. Menurut dua penggalan cerita beliau

“Akan tetapi saya tidak tahu Mau menulis apa dan Bagaimana cara memulainya. Sehingga keinginan tersebut hanya keinginan yang terpendam tanpa di eksekusi.”

“Akan tetapi lucunya ketidakpedean saya mengalahkan cita-cita saya, saya tidak berani tulisan saya dibaca oleh orang lain. Sehingga tulisan itu saya endapkan di Hidden folder. Pada akhirnya saya men-judge diri sendiri dengan tulisan “KAMU TIDAK BAKAT MENJADI PENULIS”

Menyocokan dengan apa yang saya alami, merasa minimnya kompetensi yang dimiliki sangat mengikis rasa percayadiri untuk tampil. Dan itu menjadi salah satu alasan, hari ini saya berada di komunitas ini.

Semoga bisa mengikuti jejak Bu Rita Wati untuk berlari saat sudah berada dalam rumah yang penuh dengan orang-orang luar biasa. Hingga menghalau semua hambatan dan memecut etos kerja untuk berkarya.

Melirik rekam jejak Ibu Rita Wati, saya memotret beliau sebagai sosok yang giat dan pekerja keras. Terbukti dengan banyaknya karya yang telah dihasilkan. Beliau sudah berhasil menerbitkan 4 buku solo, 1 buku duet  bersama Prof Ekoji yang diterbitkan di penerbit Andi dan 10 buku antologi dimana 3 antologi nya beliau menjadi kurator serta editor lapis pertama dan 3 editor buku fiksi berupa cerpen dan novel karya peserta Belajar Menulis Omjay.

Semangat beliau juga nampak jelas melalui  4 blog yang berbeda-beda yang beliau miliki.

https://guraru.org/guru-berbagi/cara-menonaktifkan-aktivitas-kita-di-hp-tidak-terekam-di-facebook/

http://www.ritapinang.my.id/

https://www.kompasiana.com/ritapinang/5fe514d78ede4864fb3e50f2/kendaraan-menuju-pendidikan-berbasis-digital

https://catatangurumilenial.wordpress.com/blog-2/

Ibu Rita wati juga aktif di youtube, diantaranya:

Fungsi Logika If dlm Ms.Excel https://youtu.be/8BCltpp4cqU

Membuat Sertifikat Masal dgn Mailmerge    https://youtu.be/vvnA6s_QX4A

Cara menyambungkan WA dari jarak jauh   https://youtu.be/W4ZUP42Pcoc

Fungsi Absolut dalam Ms. Excel   https://youtu.be/Q7cFp4iB-yQ

Cara Mebuat Blog   https://youtu.be/2ZFZzT8iWV8

Cara memasukan gambar, link hidup, dan youtube dalam blog https://youtu.be/iGlVrcRUdn0

Cara merubah template blog pribadi menjadi tampilan profesional https://youtu.be/XaqpkqtRtic

Cara membuat page border, Dropcap dan mengatur kertas di ms.word 

https://youtu.be/1aOmxKNugyI

Cara Membuat running text di blog   https://youtu.be/1IszU8Kh0fE

Cara menggunakan wheel of names  https://youtu.be/aEDCRbE3PJI

Cara membuat daftar menu di blog   https://youtu.be/AZ0nF17Jt34

Mengetik Cepat Menggunakan Suara  https://youtu.be/TY-RV1M0sxI

Luar biasa bukan? Itulah sosok Narasumber kita kali ini. Semua ini beliau paparkan guna memicu motivasi kami selaku peserta di kelas Belajar Menulis ini. Pengalaman Ibu Rita Wati kian bertambah seiring jam terbang beliau menjadi narasumber dan moderator di Kelas Belajar Menulis tim solidnya Om Jay.

Gaya menjelaskan Narasumber kali ini, lebih didominasi stimulus berupa pertanyaan -pertanyaan yang beliau berikan kepada peserta. Ada lima hal penting yang berhasil  saya simpulkan:

  1. Apa tujuan menulis?
  2. Apa manfaat menulis?
  3. Apa Rahasia menulis?
  4. Mengapa harus menulis di blog?
  5. Masalah penulis pemula
Pertanyaan pertama dimulai. Saat peserta ditanya tentang tujuan mereka menulis, sebagian besar menjawab karena ingin memiliki buku sendiri. Narasumber menegaskan bahwa sejatinya ketika peserta bergabung di group ini mereka sudah memiliki niat dan tekad untuk memiliki buku sendiri. Bergabung di kelas ini adalah salah satu cara yang tepat agar segera memiliki buku sendiri.

Ada 4 tujuan orang menulis:

  1. Hanya sekadar belajar
  2. Terpaksa persyaratan naik pangkat
  3. Hobi  dan meningkatkan prestice
  4. Tambahan penghasilan

Masuk ke pertanyaan kedua tentang manfaat menulis. Manfaat menulis bisa ditinjau dari segi kesehatan dan manfaat menurut para ahli.

