Oleh : Irma Suzilawati, S.Sos.,
M.M.
Calon Guru Penggerak Angkatan 6 (SMAN I Cikembar Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat)
Tujuan Pembelajaran
Khusus:
CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
Perkenalkan nama saya Irma Suzilawati, S.Sos., M.M. , instansi SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Saya adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 6 tahun 2022. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.
Gambar bangunan diatas menjadi
sebuah simbol bahwa sekolah merupakan ‘institusi moral’, yang dirancang untuk
mengajarkan norma-norma sosial melalui proses-proses pembelajaran dan tempaan
didalamnya. Pendidik adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil
pelajar Pancasila. Melalui keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan
merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan
menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Dan nyatanya,
dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan
implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang
mengakomodasi seluruh kepentingan para pemangku kepentingan.
Marilah kita cermati
sejenak, pahami dan resapi kalimat dibawah ini!
“ Mengajarkan anak menghitung itu baik,
namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)
Pendidikan
adalah suatu proses yang sistematis dan terencana, bukan hanya sekedar
mengajarkan murid tentang teori/materi/konten namun bagaimana semua itu dapat berdampak
pada perilaku dan karakter mereka.
“Orang beradab sudah pasti berilmu, tetapi orang berilmu belum tentu
beradab”. Kalimat tersebut menegaskan bahwa ilmu yang baik dilandasi oleh nilai-nilai
karakter yang baik pula. Hal tersebut sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan
adalah menuntun segala kodrat pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun
sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, anak tidak hanya diajarkan tentang
ilmu pengetahuan, namun ada hal yang lebih penting dan terbaik untuk diajarkan
kepada mereka yaitu sesuatu yang sangat berharga bagi mereka seperti budi
pekerti yang meliputi olah cipta rasa karsa dan raga. Selain itu anak juga
perlu diajarkan apa yang berharga menurut mereka, sesuai minat dan bakat yang
ada. Kita hanya perlu menebalkan tulisan yang sudah ada, dan menuntun anak-anak
menuju kodrat mereka.
Kita
sebagai pendidik harus mampu berkontribusi bagi peserta didik, setiap keputusan
yang kita ambil harus berpihak kepada murid dengan dilandasi nilai-nilai
kebajikan. Pendidik berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan keteladanan. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut
dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak yang luar biasa pada
lingkungan sekitar kita. Keputusan yang akan kita ambil sesuai dengan
kaidah-kaidah yang harus dilaksanakan dalam pengambilan dan pengujian
keputusan. Keputusan harus mewujudkan keputusan yang tepat dan bijak, serta
dapat dipertanggungjawabkan dan mengakomodasi sebagian besar keinginan dari
orang-orang di sekitar kita. Sebagai seorang pemimpin kita tidak boleh egois
dengan memaksakan keputusan kita pada orang lain, tetapi dalam mengambil
keputusan harus berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan yang diajarkan pada modul 3.1 ini.
InsyaAllah keputusan yang kita ambil berdasarkan nilai-nilai atau
prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan akan
memberikan dampak yang jauh lebih baik pada lingkungan kita, sehingga
lingkungan kita akan terasa lebih nyaman dan lebih semangat untuk sebuah
perubahan yang lebih baik di lingkungan kita.
Hal tersebut sejalan dengan kalimat bijak berikut ini,
“ Pendidikan adalah sebuah seni untuk
membuat manusia menjadi berperilaku etis.” (Georg Wilhelm
Friedrich Hegel).
Dalam
kalimat tersebut, tersirat pemaknaan bahwa pendidikan merupakan suatu proses
menuntun siswa dengan penguatan karakter , norma -norma sehingga akan
menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk
menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan
saat ini yang kita poles seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai
negeri ini di masa depan.
Mengambil
keputusan merupakan sebuah keterampilan. Dalam mewujudkan keterampilan yang
lebih baik, maka harus didukung dengan keterampilan lainnya untuk memperoleh
hasil yang lebih maksimal. Pengambilan
keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik.
Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin terampil dalam
pengambilan keputusan. Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah
sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai
kebajikan universal. Keterampilan dalam mengambil keputusan ini dapat didukung
dengan keterampilan lainnya, seperti; keterampilan coaching, kompetensi kesadaran diri (self awareness),
pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social
awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship
skills). Proses pengambilan keputusan juga harus dilakukan dengan kesadaran
penuh (mindful).
Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran
(Koneksi Antar Materi)
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan Penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Pratap Triloka KHD yang dikenal
dengan Ing Ngarso Sung Thulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, dan Tut Wuri
Handayani, menjadi sangat relevan untuk dijadikan landasan dalam mengambil
sebuah keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Karena
sejatinya seorang guru adalah penuntun yang tugasnya adalah menuntun kodrat
anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya agar anak tidak kehilangan arah
dan membahayakan dirinya. Makna kata “Penuntun”, dapat dipahami sebagai
“Pemimpin Pembelajaran”, yang berpusat pada murid.
Berlandaskan filosofi Pratap Triloka KHD dalam
pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada BUDI
PEKERTI. BUDI (cipta, rasa, karsa) dan PEKERTI (tenaga/raga) harus seimbang dan
holistik. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. Semua
disiplin ilmu dan pengambllan keputun harus menuju kepada KEBIJAKSANAAN.
Menurut KHD, semua yang kita lakukan di bidang pendidikan harus berorientasi
kepada murid. Atau bahasa lain yang digunakan KHD adalah " Bebas dari
segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta
sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak".
Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi contoh dan tauladan bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih memperhatikan kepentingan muridnya.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Jika dalam diri kita telah tertanam nilai-nilai kebajikan maka sangat akan berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan , karena suatu kasus yang kita alami tidaklah selalu sama, maka dengan nilai baik dalam diri, kita dapat berpikir dengan matang, apa prinsip yang tepat untuk suatu kasus tersebut. Baik (berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan dan berpikir berbasis rasa peduli). Sehingga keputusan yang kita putuskan dapat menjadi solusi yang terbaik bagi Murid. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita.
Sebagai Calon Guru Penggerak,
tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri,
reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Ketika kita
menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang
bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan,
persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.
Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan nilai-nilai atau prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan/keberpihakan pada anak didik kita.
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Keterampilan coaching sudah sangat
efektif untuk mendukung keterampilan dalam mengambil keputusan. Dengan berpijak
pada nilai- nilai kebajikan ketika menghadapi delima etika, baik secara;
individu lawan kelompok, rasa keadailan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan
kesetiaan, jangka pendek lawan jangka panjang dan juga berpedoman pada tiga
prinsip pengambilan keputusan, serta menguji keputusan yang diambil dengan
sembilan konsep langkah pengambilan keputusan. Kemudian ditambah lagi dengan
kemampuan coaching yang kita miliki, maka pengambilan keputusan yang kita
lakukan akan menghasilkan suatu keputusan yang tepat dan bijak untuk
kepentingan bersama dan perubahan yang lebih baik.
Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee dalam menemukan solusi dan menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TIRTA).
Menilik kembali filosofi Ki Hajar Dewantara tentang peran utama guru (Pamong/Pedagog), maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Pendekatan coaching sistem among dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA yang merupakan kepanjangan dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab. Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. kita, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan. Tugas guru adalah menuntun atau membantu murid (coachee) menyadari bahwa mereka mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat perkembangan potensi dalam dirinya. Hal ini selaras dengan Tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka.
Pendekatan coaching model TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak. Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.
Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yg muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional, sangat berpengaruh terhadap suatu keputusan delima etika, karena dengan kompetensi sosial emosional, maka akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dan dalam mengambil keputusan yang tidak akan terburu-buru, penuh dengan pertimbangan secara sosial serta tidak berdasarkan asumsi pribadi dengan mengelola emosi diri.
Diperlukan kompetensi kesadaran
diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial
(social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills)
untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah
kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait
dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar
etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).
Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Menurut banyak penelitian, dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stres, dan munculnya perasaan tenang dan stabil. Dengan latihan berkesadaran penuh, maka seseorang dapat menumbuhkan perasaan yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih, yang akan berpengaruh pada keputusan yang lebih responsif dan reflektif.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Sebagai seorang pendidik seringkali kita dihadapkan pada suatu keadaan di mana kita harus mengambil sebuah keputusan sulit. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya itu lebih berupa bujukan moral.