Dari segi Kesehatan, manfaat menulis adalah:

  1. Meredakan stress
  2. Memecahkan masalah
  3. Menuangkan perasaan sesuai keinginan
  4. Memperbaiki suasana hati
  5. Meningkatkan daya ingat

Manfaat menulis menurut para ahli:

  1. Meningkatkan kecerdasan
  2. Meningkatkan daya inisiatif dan kreativitas
  3. Menumbuhkan keberanian
  4. Mendorong  kemauan dan kemampuan  mengumpulkan informasi

Selanjutnya pertanyaan ketiga tentang rahasia menulis adalah:

  1. Menguasai diri sendiri
  2. Baca buku-buku terbaik
  3. Tulis semua ide yang muncul hingga tuntas, abaikan PUEBI untuk sementara
  4. Latih menulis setiap hari (mulai dari 100 kata, 400 kata hingga 1000 kata)
  5. Buat peta konsep/ TOC
  6. Tidak takut menunjukan gagasan baru

Selanjutnya Narasumber memaparkan alasan mengapa harus menulis di blog. Blog adalah salahsatu media yang dapat mempublikasikan karya tulis tanpa harus takut ditolak. Tulisan tidak hanya dibaca oleh teman dekat tertapi orang diseluruh dunia. Bila kita mau rutin menulis di blog setiap harinya, setelah kita kumpulkan akan bisa menjadi buku.

Bagi penulis pemula, menemui masalah dalam menulis adalah hal yang biasa, seperti:

  1. Susah ide
  2. Miskin kosa kata
  3. Sulit merangkai kata
  4. Menunda-nunda
  5. Bingung mau menulis apa
  6. Tidak percaya diri
  7. Merasa tulisannya jelek atau tidak layak untuk dibaca.

Solusi dari semua masalah tersebut adalah Mambaca dan Menulis.

Menurut Ibu Rita Wati “Bapak ibu hanya rajin membaca kemudian akan muncul ide, akan bertambah kosa kata dll sehingga bisa dengan mengalir menulis ketika gagasan muncul”.

Materipun usai setelah  sesi  tanya jawab. Sangat banyak wawasan yang bisa dipetik dari hasil menyimaknya. Tibalah Bu Rita Wati menutup materi malam hari ini dengan untaian kata-kata motivasinya yang beliau sajikan di link youtube. Sungguh luar biasa menggugah hati dan meninabobokan perasaan. Kepiawaian beliau dalam hal IT menjadi pemanis kemasan penyajiannya. 

Terimaksih sudah membaca, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat 😊🙏


Rabu, 14 Juli 2021

Trik Cepat Menulis Resume di Blog

 Resume ke-2: Trik Cepat Menulis Resume di Blog

 


Resume Pertemuan Ke-2

Hari/ Tanggal: Rabu,14 Juli 2021

Tema: Trik Cepat Menulis Resume di Blog

Nara Sumber: Maesaroh, M.Pd

Moderator: Rita Wati

Gelombang: 19

Nama: Irma Suzilawati, S.,Sos., M.M._SMAN I Cikembar

irmasuzilawati1.blogspot.com


Kala di tepi pantai, tiba-tiba sang angin berhembus begitu cepat sehingga membuat  orang-orang yang berada disekitarnya sontak terkejut dan bereaksi. Tetapi disaat lain ketika sang angin berhembus sepoi-sepoi dengan lambatnya, membuat orang-orang terdiam santai hanya menikmatinya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka berekspresi biasa-biasa saja. Itulah kesan awal sebuah reaksi atas suatu kondisi.

Itulah hal pertama terbersit di benak saya yang dalam masa pandemi Covid 19 ini lebih banyak di dalam rumah dan sejujurnya merindukan pantai. Tetapi pikiran tersebut tidaklah datang serta merta, melainkan terpancing oleh paparan nara sumber yang sedang memaparkan materi dengan begitu menariknya hingga membawa alam bawah sadar ini pun turut berimajinasi.

Tema resume pertemuan kedua di kelas Belajar Menulis Gelombang 19 kali ini adalah “Trik Cepat Menulis Resume di Blog”, yang di Moderatori Ibu Rita Wati dengan Narasumber Ibu Maesaroh,M.Pd. Ibu Maesaroh  atau yang akrab dengan sapaan Ibu Mae,adalah seorang guru di SMPN 1 Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten. Beliau merupakan salah satu peserta berprestasi di Kelas Belajar Menulis Gelombang 18.  Kepiawaian, kelihaian dan semangat beliau dalam menulis resume mengundang salut dan decak kagum seluruh peserta dan tak terkecuali saya. Mengundang rasa penasaran untuk menemukan trik-trik jitu dibalik penulisan resumenya yang begitu cepat.

Sungguh luar biasa, Bu Mae sanggup menggali potensi dirinya dengan begitu khas. Beliau mampu mencuri pandang banyak orang karena talentanya yang menjadikan dirinya berbeda dengan orang-orang yang ada disekitanya.  Kegesitannya dalam merespos suatu pekerjaan dan kepiawaiannya merangkai kata yang mendayu menina bobokan pembaca dalam rasa nyaman adalah hal yang melekat erat menjadi sebuah karakter. Karakter inilah yang biasanya sangat sulit ditemukan, sehingga membuat penulis itu terlihat standar dan biasa saja.

Saya pun merasa begitulah adanya diri ini, yang masih berkelana mencari jatidiri dalam berkarya. Ibarat sang angin yang berhembus sepoi-sepoi, saya belum sanggup menghadirkan lirik apalagi mencuri pandang sekitar. Tumpukan pekerjaan masih membuat saya tak pintar menentukan skala prioritas dan membagi fokus. Kemauan untuk banyak belajar semoga menjadi sebuah modal awal menjadi insan penulis yang lebih baik.

Paparan demi paparanpun dimulai. Mengutip paparan Bu Mae tentang  alasan perlunya menulis cepat di blog bahwa

“Dalam pandangan saya, sebagai seorang bloger pemula kita perlu mengenalkan aroma tulisan kita pada khalayak ramai.