"Etika terkait dengan karsa
karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia
yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki
kesadaran moral." (Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika
Pendidikan, hal. 43).
Dari kutipan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Ketika Guru berhadapan dengan kasus-kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, maka nilai-nilai diri yang dianut dan yang paling dihargai oleh seorang pendidik akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak .
Selama ini pada saat mengambil keputusan, landasan pemikiran kita memiliki kecenderungan pada prinsip :
- Melakukan, demi kebaikan orang banyak.;
- Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri kita;
- Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda.
Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Seorang pemimpin pembelajaran harus selalu melihat apa nilai – nilai yang harus diterapkan sebagai seorang pendidik. Sehingga keputusan apapun yang diambil dapat berpihak kepada murid, demi kebaikan murid.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.
Sebagai upaya pengambilan
keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman dapat dilakukan dengan bebrapa tahap berikut, yaitu :
- Mengidentifikasi jenis-jenis paradigma
dilema etika yang sesui dari suatu kasus
- Memilih
dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan
dalam dilema pengambilan keputusan.
- Menerapkan
9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema
etika
- bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut
Pengambilan keputusan bukanlah hal yang mudah, tapi itu semua merupakan tantangan yang membutuhkan strategi serta kecakapan dalam melaluinya. Tantangan yang paling terasa berat adalah saat saya harus mengambil keputusan sendiri untuk masalah/kasus pribadi saya sebagai pendidik. Sementara tantangan yang biasa dialami di lingkungan kerja saya dalam pengambilan keputusan delima etika adalah terkadang pengambilan keputusan tidak dimusyawarahkan terlebih dahulu atau tanpa meminta saran dan pandangan dari berbagai pihak. Disamping itu, karena lembaga sekolah merupakan suatu lembaga yang sangat kental dengan kekeluargaan, maka rasa kasihan dan kesetiaan akan mendominasi dalam kasus dilema etika, sehingga keadilan dan kebenaran terkadang agak terabaikan.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Kewajiban kita sebagai seorang pemimpin pembelajaran adalah setiap pengambilan keputusan haruslah berdampak baik pada pengajaran yang memerdekakan murid kita. Tentunya hal tersebuat dapat kita lakukan dalam memutuskan pembelajaran yang akan kita lakukan terhadap murid kita yang beragam potensi, karakteristik serta kebutuhannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tetap menyampikan pembelajaran sesuai dengan konten materi sesuai pembahasan pembahasan, namun tetap memperhatikan perbedaan potensi murid dalam penyampaian tugas, sesuaikan degan kemampuan individu murid, yang dapat kita lihat dari hasil asesmen sebelumnya. Metode pembelajaran berdiferensiasi sangat membantu dalam memutuskan pembelajaran yang tepat dalam menghadapi murid kita yang berbeda-beda.
Hal tersebut sejalan dengan apa yang di sampaikan bapak Mendikbud kita, "Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan transformasional, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" (Nadiem Makarim, 2020)
Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Setiap hal yang diputuskan seorang pemimpin pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan maupun masa depan murid-murid. Apabila seorang pemimpin pembelajaran dipandang salah dalam mengambil sebuah keputusan atau salah dalam memberikan penjelasan dan pembelajaran pada siswa, maka hal itu akan selalu terekam dalam benak murid. Lalu apa bila kita salah dalam memutuskan suatu masalah atau kasus yang dilakukan murid, jika kita tidak memeperhatikan nilai-nilai kebajikan, empat paradigma dilema etika, tiga prinsip pengambilan keputusan serta sembilan langkah pengujian keputusan, maka akan menjadi suatu keputusan yang gagal dan dapat berpengaruh terhadap masa depan murid. Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Guru sebagai pendidik yang peran utamanya adalah "menuntun" segala kodrat yang dimiliki oleh anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya, agar anak meraih kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun, guru berperan sebagai pamong, yang mengedepankan azaz pratap trikolaka ing ngarso sung thulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani dalam kepemimpinannya di pembelajaran. Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada BUDI PEKERTI anak. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. Semua disiplin ilmu dan pengambilan keputun harus menuju kepada KEBIJAKSANAAN.