Saya selalu memiliki mind set, apabila kita menempatkan tulisan kita di urutan teratas, besar kemungkinan kita akan memiliki pengunjung paling banyak

Dalam waktu 24 jam, blog saya berhasil di kunjungi oleh 220 viewers dengan 54 komentar positif. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang bloger pemula yang meluncurkan tulisan perdananya.

Atas dasar itu, saya sangat termotivasi untuk meluncurkan tulisan kedua dan seterusnya.

Hal tersebut disimpulkan berdasarkan pengalaman langsung beliau saat berada di kelas Belajar Menulis di Gelombang 18. Resume perdana pada pertemuan pertama ada di nomor satu, dan hal itu menarik minat seluruh peserta di WAG tersebut untuk berselancar di blognya.

Perilakunya yang konsisten untuk selalu menulis resume dengan cepat, menobatkan Bu Mae menjadi ketua kelas dan mendapatkan apresiasi dari panitia dengan mendapatkan reward tujuh buah buku. Kebiasaan positif tersebut menular ke teman-teman angkatannya dan menjadikan motivasi mereka untuk berlomba membuat resume dengan cepat.

Bu mae mengungkap trik jitunya secara teknis, menurut beliau

“Jika kita serius ingin belajar, maka kita harus serius dengan mempersiapkan banyak hal. Salah satunya dengan menyiapkan 2 alat piranti digital yaitu Hp dan Laptop. Hp digunakan untuk menyimak materi, laptop digunakan untuk membuat resume.”

Sungguh  tidak mudah membuat banyak orang tertarik dengan dunia literasi. Coba saja tengok di ponsel kita, terkadang banyak tulisan yang berserak di WAG, namun  tak banyak orang yang mau membacanya bahkan hanya  mengabaikannya. Jadi untuk menjadi penulis yang handal, kita harus mengatur pola pikir kita untuk mencapai tujuan utama kita yaitu tulisan kita ada yang baca. Hal tersebut diyakinkan oleh nara sumber yang membagikan link blognya dan membuat saya pun penasaran membacanya. Untaian kata yang indah lagi-lagi membuat saya terpana. Dan terinspirasi untuk membuat blog saya pun sebagus itu.  Disaat kita begitu nyaman menikmati sajian konten yang terkemas apik dalam balutan alunan kata yang mempesona, menganalogikan begitupun orang lain melihat blog kita.

Itulah sebabnya mengapa kita harus memiliki karakter dalam menulis. Harus memiliki kekhasan dalam bahasa tulisan. Karena terkadang ada saja yang mau membaca tulisan bergantung pada siapa penulisnya. Ibarat penulis-penulis yang sudah ternama yang justru kitalah yang mencari-cari tulisannya, bukan lagi mereka yang mencari pembaca.

Menurut Bu Mae ada beberapa poin penting  dalam membuat  trik cepat menulis resume, yaitu:

1.    Selalu membiasakan diri duduk 10 menit di depan laptop sebelum materi dimulai

2.  Selama duduk 10 menit tersebut , merangkai paragraf pembuka yang selalu dikemas dengan bahasa yang puitis. Serta menulis paragraf penutup dengan menyisipkan kalimat2 motivasi.

3.  Tulis resume dengan paragraf yang pendek-pendek. Pembaca blog cenderung bosan membaca paragraf yang  lama selesai, dengan membuat paragraf pendek, tulisan kita mudah difahami dan disimpulkan.

4.  Menulis pernyataan Narasumber dengan gaya bahasa Paralelisme , atau bisa saja mengadopsi semua bahasa narasumber dengan memberikan tanda kutip. Pak A mengatakan "...."

Hal lainnya yang tidak kalah penting yaitu plagiarisme. Jangan menduplikasi tulisan orang lain, sebagai contoh peserta yang menduplikasi tulisan temannya. Hal ini tidak baik, karena dapat melemahkan mental peserta lainnya.  Sebagai penulis pemula, memang  bukan hal yang mudah untuk menumbuhkan sikap percaya diri, tetapi harus berusaha untuk membangun bermental baja.

  1. Untuk menjadi penulis handal, kita harus memupuk mental baja dalam menulis dengan cara:
  2. Tanamkan sikap percaya diri. Jangan merasa malu, karena tulisan yang kita anggap jelek akan menjadi luarbiasa bagi mereka yang tidak pernah belajar menulis.
  3. Siap dengan segala kritikan. Meskipun terkadang budaya memuji lebih banyak dari budaya mengkritik, namun pujian itu harus membuat kita semakin memperbaiki tulisan.
  4. Bangunlah tulisan di berbagai Blog.

Narasunber menganggap hal tersebut amat perlu, karena terkadang orang akan bosan melihat penampilan kita yang itu2 saja. Ibarat memakai baju, tentu orang akan bosan jika baju yang kita pakai hanya warna hijau saja. Itulah sebabnya tulisan harus memiliki warna lain, salah satunya  tulisan kita pada blog lainnya.

Menulis di berbagai blog juga menanamkan mental penulis yang mudah beradaptasi dan tak segan memberi perubahan. Bu Mae saat ini sedang membangun 4 rumah di blog.

  • Rumah di Kompasiana   berisi tulisan edukatif https://www.kompasiana.com/maesaroh29969/60eb021606310e020a114532/literasi-digital-untuk-generasi-baby-boomers
  • Rumah di YPTD berisi tulisan fiksi dan faksi
https://terbitkanbukugratis.id/maesaroh/07/2021/sang-bunga-surga/

  • Rumah di Blogspot digunakan untuk sarana mengajar

https://maydearly.blogspot.com/2021/07/pengenalan-gerakan-literasi-di-masa.html

  • Rumah di detik.com berisi tulisan informatif.

Beliau pun membiasakan diri membangun tulisan dengan genre yang berbeda2. Dalam tulisan tersebut nampak jelas antara tulisan ilmiah, dan tulisan imajinatif. Menurutnya, usahakan setiap hari menulis pada blog yang berbeda2.

Kutipan terkhir yang menarik dan mengingatkan kita untuk senantiasa belajar dari beliau adalah

“Jadilah manusia cerdas yang siap menerima perubahan. Siap dengan segala keadaan, dan siap dengan segala tantangan. Tanamkan konsistensi yang kuat, karena hidup itu butuh target. Tak peduli berkawin dengan seribu kesibukan, ketika konsisten adalah sebuah target, maka semua akan berjalan baik air menuju muara. Semua akan menjadi biasa-biasa saja.”

Kutipan itu menjadi kata penutup dalam paparan Bu Mae yang begitu luarbiasa menginspirasi. Banyak hal yang bisa saya petik dari pertemuan kali ini. Pelatihan ini membuat saya kian tersadar. Harus banyak belajar dan sebisa mungkin menemukan  karakter diri yang  khas sebagai  jati diri saya dalam menulis. Tetapi dengan posisi pencapaian hari ini pun rasa syukur  tak kurangnya terpanjatkan, karena Allah SWT menemukan saya dengan orang-orang hebat di komunitas Belajar Menulis ini. Sebuah komunitas yang baru saya dalami di tahun ini.

Selasa, 13 Juli 2021

Menjadikan Menulis Sebagai Passion ( Resume Pertemuan Ke-1 Kelas Belajar menulis Gelombang 19)

Resume ke -1: Menjadikan Menulis Sebagai Passion


Resume Pertemuan ke -1

Tanggal 12 Juli 2021 Jam 19.00 WIB sd Selesai

Tema:Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Nara Sumber: Dra Sri Sugiastuti, M.Pd

Moderator: Aam Nurhasanah

Gelombang: 19

Nama : Irma Suzilawati, S.Sos., M.M _SMAN I Cikembar

irmasuzilawati1.blogspot.com



Tulisan ini merupakan resume pertemuan  perdana saya di kelas Belajar Menulis Gelombang 19 yang diselenggarakan melalui WA Group. Pertemuan kali ini sangat mengesankan dengan balutan kemasan yang begitu apik dan sangat menarik, membuat kami sangat nyaman dan tidak bosan untuk  mengikutinya. Acara dibuka langsung oleh bapak Wijaya Kusuma yang akrab dengan sapaan Om Jay. Narasumber malam ini adalah Ibu  Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau biasa di panggil Bu Kanjeng. Beliau seorang Penulis, Editor dan Motivator handal. Bu Kanjeng merupakan salah satu tokoh idola saya yang mendampingi saya mewujudkan beberapa antologi. Yang menjadi moderatornya adalah salah satu sosok yang memotivasi saya juga di beberapa antologi saya yaitu Bu Aam. Materi pada pertemuan pertama ini adalah “Menjadikan Menulis Sebagai Passion”.

 

Setelah mencermati paparan Bu Kanjeng yang begitu berbobot dan sistematis, saya menyimpulkan kalau sajian materi  tersebut merupakan modal awal yang bisa dijadikan pijakan bagi para penulis, khususnya penulis pemula, agar bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan trik- trik yang bisa dijadikan acuan untuk menulis. Ada beberapa hal penting yang disampaikan dari paparannya Bu kanjeng, yaitu

1.      Alasan logis mengapa kita harus menulis

2.      Kendala  dan hambatan menjadi penulis

3.      Prosedur menulis hingga jadi buku

4.      Mempublikasikan atau mempromosikan buku

 

Saya sangat sepakat dengan tema yang di angkat oleh Bu kanjeng  yaitu  “Menjadikan Menulis Sebagai Passion”  dengan  asumsi bahwa hingga hari ini profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial. Disamping itu kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Dua hal tersebut cukup menjadi alasan logis mengapa kita harus menulis.

 

Sesungguhnya banyak orang yang menginginkan menjadi penulis tetapi tidak semua orang bisa mewujudkannya. Adapun kendala dan hambatan menjadi penulis diantaranya:

1.      Merasa tidak berbakat menulis

2.      Tidak memiliki ide

3.      Tidak suka menulis

4.      Tidak berani menerima kritik

5.      Tidak memiliki waktu

 

Hambatan janganlah dijadikan alasan untuk kita lantas menyerah. Justru harus dijadikan tantangan agar kita mau belajar. Hambatan yang dominan bagi para penulis pemula adalah faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dirinya sendiri. Peran  motivasi yang diimbangi oleh etos kerja yang tinggi memiliki peran dalam mewujudnya suatu karya tulis. Mengikuti kelas belajar menulis inipun merupakan salah satu cara kita menumbuhkan motivasi diri, karena dengen bergabung di grup tersebut, semua pihak bisa saling bersinergi dan saling memberikan motivasi. Motivasi yang sudah terbangun dalam diri dari manapun itu sumbernya, dapat memunculkan etos kerja yang diharapkan untuk dapat mewujudkan keinginan kita yaitu membuat karya berupa buku . Disamping itu juga  menjadikan menulis sebagai passion.