Dibutuhkan nilai-nilai kebajikan agar setiap keputusan yang diambil oleh guru merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita. Selain itu terdapat nilai khusus bagi Calon guru Penggerak yang akan menjadi role model bagi murid yaitu: mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak .
Selain itu, diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL). Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindful), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Karena di dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stres, dan munculnya perasaan tenang dan stabil. Dengan latihan berkesadaran penuh, maka seseorang dapat menumbuhkan perasaan yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih, yang akan berpengaruh pada keputusan yang lebih responsif dan reflektif.
Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.
Sebagai upaya pengambilan
keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman dapat dilakukan dengan bebrapa tahap berikut, yaitu :
- Mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang sesui dari suatu kasus
- Memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan.
- Menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika
- Bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut
Karena itu, dibutuhkan
keterampilan Kepemimpinan Pendukung Pemimpin Pembelajaran, diantaranya,
adalah sebagai berikut :
- Pengetahuan diri
- Manajemen Waktu dan Kehidupan
- Agen Perubahan
- Tujuan dan Usaha Bersama
- Pengambilan Keputusan Beretika
- Pengaruh Komunikasi Persuasif
- Budaya Iklim Komunitas
- Transisi Kepemimpinan dan Perencanaan
Suksesi
- Arahan yang Jelas dan Tegas
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika
harus memilih antara dua pilihan (benar vs benar). Sedangkan bujukan
moral adalah situasi ketika seseorang harus mengambil keputusan antara (benar
vs salah). Dari pengalaman kita bekerja pada institusi pendidikan, kita
sering dihadapkan pada bujukan moral dan dilema etika. Pada kondisi bujukan
moral, kita pasti dapat berpegang pada aturan dan norma yang berlaku, karena
dalam bujukan moral pilihan yang ada adalah salah dan benar. Akan tetapi,
berbeda halnya jika kita dihadapkan pada situasi dilema etika, dimana kita
dihadapkan pada sebuah kondisi yang sulit dan membingungkan, karena harus
menghadapi hal yang sama-sama benar. Sebagai contoh ketika kita menghadapi
situasi dilema etika, yaitu situasi yang bertentangan seperti cinta dan kasih
sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab
dan penghargaan akan hidup.
Situasi-situasi tersebut menepatkan kita pada paradigma dilema etika seperti berikut ini:
- Paradigma individu melawan masyarakat (individu vs community); yaitu konflik yang terajdi untuk membuat pilihan antara kepentingan pribadi atau kelompok kecil dengan kepentingan orang lain atau kelompok yang lebih besar.
- Paradigma keadilan melawan rasa kasihan (Justice vs mercy); pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan pelakukan yang sama bagi semua orang atau membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang. Terkadang diperlukan untuk memegang teguh peraturan, akan tetapi, kita pun terkadang perlu membuat pengecualian untuk hal yang benar dan manusiawi.
- Paradigma kebenaran mealawan kesetiaan (truth vs loyalty). Pada paradigma ini kita ditempatkan pada situasi untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia sebagai rasa tanggung jawab kita kepada orang lain. Apakah kita akan berlaku jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
- Paradigma jangka pendek melawan jangka panjang (short term vs long term) pada paradigma ini kita ditempatkan pada pilihan antara yang nampak terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.
Disaat dilema
etika seringkali membuat kita sulit untuk mengambil keputusan, kita juga dapat
merujuk keputusan yang kita ambil berdasarkan pada prinsip-prinsip pengambilan
keputusan berikut ini:
- Melakukan demi kebaikan orang banyak atau yang kita kenal dengan Berpikir Berbasis pada Hasil Akhir (Ends Based Thinking).
- Menjunjung tinggi nilai-nilai pada prinsip dalam diri atau yang sering kita sebut dengan Berpikir Berbasis Peraturan (Rules Based Thinking).
- Melakukan apa yang kita harapkan orang lain lakukan pada diri kita atau kita kenal dengan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Cares Based Thinking).
- Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangna dalam situasi, dengan cara mengidentifikasi dan menyaring masalah yang berhubungan dengan etika sopan satun dan norma sosial.