 

Menurut Bu kanjeng memulai dari kata “Why”, mengapa kita menulius?. Ada banyak alasan yang  bisa dijadikan jawaban atas hal tersebut, dan itu dikembalikan pada orientasi dari diri masing-masing penulis. Kata “Why” itu lebih filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia.

Beberapa alasan mengapa kita menulis itu sangatlah beragam:

1. Orientasi Material: Tujuannya mengejar uang, bisa dari royalti, fee pembicara dan semacamnya. Apalagi jika berhasil  menulis novel yang sampai diangkat ke layar lebar.

2.   Orientasi Eksistensi Tujuannya mengejar popularitas dan pengakuan Dari masyarakat

3. Orientasi Personal Bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk Mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, Pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.

4.  Orientasi Sosial Tujuannya untuk mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban.

5.  Orientasi Spiritual Tujuannya untuk beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik.

 

Lalu kata How” Bagaimana cara menulis?. Kata “How” ini lebih bersifat teknis dan jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Dengan banyak berlatih seseorang akan jauh lebih terampil dalam menguasai sesuatu, begitupun dengan menulis.

Ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang penulis yang baik:

1.  Read: membaca merupakan salah satu modal utama bagi penulis, baik buku yang bersifat general (umum) maupun yang spesifik (misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi).

2.  Discuss: mendiskusikan dan merenungkan isi buku bisa memunculkan ide dan gagasan disaat terjadi dialektika bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri.

3. Look and feel: harus sering mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita. Baik secara langsung mau pun dari apa yang kita lihat dan baca di media (TV, radio, internet, medsos dll)

4.  Socialize : harus banyak menyerap pengetahuan dan pengalaman dari kisah orang lain. Disamping itu juga harus memperluas pergaulan dan area sosialisasi agar membuka cakrawala berpikir kita.

 

Selanjutnya Bu kanjeng  memaparkan tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang perlu dilakukan dalam proses menulis ini, antara lain:

1.   Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide

Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming.

2.   Menentukan Tujuan, Genre dan Segmen Pembaca

Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable.

3.   Menentukan Topik

Penentuan topik dilakukan setelah penulis menetapkan untuk apa menulis, genre apa yang dipilih dan siapa sasaran pembacanya. Misalnya, tujuan menulis untuk memberikan informasi yang benar tentang kesehatan. Genrenya tulisan populer. Jika sasarannya adalah orang tua (manula), maka penulis bisa menentukan tulisan misalnya dengan topik  “Hidup sehat di usia senja”.

4.   Membuat Outline

Outline merupakan bentuk kerangka tulisan. Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.

5.  Mengumpulkan Bahan Materi/Buku

Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.

 

Setelah melakukan kelima kegiatan tersebut, lakukanlah kegiatan selanjutnya yaitu menulis. Lantas bagaimana cara kita menulis, Bu Kanjeng menegaskan “ya lakukan saja”. Menurut beliau, penulis pemula harus memiliki ketekunan  dan kesabaran, jangan menginginkan langsung sempurna dan jangan terlalu idealis. Dalam proses menulis juga ada baiknya memperhatikan: time target, discipline, comfortability, facilities, mood booster.

 

Menulis bisa menjadi hal yang luar biasa manakala buku kita menjadi best seller. Kita bisa popular, diundang ke berbagai acara, memiliki relasi yang luas, royalty dan perekonomian kita mapan. Menulis juga bisa dimaknai sebagai amal shaleh yang tidak pernah terputus sepanjang masih dibaca dan mendatangkan manfaat bagi orang lain, dengan demikian kita telah menanamkan investasi besar untuk kehidupan akhirat.

 

Setelah menyelesaikan naskah kasar dari buku yang kita tulis, tahapan selanjutnya yang harus dilewati adalah: editing, revising dan publishing.

Penyuntingan (Editing) yaitu langkah perbaikan draf naskah berdasarkan pedoman yang berlaku. Pada tahapan ini membahas tentang membaca ulang dan menyempurnakan draf.

Kegiatan penyempurnaan draf ini dapat dilakukan melalui:

1.  Teknik penulisan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Berdasarkan PUEBI tahun 2016, teknik penyuntingan naskah dilakukan berdasarkan:   Pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan.

2.   Sistematika penulisan

3.   Isi tulisan

 

Revisi (Revising) yaitu langkah memperbaiki naskah. Tahapan ini membahas tentang : mengubah beberapa bagian naskah, melengkapi naskah dan mengevaluasi Kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulisan. Dalam melengkapi naskah yang dilakukan adalah: menambahi materi yang diperlukan tapi belum terdapat di dalam naskah serta menghapus beberapa bagian tulisan yang dianggap tidak perlu.

 

Publikasi (Publishing) yaitu langkah mempublikasikan karya/tulisan. Tahapan ini membahas tentang: pengiriman naskah, pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading), pencetakan serta promosi dan distribusi.

 

Dalam mengirimkan naskah, penulis perlu mengetahui alur penerbitan agar bisa memilih jalur penerbitan yang sesuai dengan pilihannya. Dalam hal ini, ada dua  jalur penerbitan yang bisa dipilih,yaitu:

1.      Major Publishing (penerbit umum)

2.      Self Publishing (penerbit indefenden)

 

Proses pracetak dilakukan setelah naskah selesai dan sudah dilakukan proses penyuntingan. Prosesi ini meliputi perwajahan buku (cover), tata letak (layout), pengurusan ISBN (international standard book number). Proses ini melibatkan pihak lain. Penulis bisa meminta bantuan desainer untuk membuat cover buku. Untuk membantu desainer membuat sampul (cover), diperlukan sinopsis. Sinopsis ini memuat judul buku, pengarang, ringkasan isi buku.

 

Proses cetak merupakan proses akhir dalam penulisan buku. Ada beberapa alternatif pencetakan buku, melalui penerbit mayor atau penerbit indie. Produknya juga bisa berbentuk cetak maupun digital. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

 

Selanjutnya, buku yang tercetak memerlukan proses promosi serta distribusi. Promosi bisa dilakukan melalui media social (Facebook, Instagram, WhatsApp,atau yang lainnya). Promosi juga bisa dilakukan melalui resensi buku di media cetak seperti koran, majalah, bulletin, selebaran, bedah buku, seminar, talk show atau lainnya.

 

Setelah semua terbahas tuntas, Bu Aam selaku moderator memadu sesi tanya jawab. Sungguh sangat luar biasa antusiasme peserta sampai akhirnya waktu pun melebihi sekitar satu jam dari waktu yang telah ditentukan. Tentu saja hal tersebut dikarenakan para peserta merasa haus untuk belajar dan menemukan narasumber yang pas untuk bisa menghilangkan dahaga mereka akan balajar menulis.

 

Dipenghujung acara Bu Kanjeng melakukan closing statement dengan seruan “Ayo Jadikan Menulis Sebagai Passion. Kumpulkan semua ide yang gentayangan di sekitar kita. Tulisan yang sudah ada dan berserakan di medsos, di laptop yang nganggur, segera di eksekusi dan diskusikan dengan Narasumber”.

 

Apresiasi yang sangat positif dan luar biasa dari kami semua atas terselenggaranya kelas  belajar menulis ini, sungguh sangat bermanfaat. Terimakasih kami haturkan untuk Tim Om Jay dan kelas belajar menulis. Tuntas sudah kelas belajar di malam pertama ini dengan ditutup kembali oleh Om Jay. 

Kamis, 08 Juli 2021

PUISI UNTUK BUAH HATI

 

Beratinya Dirimu Sang Buah Hati

Oleh: Irma Suzilawati

 

Rintihan lirih tersenggal

Derai airmata menyertai isak tangis

Mengerang dan meronta

Ibumu ini melepas hadirmu ke dunia

 

Seketika seluruh rasa sakitpun sirna

Nestapa berakhir bahagia

Kala sosok mungilmu lahir

Kau buah hatiku

 

Hadirmu pemusnah sepi

Tangismu menyibukkan waktuku untuk nyaman memanjamu

Senyumanmu meluluhlantakan seluruh lelahku

Rona wajahmu yang lucu membuatku selalu merindu

 

Andai saja kau tau

Betapa berartinya dirimu

Hingga tak ada hal lain yang lebih penting bagi seorang ibu

Sekalipun hembusan nafas terakhir rela dipersembahkan untukmu

 Sukabumi, 16 Mei 2021



Kasih Ibu Sepanjang Masa

Oleh: Irma Suzilawati

 

Anakku

Ibumu ini yang memuja hadirmu

Memanja hari-harimu

Dan senantiasa mendoa bahagiamu

 

Tak rela hati ini melihat murammu

Tak kuasa diri bila menyaksikan sedihmu

Tak sanggup batin jikalau kau menderita

Rahayulah hidupmu

 

Kasih sayang tulus seorang ibu

Menyertai tumbuh kembang sang buah hati

Segenap upaya mengantarkan pada jalan penghidupan

Mendamba masamu mengukir senyuman hingga lelap tidur panjangku.

 Sukabumi, 16 Mei 2021

 


 Baktimu Bahagiaku

Oleh: Irma Suzilawati

 

Menatapmu kini haru rasa hati

Memelukmu kini bangga rasa diri

Syukurku pada ilahi

Karunia atas anak yang baik hati

 

Kerepotanku kala dulu terlupa

Lelahku terhempas tak bersisa

Baktimu pada kami

Orangtua yang kian menua

 

Kau bersimpuh berlinang air mata

Menatapku penuh kasih sayang

Bahagiaku tak terkira

Memiliki buah hati sepertimu

 

Anakku

Tetaplah rendah hati

Tetaplah menjadi diri sendiri

Jangan pernah melupa nasihat kami

Sukabumi, 16 Mei 2021

 


Pengharapan Seorang Ibu Tua

Oleh: Irma Suzilawati

 

Usiaku yang kini menua

Fisikku pun renta

Aktifitas kian jauh dari prima

Daya ingatku separuh demi separuh kini menjauh

Rasanya tinggal menanti sang waktu memanggil kembali

 

Anakku

Aku yang kian tak tertarik gemerlapnya dunia

Semakin muak akan pesona dunia maya

Hatiku sangat tajam menaruh harap

Mendamba sang buah hati selalu jadi pelipur diri

 

Sanggupkah kau meluangkan waktu untukku

Sanggupkah kau mengesampingkan ambisi duniawi demi mengurusiku

Sanggupkah kau berkorban banyak hal demi aku

Seperti kobaran kasih sayang seorang ibu yang tak akan pernah padam

Semoga kau membuat ibu tuamu ini teresenyum dipenghujung hayatnya

 Sukabumi, 16 Mei 2021

POTRET KEMEWAHAN HATI PENEBAR INSPIRASI

 

POTRET KEMEWAHAN HATI PENEBAR INSPIRASI

Oleh: Irma Suzilawati

 

Semenjak aku lahir di dunia ini, sosok pertama dan yang utama aku kenal adalah sosok ibuku. Sosok yang senantiasa menemaniku dan mengurusiku dengan penuh ketelatenan tanpa mengenal lelah. Aku semakin meneladaninya saat seiring waktu aku berpsoses, aku kian menikmati seluruh curahan kasih sayang tulus yang dia berikan.