- Tentukan siapa saja pihak yang terlibat dalam situasi tersebut.
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan, dalam hal ini kita dapat menggunakan salah satu teknik Coaching dan Kompetensi Sosial Emosi Teknik STOP.
- Pengujian Benar atau Salah, dalam hal ini dapat dilakukan menggunakan uji legal, uji regulasi atau standar profesional, uji intuisi, uji halaman depan, dan uji panutan atau idola.
- Pengujian menggunakan empat paradigma benar lawan benar.
- Melakukan prinsip resolusi dengan menggunakan 3 (tiga) prinsip pengambilan keputusan, yaitu berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, dan berbasis rasa peduli.
- Investigasi opsi trilema, yaitu munculnya sebuah gagasan baru yang kreatif saat kebingungan dalam pengambilan keputusan.
- Buat keputusan
- Lihat keputusan dan refleksikan, dalam hal ini salah satu langkah yang dapat kita gunakan adalah teknik IA (Inquiry Apresiatif) menggunakan konsep BAGJA yang berarti Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, dan Atur Ekseskusi
Keputusan yang tepat dan bijaksana, khususnya dalam dunia pendidikan diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang kompeten dan berkarakter Bersama kita wujudkan merdeka belajar yang berkualitas. Setelah mempelajari modul 3.1. ini saya menemukan hal-hal yang diluar dugaan saya dan sekaligus menambah khazanah keilmuan saya dalam keterampilan mengambil sebuah keputusan. Mempelajari teori di modul ini, membuat saya semakin paham dan tersadar akan kebermanfaatan dan dampak keputusan yang diambil.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Pernah bahkan sering, namun saya hanya melakukan pengambilan keputusan berdasar pada pertimbangan pribadi serta masukan dan saran orang lain, yang mengalir begitu saja agar persoalan terselesaikan. Setelah mempelajari modul 3.1 ini, ada perbedaan dan kemajuan yang signifikan, karena pengambilan keputusan merupakan keterampilan yang memiliki unsur teori, paradigma , prinsip, konsep dan pengujian dalam pengambialan keputusan. Bahkan pengambilan keputusan yang tepat dan bijaksana, juga perlu didukung dengan keterampilan lainnya sesuai kasus yang dihadapi.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Setelah mempelajari modul 3.1 ini, dampaknya sangat besar bagi saya. Merubah cara pandang saya dalam membuat sebuah keputusan, terutama mendukung kemampuan saya sebagai pemimpin pembelajaran . Tujuan utama dari pembelajaran ini adalah dapat mengarahkan murid menuju masa depan mereka yang merdeka dalam belajar melalui keputusan yang tepat. Ke depannya, setelah mempelajari modul 3.1 ini dalam mengambil keputusan sudah tentu harus berdasarkan paradigma, prinsip dan langkah yang sudah ditentukan demi tercapainya sebuah keputusan yang bijaksana dan berpihak pada murid.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Topik modul 3.1 ini sangat penting untuk dipelajari dan juga diimplementasikan. Sebagai Individu yang hidup di lingkungan keluarga, tempat kerja dan masyarakat, tentunya saya ada kalanya dihadapkan pada situasi dilema etika dan bujukan moral. Hal tersebut harus dapat saya selesaikan dengan pengambilan keputusan yang berdasar pada nilai-nilai kebajikan. Tentunya melalui proses identifikasi masalah yang dianalisa berdasarkan kaidah keilmuan/ teori seperti yang saya pelajari. Begitu pula sebagai pemimpin pembelajaran, yang menghadapi kondisi murid-murid dengan berbagai latar belakang, karakterisik serta kebutuhan yang berbeda.


pemaparan yang sangat luar biasa bu irma
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSangat bermanfaat sekali ibu.
BalasHapusAlhamdulillah, terimaksih pa ari
HapusPembahasan yang menginspirasi sekali Bu Irma
BalasHapusTulisan-tulisan Bu Irma selalu menarik, enak dibaca, detail, dan fokus pada permasalah. Top dualas jempol buat ibu. Ditunggu tulisan berikutnya ya bu.
BalasHapusTerimakasih atas motivasinya pa bagus
BalasHapus