Sosok sederhana tanpa balutan kemewahan, melekat dalam sosok seorang ibu rumah tangga yang hanya melakukan pekerjaan di ranah domestik. Setiap waktu hanya dia baktikan untuk membantu memenuhi kebutuhan orang-orang yang dia cintai. Hanya dengan riasan sederhana dan pakaian yang apa adanya, dialah yang justru memantaskan kami semua untuk bisa tampil baik dan menarik di luar sana. Terlebih lagi perlakuan itu dipersembahkan special untuk ayahku.

Saat kami semua terbangun, seluruh isi rumah sudah terlihat rapi dan harumnya aroma masakan ibu pun sudah tercium dari arah meja makan. Semua keperluan kami sudah ibu siapkan. Senyum lebar penuh ketulusan selalu menghiasi raut wajah ibu yang nampak cantik alamiah. Pancaran kebaikannya selalu aku agungkan. Ibu adalah sosok yang selalu mebuatku merasa nyaman berada di dekatnya.

Seusai jam sekolah, rumah adalah tempat yang ingin segera aku tuju. Aku disambut dengan sapaan lembut dan pertanyaan – pertanyaan kecil tentang apa saja yang terjadi saat tadi aku disekolah. Ibu pun menemani aku makan dan selalu memastikan kalau aku makan dengan begitu lahap. Itulah ibuku yang selalu membuatku bangga karenanya.

Menemani seluruh proses tumbuh kembangku, adalah hal yang selalu membuatku semakin sadar kalau ibu adalah sosok yang luar biasa. Semua hal yang aku lakukan tak lepas dari pantauannya. Hal paling dasar ibu ajarkan adalah pondasi ilmu agama. Di sekolah madrasah yang aku ikuti, pembelajaran sangat dibatasi oleh waktu. Dan ibulah sosok yang setiap harinya mengajariku. Seusai mengaji biasanya aku di temani dan diajari belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ibu adalah orang yang selalu ada disampingku dan tak pernah meninggalkanku.

Ayahku seorang tentara yang juga senang sekali nyambi berbisnis. Sehingga separuh banyak waktunya dihabiskan diluar rumah. Ayahku termasuk orang yang kurang peka dan cuek pada kami. Tapi ibuku selalu membelanya. Saat aku mempertanyakan hal itu, ibu pasti bilang,

“ Ayahmu orang baik, hanya saja tempaan yang ayah lewati dalam pendidikan militer membuat sikapnya tegas dan terkesan cuek seperti itu, nak “

Aku berujung terdiam saja mendengar ibuku mengutarakan berbagai alasan agar aku menganggap ayah sosok yang baik.

            Ibu merupakan sosok yang tulus dan sangat setia mendampingi ayah. Keperluan ayah merupakan hal yang paling utama bagi ibu. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, takkan pernah luput dari peran ibu dalam mengurusinya. Dari mulai menyiapkan air mandi hangat, menyiapkan baju yang akan ayah pakai, bahkan terkadang ibu membantu ayah mengenakan pakaian tersebut. Sungguh tuntunan nilai yang luar biasa yang ibu coba ajarkan semenjak aku mampu memahami apa yang aku lihat dari cara ibu memperlakukan ayah.

Saat kecil, terlintas dibenakku rasa heran saat aku melihat ibuku sering kedapati menangis sambil bersembunyi di dalam kamarnya. Sampai akhirnya aku beranjak remaja dan mulai memahami semuanya. Beban yang ibuku pikul selama ini. Raut wajah yang senantiasa tersenyum itu, ternyata menyembunyikan kemelut yang begitu mendalam. Menahan kesedihan serta membungkam keluhan demi membuatku bahagia dan tak kehilangan sosok ayah, itulah harapannya.

Tabir itu terbuka disaat aku beranjak remaja. Kala itu adik perempuanku satu-satunya berumur sekitar dua tahun. Tiba-tiba ibu membawa seorang bayi kecil yang usianya terpaut kurang dari satu tahun dibawah adikku ke dalam rumah kami dan membelai-belainya dengan tatapan penuh iba. Rasanya kaget luarbiasa saat mengetahui kalau bayi itu adalah bayi wanita simpanan ayahku. Ibuku mengambilnya dari orang lain yang dititipi, karena ibunya meninggalkannya untuk pergi jauh. Hatiku bergumam dengan penuh rasa heran dan meneteskan air mata, tak sanggup melihat ketabahan ibuku. Dengan begitu tegarnya ibuku berkata,

 “ Adik bayi ini pun adikmu, jadi kamu harus menyayanginya dengan tulus. Dia bayi laki-laki kecil yang lucu. Jangan abaikan dia ya, karena dia tak punya salah apa-apa”

Aku hanya bisa memeluk ibuku yang begitu aku sayangi, tanpa sanggup membantahnya.

Sampai suatu hari, ibuku terpuruk karena adik kandungku meninggal dunia. Dan disaat yang sama ayahku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, dia hanya sanggup berpikir untuk dirinya sendiri dan lagi-lagi gak pernah fokus mengurusi kami semua termasuk anaknya dari perempuan itu. Bersyukur kondisi keterpurukan ibu tak berlangsung lama. Ibu segera bangkit dan berupaya fokus mengurusi adik tiriku yang masih bayi itu. Dengan begitu tegarnya ibu menjalani semua perjalanan ini. Lagi-lagi aku mendengarkan suara hati ibu yang begitu tulus dan sabar,

“Adik kandungmu memang telah pergi, kita harus sanggup mengikhlaskannya. Mungkin kehadiran bayi ini sudah Allah kirimkan pada kita untuk dapat menegarkan kita, biar tak merasa kesepian atas kepergiannya.”

Penggalan-penggalan kisah yang selalu memberikanku sebuah cara pandang yang unik atas dasar kebaikan hati.

Adik kecil itu kini kian besar dan terlihat bahagia dalam asuhan ibuku. Tak pernah terlihat perlakuan yang berbeda yang ibu perlihatkan pada kamj berdua. Tumbuh kembangnya pun nyaris tak pernah menyisakan sedih. Bahkan sepertinya ia tak pernah menyadari kalau ibu yang mengasuhnya kini bukanlah ibu kandungnya, karena ibu mengurisinya sama seperti mengurusiku saat aku kecil.

Belum usai sampai disini pengorbanan ibuku. Kisah hidupnya yang meyedihkan itu sepertinya belulang kembali. Tapi saat itu aku sudah beranjak dewasa sehingga ibu merasa sudah bisa berbagi keluh kesah denganku. Hingga berakhirlah kisah rumah tangga ibu dan ayahku di meja hijau, karena ibupun sudah tak sanggup mempertahankannya lagi.

Aku yang sedang duduk dibangku kuliah harus berjuang membiayai diriku sendiri dan juga memikirkan kehidupan ibuku. Fase dimana aku dituntut dewasa oleh keadaan. Masa sulit itu rasanya tak berat bagiku untuk melewatinya. Doa ibuku dan nasihatnya yang selalu membangkitkan semangatku, membuatku mampu menyelesaikan gelar sarjanaku. Sugesti yang luar biasa ibu tanamkan padaku untuk menunjukan pada semua orang bahwa aku takkan pernah terpuruk dalam kondisi, apalagi sampai harus menyerah. Aku harus berhasil sekalipun tanpa sosok ayah.

Ibu selalu menguatkanku dalam setiap kebimbangan dan kegelisahan hidupku. Mentalku kian kuat dalam menghadapi segala persoalan yang mesti aku lalui. Ibu mengajariku untuk  membiarkan saat ada orang lain yang mengeroposi keyakinanku untuk bangkit, dan mengabaikan perkataan yang tak semestinya aku dengarkan. Bersabar disertai doa dan menjadikannya pelecutku untuk aku berhasil. Hadapi semua persoalan dengan senyuman tanpa keluhan. Dan aku melewati hari-hari itu dengan semangat untuk membahagiakan ibu dan adikku.

Tahun demi tahun berlalu. Kehidupan kamipun telah banyak berubah. Aku yang telah melewati fase-fase dalam hidup. Berumah tangga, memiliki dua orang anak dan memiliki kehidupan yang cerah dari kacamata duniawi. Begitupun adikku yang sudah mulai menapaki karirnya di dunia kerja. Kesuksesan yang ibu harapkan dariku sudah aku wujudkan, tentunya berkat doa dari ibu. Terjawablah sudah, perjuangan sulitku dulu kini menuai hasilnya. Aku Bahagia melihat sang inspirasi hidupku bahagia. Dialah ibuku.

Nalarku kadangkala memaksaku memberontak untuk kembali menilik masa lalu. Imajinasi memanggilku dalam penggalan-penggalan kisah yang terpotret jelas dalam keseharian ibuku dulu. Ayahku yang dia perlakuakan bagaikan raja, yang senantiasa dilakoninya hanya untuk mengabdikan dirinya atas nama kewajiban. Ternyata adalah sosok yang justru sering kali membuat ibu menangis dibelakang kami saat itu.

Pembelajaran besar dari penggalan kisah hati kedua orangtuaku nampak hingga kini. Pusara ayah selalu ibu rawat dengan sangat baik, meskipun mereka bukan lagi pasangan suami istri.  Diakhir hidupnya ayah merupakan sosok yang baik, yang telah menyadari sangat menyesal menyia-nyiakan ibu. Kelembutan hati ibu mampu menyadarkan ayah akan semua kebaikan yang ibu lakukan selama ini. Saat meninggal dunia, ayah meninggalkan satu lagi anak laki-laki dari ibu yang berbeda ke pangkuan ibuku. Lagi-lagi ibu anak itupun pergi meninggalnya. Kini saatnya akulah yang  menggantikan posisi ibu untuk merawatnya, dan belajar memahami cara pandang ibu dalam memaknai proses hidup.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan bukan wanita karir seperti ibu-ibu diluar sana yang dinilai hebat karena prestasinya yang gemilang atau kedudukannya yang tinggi. Tapi dimataku ibu merupakan sosok inspiratif yang membuatku selalu bangga dengan apa adanya dia. Dia yang kuat, tulus, sabar, penyayang dan sanggup menjadikan orang-orang yang disekitarnya menjadi pribadi yang baik. Cara pandangnya mengajarkan banyak hal tentang arti kehidupan. Ibuku adalah pelita sejati yang kobarannya tak pernah padam, selanggeng kasih sayang tulusnya pada kami. Sebuah potret kemewahan hati yang menebar inspirasi bagi kami jiwa-jiwa yang tumbuh dalam asuhannya.